
RAPIJALI: Mengapa Serial?
March 4, 2021
Kelas Kuncie: Dasar Menulis Fiksi
June 25, 2022Jika harus memilih satu buku tentang seni bercerita yang sangat berpengaruh dan berguna bagi saya hingga detik ini, tanpa ragu saya akan menyebutkan buku Save The Cat! dari Blake Snyder.
Perkenalan pertama saya dengan Save the Cat! dan metode 15 Beats berawal dari kebutuhan saya untuk menulis skenario. Tahun 2010-2011 saya menggarap skenario film layar lebar pertama saya, sebuah adaptasi dari novel saya sendiri, yakni Perahu Kertas. Saya sadar, saya memasuki teritori baru. Meski berbagi banyak prinsip dasar serupa, penulisan skenario membutuhkan mindset dan cara eksekusi yang berbeda dengan penulisan fiksi biasa. Untuk itu, saya harus menjadi wadah kosong dan belajar lagi dari nol.
Banyak buku penulisan skenario yang saya beli dan baca saat itu. Namun, saya mendapati buku Save the Cat!-lah yang paling mencerahkan. Dengan penjelasan renyah, runut, dan humoris, Blake Snyder membuka mata saya tentang pilar-pilar penting penyangga cerita, dengan kata lain: struktur.
Pada awal-awal saya menulis, saya tidak tertarik, bahkan cenderung antipati dengan istilah “kerangka cerita”. Kemungkinan besar hal itu disebabkan oleh faktor pelajaran menulis di sekolah. Saya hobi menulis sejak kecil, tetapi tidak pernah suka pelajaran menulis di sekolah. Selain pilihan-pilihan tema yang membosankan, kewajiban memakai kerangka cerita menjadi belenggu yang membuat saya tambah alergi. Sebelum berkenalan dengan Save the Cat!, saya telah menerbitkan empat novel dan dua kumpulan cerita. Saya cukup percaya diri dengan kemampuan menulis saya yang tidak perlu dibantu oleh pengetahuan formal tentang teori struktur. So, why fix something that is not broken?
Di luar dugaan, pengalaman menulis skenario dan pengetahuan teori 15 Beats menjadi titik balik baru bagi saya. Kebutuhan struktur yang ketat pada skenario memaksa saya mengevaluasi ulang semua yang ketahui dan pratikkan sebagai seorang penulis fiksi. Saya menyadari, jika saya menguasai struktur dengan baik, level saya sebagai penulis akan naik kelas. Mempelajari struktur memang tidak lantas memperkaya metafora dan koleksi kalimat berbunga-bunga, tetapi penguasaan struktur memberikan fondasi solid untuk menjadi pencerita yang baik. Dan, itulah visi saya. Saya tidak pernah menargetkan diri menjadi penulis yang lihai bermain kalimat sastrawi. Visi saya adalah menjadi pencerita yang lihai. Struktur yang kuat adalah kunci dari storytelling yang jitu.
Sejak itu, saya tidak pernah lepas dari 15 Beats. Buku-buku saya setelahnya, mulai dari Partikel hingga yang terakhir, trilogi Rapijali, memakai teori struktur 15 Beats sebagai acuan. Tanpa 15 Beats, sukar rasanya menaklukkan plot panjang untuk novel-novel berukuran epik seperti Inteligensi Embun Pagi, Aroma Karsa, dan Rapijali. Acuan 15 Beats, lewat perhentian-perhentian plot yang tepat dan akurat, memungkinkan atensi dan kepedulian pembaca berhasil diikat rapat sepanjang cerita.
Struktur merupakan hal paling menantang dari penulisan novel. Ketika saya membaca banyak karya fiksi, seringkali kelemahan yang saya temui adalah absennya struktur yang ketat dan solid. Meski kalimat dan metafora mewah bertaburan di mana-mana, kelemahan struktur akan langsung terasa pada sebuah karya fiksi. Seperti halnya sebuah bangunan, keindahan dekorasi pada akhirnya tidak akan sanggup menambal kerapuhan struktur. Alangkah idealnya jika keindahan diksi dan permainan kata kita ditunjang oleh tulang belakang yang kukuh.
15 Beats sendiri bukanlah satu-satunya teori acuan struktur di luar sana. Ada banyak pilihan untuk kita pelajari. Namun, menurut saya, 15 Beats adalah teori struktur paling menantang. Lewat 15 Beats, Blake Snyder tidak menyisakan banyak ruang “santai”. Memastikan keberadaan 15 buah perhentian dalam cerita kita, dengan proporsi yang diatur sedemikian rupa, bukanlah pekerjaan mudah. Inilah acuan paling ketat dari semua teori struktur yang saya tahu. Sederhananya, jika Anda menguasai 15 Beats, Anda akan menguasai teori struktur yang lain dengan lebih gampang.
Saya ingat betul, upaya saya sembilan tahun lalu, tepatnya pada 2011, ketika menulis Partikel. Saya mengadaptasi 15 Beats dari penulisan skenario ke peta cerita yang saya susun, membuat proporsi dari jumlah halaman skenario ke wordcount novel, dan saya harus mengulangi prosedur yang sama setiap kali membuat novel. Karenanya, ketika Jessica Brody, salah satu murid Blake Snyder, mengadaptasi teori 15 Beats untuk diaplikasikan ke penulisan fiksi dalam bukunya Save the Cat! Writes a Novel: The Last Book on Novel Writing You’ll Ever Need, saya sangat berbahagia. Apalagi ketika mengetahui inisiatif Noura Books untuk menerjemahkan buku Jessica Brody tersebut ke dalam bahasa Indonesia, barangkali sayalah orang paling berbahagia dengan penerjemahan Save the Cat! Writes a Novel di negeri ini.
Dengan adanya buku Save the Cat! Writes a Novel dari Jessica Brody, pekerjaan para penulis niscaya bisa dimudahkan. Yang lebih penting lagi, dicerahkan. Jika Anda seperti saya, yang pernah trauma dan malas berurusan dengan struktur, sudah saatnya kita berhenti memusuhi kerangka cerita dan mulai merangkulnya sebagai kebutuhan utama. Setiap kali mengampu kelas menulis saya, Kaizen Writing, buku Save the Cat! Writes a Novel dari Jessica Brody saya tempatkan sebagai referensi sekelas primbon. 15 Beats adalah primbon. Buku ini adalah primbon.
Kuasailah struktur, maka Anda akan punya keleluasaan untuk berkreasi. Struktur bukanlah penjara. Struktur adalah tulang punggung yang memampukan Anda menaklukkan cerita demi cerita. Penguasaan struktur merupakan jantung dari seni bercerita.
Ketika semakin banyak penulis di negeri ini menguasai struktur, maka kita pun semakin kaya akan cerita-cerita tangguh yang dapat merebut hati pembaca, lentur untuk diadaptasi ke berbagai bentuk, dan lestari menghadapi zaman.
Buku ini adalah arsenal Anda sebagai pencerita. Manfaatkan sebaik-baiknya. Terapkan dengan tekun. Your story will thank you for it.
Save the Cat! Writes a Novel dari Jessica Brody sudah diterjemahkan oleh Noura Books dan bisa didapatkan di toko-toko buku kesayanganmu.

6 Comments
Thank you Dee for sharing this…
Love,
You’re most welcome.
Terimakasih Mbak Dee sudah berbagi akan pentingnya struktur cerita dan langsung memberikan sumber bacaan yang bisa membangunnya.
Terima kasih sama-sama. Senang jika terbantu.
Saya termasuk orang yang anti terhadap struktur, dulunya. Selama saya mengenal dunia menulis saat SMP, saya sok idealis, menganggap bisa menulis tanpa kerangka cerita. Let it flow. Sampai akhirnya cerita-cerita yang saya buat tak pernah menemukan muara. Selalu berakhir di tengah-tengah penggarapan. Saya berhenti menulis sejak beberapa draf saya gagal. Mengutuk diri sendiri bahwa saya tidak punya cukup kemampuan untuk menulis cerita yang baik–paling tidak menyelesaikannya. Lalu, awal tahun ini setelah tahun sebelumnya bergelut dengan skripsi, saya mencoba kembali memeluk hobi dan renjana saya untuk menulis. Mulai mencari tahu, apa sebenarnya yang sudah saya lewatkan sehingga saya selalu gagal di tengah-tengah penggarapan naskah? Lantas, saya melihat postingan Mbak Dee di IG. Barangkali kalau buku ini direkomendasikan oleh orang lain, saya tidak tertarik untuk kepo lebih jauh. Namun, karena ini rekomendasi langsung dari Mbak Dee, maka saya yakin, buku ini pastilah sangat bagus. Mulailah saya tertarik dengan buku Save the Cat! yang membahas 15 beat dalam penulisan cerita. Meski sampai saat ini, saya belum mampu beli bukunya, tetapi ada banyak ulasan yang saya baca, yang bahkan memberikan garis besar mengenai 15 beat itu. Berdasarkan itu semua, saya mulai mengaplikasikannya dalam pembuatan kerangka cerita saya, semoga kali ini tidak ada lagi ‘another draf gagal’. Kalaupun memang gagal lagi, mungkin saya harus segera memiliki bukunya.
Terima kasih, Mbak Dee!
Mbak Dee salam kenal n thanks sharingnya. Semoga jadi solusi lepas dari writer’s block. Haha…