
RAPIJALI
January 8, 2021
Save the Cat! Writes a Novel β Sebuah Apresiasi
November 30, 2021Penulisan Rapijali membawa saya ke banyak persimpangan kreatif. Antara setia pada setting tahun β90-an atau membawanya ke masa kini, antara jadi Tim Oding atau Tim Rakai, dan masih banyak βantaraβ lainnya. Ketika draf Rapijali rampung, saya seketika tahu Rapijali akan menjadi serial karena busur perubahan karakter utama belum mencapai finis. Saat itu, draf Rapijali berhenti pada titik 124.000 kata. Saya pun kembali menemui dilema, antara membiarkannya menjadi satu buku plus satu buku lanjutan (dwilogi), atau memecah draf menjadi dua buku plus satu buku lanjutan (trilogi).
Memasuki proses penyuntingan dan penulisan ulang, angka 124.000 kata memuai menjadi 135.000 kata. Pada titik itu, saya bulat memutuskan Rapijali dipecah menjadi trilogi. Mengapa? Rapijali merupakan karya pertama saya yang memiliki karakter remaja. Dengan demikian, segmen ideal untuk Rapijali adalah segmen muda. Buku 135.000 kata bukanlah volume ideal di segmen tersebut, apalagi jika itu terjadi pada buku pertama yang jadi tahap perkenalan pembaca (untuk rujukan: Aroma Karsa yang 700 halamanβdan digadang-gadang cukup tebal untuk menggebok malingβvolumenya βhanyaβ 110.000 kata).
Ketika Rapijali dirilis sebagai produk hibridaβcerbung digital dan buku cetakβia kembali berada di sebuah βantaraβ. Sebagai cerbung, Rapijali harus diperlakukan sebagai penggalan demi penggalan yang menyisakan rasa penasaran bagi pembaca cerbung. Faktor itu tidak perlu diperhitungkan bagi pembaca buku cetak yang langsung punya akses membaca cerita secara utuh. Sebaliknya, pembaca cetak juga perlu dilindungi dari potensi spoiler para pembaca digital yang membaca cerita lebih dahulu.
Pembaca cetak barangkali tak peduli dengan kemulusan pengalaman pembaca cerbung. Sebaliknya, pembaca cerbung yang euforia dengan keseruan cerita barangkali tak peduli dengan pembaca cetak yang belum baca sama sekali. Kamilah yang bertugas untuk menggawangi keduanya. Tugas kami adalah menjembatani kepentingan para pembaca dengan memproteksi titik-titik krusial yang bisa menggemboskan kenyamanan membaca di medium masing-masing.
Dengan pertimbangan itu pulalah, ketika kami memutuskan bekerja sama dengan platform Storial, keberadaan forum tertutup merupakan prasyarat mutlak yang kami ajukan. Dengan adanya Forum Digitribe (sebutan bagi para pembaca digital), segala obrolan seputar isi cerita dapat ditampung dalam satu tempat tertutup, meminimalkan spoiler ke pembaca cetak. Dalam forum, kami senantiasa mengimbau pembaca agar tidak membocorkan jalan cerita di media sosial. Ketika terjadi kebocoran, kami tak segan mengingatkan mereka demi menjaga pembaca cetak.
Hal serupa juga kami lakukan ketika menjalankan Aroma Karsa. Namun, Rapijali membawa tantangan ekstra. Pertama, karena ia tipe serial dinamis yang bersifat sekuensial (dibaca berurutan). Kedua, masa tayang cerbungnya lebih pendek daripada Aroma Karsa sehingga periode promo dan prapesan versi cetaknya terjadi jauh lebih awal, tepatnya ketika cerbung baru memasuki tahap 10% tayang. Sementara, untuk pembaca digital, kami telah menyiapkan kejutan kelanjutan Rapijali 2 pada ujung cerbung Rapijali 1.Β
Dengan kondisi tersebut, dan juga pertimbangan untuk melindungi dua jenis pembaca, ketiga pihak yang terlibat (Storial, Bentang Pustaka, manajemen Dee Lestariβyang dijalankan oleh saya dan Reza Gunawan, suami saya) harus mengantisipasi beberapa hal, antara lain menjaga materi promo prapesan yang keluar paralel dengan masa membaca cerbung untuk tidak menunjukkan angka 1 dan subjudul. Tentu saja, karena pembaca digital jumlahnya ribuan dan tersebar di seluruh Indonesia, pakem serupa dilaksanakan oleh para seller buku yang mempromosikan Rapijali. Karena itu pula, begitu pembaca cetak menerima bukunya padahal cerbung digital baru tamat satu hari, saya menahan diri pada hari pertama ketibaan buku untuk tidak posting ulang kaver Rapijali. Baru esok harinya, kaver buku utuh ikut saya bagi.
Dua puluh tahun malang melintang menjadi penulis, saya paham betul bahwa setiap buku yang saya tulis akan memiliki pembacanya masing-masing sesuai selera, preferensi, dan ekspektasi. Penyuka novel tunggal Perahu Kertas belum tentu menyukai serial Supernova. Penyuka antologi Filosofi Kopi belum tentu betah dengan intensitas novel Aroma Karsa. Penyuka nonfiksi Rantai Tak Putus belum tentu membeli karya fiksi saya sama sekali. Semua itu sah dan baik-baik saja.
Demikian pula ketika Rapijali ternyata serial dan bukan novel tunggal, misalnya. Keputusan itu bukannya tak memiliki risiko. Ada yang bilang, cerita dibuat serial demi keuntungan penulis/penerbit. Setidaknya pada kasus saya, termasuk pada Rapijali, profit tidak pernah menjadi pertimbangan memilih format serial. Alasan pertama tentu haruslah kebutuhan cerita itu sendiri, lalu kesesuaian dengan demografi pembaca yang dituju. Cerita serial sejatinya memiliki risiko lebih tinggi karena kesetiaan pembaca benar-benar diuji. Cerita dituntut untuk sangat kuat agar pembaca mau bertahan mengikuti. Sejak awal saya percaya Rapijali punya kekuatan itu. Jadi, sungguh janggal jika upaya menutupi subjudul dianggap demi menjebak pembaca agar mengira Rapijali buku berdiri sendiri. Namun, saya paham kalau mispersepsi tersebut bisa timbul di benak pembeli, apalagi di situasi medsos yang dibuat panas.
Tiada satu karya pun yang bisa memuaskan semua orang. Jika ada pembaca yang kecewa atas konsep serial karena tidak sesuai selera dan ekspektasinya, saya paham. Jika ada pembaca Rapijali cetak yang merasa kecele karena sebelumnya tidak diinformasikan perihal format serial, saya memohon maaf. Tanpa mengetahui keseluruhan latar belakang alasan kami, berbagai asumsi bisa timbul. Setelah membaca penjelasan panjang lebar ini sekalipun, sebagian mungkin tetap memilih bertahan dengan perasaan dibohongi atas alasan apa pun. Tidak mengapa. Saya mengerti.
Ketika saya merilis Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, saya tidak pernah mengumumkan bahwa Supernova merupakan serial hingga buku pertamanya terbit. Mungkinkah dulu saya lolos karena beruntung? Ataukah karena situasi sekarang berbeda? Yang jelas, βmenipuβ merupakan kata keras yang perlu dikaji. Jika saya berada di posisi pembaca, berikut yang akan saya kaji: (1) Apakah ada penipuan harga buku sehingga saya membayarkan lebih dari seharusnya? (2) Apakah buku ini menjanjikan sesuatu yang kemudian tidak dilunasi? Yang saya tahu, masa prapesan didesain untuk menguntungkan pembaca secara optimal. Harga buku PO sudah jelas mendapatkan keuntungan diskon, bahkan ada bonus merchandise, dsb. Sebagai penulis, saya pun tidak pernah menjanjikan bahwa Rapijali merupakan buku tunggal.
Tidak mungkin perilisan sebuah buku tidak punya rencana pemasaran, tetapi menunda info konsep serial bukanlah bagian dari strategi marketing, melainkan semata-mata untuk melindungi pengalaman membaca para pelanggan cerbung. Rapijali yang berdiri di dua kakiβcerbung digital dan buku konvensionalβmau tidak mau harus memperhitungkan kedua belah pihak. Tidak ada iktikad menipu salah satu pihak dan lainnya.
Lalu, mungkin muncul pertanyaan, mengapa tidak dibikin saja seperti Supernova yang tidak memakai angka? Berbeda dengan Supernova, sebuah serial episodik dengan jarak antarbuku bertahun-tahun, Rapijali merupakan serial dinamis terdiri dari tiga episode (trilogi)βyang untuk kali pertama dalam karier menulis sayaβdirencanakan tamat pada tahun yang sama. Pemunculan angka dan nama episode dipakai guna memperkuat sekuens itu. Pembaca kali ini tidak perlu menunggu lama. Dalam hitungan bulan, Rapijali 2 akan muncul, dan seterusnya. Selain faktor genre, itu akan membantu memosisikan Rapijali berbeda dari Supernova, meski sama-sama serial.
Pada era media sosial, tanpa kecuali kita semua rentan terhadap miskomunikasi, mispersepsi, terutama karena kita makin dimudahkan untuk melontarkan maupun menggiring opini secara publik. Tidak satu pun dari kita bisa mengendalikan kekecewaan orang lain maupun cara pelampiasannya. Namun, saya ingin mengajak kita semua tetap beriktikad baik sebagai sesama pencinta karya literasi.
Semua transaksi prapesan yang berlangsung di seller sepatutnya dijalankan dengan profesional. Jika ada hak Anda yang dikurangiβdiskon yang tidak sesuai, jumlah tak lengkap, barang yang Anda terima berbeda dari pihak lain padahal pesanannya samaβtentu Anda sepenuhnya berhak mengklaim segala kekurangan tersebut. Semoga kita sama-sama mau menelisik ke diri masing-masing dan bertanya dengan teliti, apakah reaksi dan tindakan kita sudah pas dan sesuai proporsi? Jangan sampai atas nama kecewa kita malah mencederai kredibilitas dan martabat kita sendiri. Ketika, misalnya, ada pembaca yang kecewa, lalu mempublikasi utas cara meretur Rapijali yang sudah dibelinya, yang isinya padahal sudah ia gunakan untuk konten kanal pribadinyaβmenurut saya, perbuatan semacam itu sudah tidak lagi elok. Saya harap kita bisa terhindar dari tindakan demikian. Sebaliknya, jika ada pembaca yang mendapat respons kurang memuaskan dari saya, atau kurang berkenan dari CS distributor/seller, saya ikut mewakili untuk meminta maaf sedalamnya.
Saya mengapresiasi setingginya kepada distributor dan seller yang sudah memahami permintaan kami terkait materi promosi, juga untuk Bentang Pustaka yang sudi mengakomodir konsep kreatif kami terlepas dari tantangan di lapangan. Menggawangi produk hibrida memang bukan hal mudah. Kita sama-sama belajar dan berproses. Terima kasih saya untuk para pembaca yang sudah memahami berbagai keputusan tak mudah yang kami ambil, yang tetap menjaga iktikad baik masing-masing untuk tidak saling merugikan.
Dunia Rapijali dihadirkan untuk menghibur Anda semua. Saya tetap percaya, serial ini akan menjalankan tugasnya dengan baik. Selamat membaca, dan selamat menikmati.

42 Comments
[sopiler]
pembaca digital mah pura pura aja ga tau kalo serial.
padahal ikut kecele π
[/sopiler]
Ehehe… apalagi banyak yang punya bola kristal di Komplek Cenayang :))
Halo Mbak Dee, terima kasih atas penjelasannya. Saya apresiasi sekali. Saya penggemar Mbak Dee dan membaca semua buku Mbak Dee. Saya menikmati cerita Rapijali dan menunggu lanjutannya. Namun saya juga termasuk mereka yang kecewa dengan pemasaran Rapijali. To be clear, saya tidak ada masalah sama sekali dengan keputusan kreatif Mbak Dee untuk memotong cerita dan menerbitkannya sebagai cerita/novel bersambung. Saya hanya kecewa pada pemasarannya.
Begini pengalaman saya. Saya membeli koin Storial senilai Rp75.000 untuk membeli cerbung Rapijali. Kemudian saya membayar Rp88.200 untuk membeli buku Rapijali. Total saya membayar Rp163.200 untuk membaca Rapijali lebih dulu, mengoleksi buku cetaknya, dan mendukung Mbak Dee sebagai penulis.
Ada opportunity cost berkaitan dengan Rp163.200 ini, yang seharusnya bisa saya pertimbangkan dengan lebih matang jika saya memiliki informasi lengkap mengenai produk yang akan saya beli. Berikut informasi awal yang saya harap saya punya:
1. Tanggal terbit buku cetak Rapijali. Saya terkejut, ternyata nyaris tidak ada windowing antara berakhirnya cerbung dan terbitnya buku cetak. Saya bisa saja berhemat Rp75.000, karena ternyata menunggu buku cetaknya tidak lama.
2. Rapijali ternyata novel bersambung. Artinya, saya perlu mempersiapkan anggaran lagi untuk beli buku kedua dan ketiga. Jika saya tahu ini, mungkin saya bisa memilih untuk membeli cerbung Storial atau buku cetak pertama saja, supaya sisa uangnya bisa ditabung untuk buku selanjutnya.
Saya percaya Mbak Dee, penerbit, dan tim terkait beriktikad baik dalam menerbitkan Rapijali 1. Tapi saya harap lewat penjelasan ini, Mbak Dee juga bisa memaklumi mengapa saya merasa βdikerjaiβ. Masukan dari saya, semoga untuk ke depannya, buku Mbak Dee bisa dipasarkan secara lebih transparan lagi.
Terima kasih, Mbak, sudah memberikan saya kesempatan kasih feedback. Semoga Rapijali sukses! Saya akan nantikan kelanjutan kisah Ping di Rapijali 2.
Hai Uti, terima kasih juga sudah meninggalkan komen. Saya paham concern-nya. Memang, karena cerbung Rapijali hanya terjadi 5 minggu (sementara dulu di Aroma Karsa 13 minggu), jadi jarak waktu antara digital dan cetak menjadi sangat dekat. Ini membuat beberapa komunikasi pemasaran terasa tumpang tinding karena terjadi paralel, dan akibatnya sebagian pembaca mungkin jadi miskalkulasi. Kami akan perbaiki soal timing ini di Rapijali 2. Makasih untuk support-nya buat Rapijali, ya.
Hai Uti, terima kasih atas komenmu ya. Sebagai bagian dari manajemen Dee dan tim produksi Rapijali, saya juga paham sudut pandangmu. Dalam komen ini saya hanya bermaksud melengkapi sedikit info. Memang kami membuat jendela waktu antara tamatnya terbit digital dengan terbit cetak hampir bersamaan. Sebenarnya mengikuti pola serupa waktu AromaKarsa digital dan cetak 3 tahun lalu. Ini adalah produk hibrida kedua bagi Dee jadi kami pun masih belajar sekaligus eksplorasi berbagai formulasi yang paling tepat dalam strategi publikasinya. Saya tidak tahu apakah dirimu sudah sempat membaca ulang Rapijali versi cetak berttd, tapi dari awal yang kami konsepkan adalah bukan 2 format produk yang sama tapi 2 pengalaman membaca yang sangat berbeda. Jadi saya berharap para pembaca yang akhirnya memilih beli 2 format tersebut juga merasakan perbedaannya, terutama setelah cerita Rapijali tamat nanti. Mengingat sekarang sudah kami buka info perihal trilogi, ada opportunity gain yang kamu peroleh dengan membandingkan kedua pengalaman baca digital + cetak, lalu memilih salah satu format yang dirasakan paling ingin diutamakan untuk Rapijali 2 dan 3 ya. Semua masukan pembaca termasuk darimu kami tentu jadikan bahan evaluasi untuk penerbitan selanjutnya. Terima kasih sekali lagi
Saya termasuk yg kaget soal buku serial ini hahaha. Jadi maklum ada yg kritik di sosmed, namanya juga netijen. Makasih banyak Mbak Dee atas penjelasannya, jadi tahu perspektif lainnya. Makasih juga sudah memahami bahwa ya emang selera itu subjektif dan yg kritik pasti akan selalu ada.
Tapi saya juga heran ketika salah satu kritikan malah jadi konten pribadi yg emang jadi ada benefit bagi si individualnya yg punya kanal. Itu sih saya ga dukung blas, terkesan menunggangi momentum. Kritik sih kritik aja.
Thank you Mbak Dee dan team! Betikutnya moga ga ada miskom2 lagi.
Makasih sama2, semoga ke depannya pengalaman membeli dan membaca Rapijali-nya jadi lebih mulus, ya.
Saya pertama kali juga kaget sih, gak nyangka kalo bersambung. Malah agak bingung setelah selesai baca part terakhir di Storial, ini gimana masih ada lagi lanjutannya hari Senin ato gimana. Terus baca komen2 baru ngeh oooow bersambung…. Tapi lalu, ya sudahlah, ditunggu saja episode selanjutnya, hehee…
Makasih ya Mbak Dee, untuk karya2nya. Sampai saat ini Mbak Dee adalah penulis yang selalu saya nantikan karyanya.
Makasih banyak sudah mengikuti karya-karya saya selama ini, ya. Much appreciated π
Sebenarnya saya sudah prediksi bakal ada sekuel menilik proporsi cerita di Rapijali 1 digital, dan benar saja ketika muncul pengumuman Rapijali 2 saya tidak terkejut2 amat. Pembagian ini saya kira sangat menguntungkan dari sudut pandang buku cetak, bukunya jadi gak terlalu tebal karena buku yang kelewat tebal memiliki potensi cedera yang lebih besar: tulang punggung patah jadi 2 dan lain2.
Jadi maksuri, 135.000 kata ini dibagi menjadi 2 buku (buku ke-3 belum ditulis) atau 3 buku?
Haha, iya betul juga, buku lebih gampang “cedera” kalau ketebelan π 135.000 kata dibagi dua, jadi belum termasuk yang ketiga.
mba dee.. jangan lama2 ya terbitin buku 2 dan 3.udah gtu aja.. βΊβΊβΊ
Semua dalam tahun ini, kok!
So happy π
Semoga lancar dan yg pasti Bu Suri berserta keluarga semoga sehat selaluuuu
Salam sehat juga!
Jarang2 saya baca blog sampai ke komen2nya. Karena penulisnya mbak Dee, saya baca sampai habis. Sedemikian senangnya saya bila baca tulisan2 mbak Dee. Sampai akhirnya tahu bahwa Rapijali adalah trilogi. Ya Ampun! Dan bakal terbit dalam satu tahun ini. Waduh! Ga kebayang lagi. Maaf mbak Dee, saya orangnya gak peduli2 amat soal Rapijali novel tunggal atau trilogi. Yg penting tulisan2 dan karya2 mbak Dee sering terbit. Ya, karena enak aja baca tulisan mbak Dee. Berkesan banget, gitu! Kalo boleh, saya pengen banget baca skripsi, tesis, ataupun disertasinya mbak Dee. Hehe (Semoga terkabul). Pokoknya apapun karya mbak Dee. Ya, saya emang lebih suka baca versi bukunya sih daripada digitalnya. Biar bisa distabilo-in. Hehe. Rugi banget tau kalo ga nandain kosakata yg jarang dipake. Jadi bisa nambah wawasan kebahasan Indonesia. Hah! Ga pernah saya merasa menyesal menggunakan waktu saya untuk baca novel karya2 mbak Dee di masa2 ujian. Malah bisa bantu saya menjawab pertanyaan esai “beranak”. Tahu kan, mbak, soal ujian kuliah gimana? Beranak bercucu bercicit sampai tujuh keturunan. Ya walaupun sedikit mengarang, setidaknya kata2 atau diksi yg dipakai membuat jawaban ujian saya terasa meyakinkan.
Pokoknya, terima kasih mbak Dee! Semangat terus melahirkan “Anak-anak” mu, mbak!
Waaah… makasih banget buat apresiasinya. Skripsi saya kayaknya masih ada di perpus UNPAR, haha! Selamat mengikuti Rapijali hingga tamat nanti.
Kenapa banyak yang ga suka ini jadi trilogi….saya penikmat “baru” karya mbak Dee tapi bagi saya novel / cerita itu berharga setiap momennya. Satu cerita ga hanya kita kejar endingnya tapi setiap katanya bisa dinikmati. Saat baca part 10 yang jadi kekuatiran saya adalah kalau ceritanya berakhir / tamat karena akan terkesan sangat prematur karena belum ada klimaksnya. Justru ketika tau akan bersambung apalagi sampai trilogi baru di sana saya merasa senang karena berarti ini akan jadi cerita yang sangat kaya dan penuh dinamika. Mungkin bagi para pembaca yang merasa kesal / tertipu saya juga tidak mengerti karena kalau saya pribadi baru kesal kalau ceritanya berakhir di part 10.
Hehe, ya begitulah, memang kita tidak bisa menata ekspektasi semua orang. Saya paham sekali. Saya juga sedih kok kalau Part 10 tahu2 udah selesai, pengin lanjut 100 sebenarnya… cuma ceritanya kayaknya nggak mau! π Makasih sudah mengikuti Rapijali, ya.
Saya salah satu pembaca digital, yang baru tahu kalau cerita ini serial setelah baca komen – komen.
Sepertinya, saya yang kurang mencari informasi. (Terlalu menikmati setiap bab cerita)
Walaupun, kalau informasinya (bahwa akan menjadi serial) dibuka sejak awal, saya tetap akan membeli semua buku digitalnya. (Sedang mengurangi pembelian buku hardcopy).
Dan karena pengen tahu nasib oding bagaimana? π
Wah, tim Oding, nih. Hihi. Makasih banyak, ya. Kita ketemu lagi di Rapijali 2.
Haii Mbak Dee,
Terima kasih untuk penjelasannya yaa. Surely every situation has different sides of story. Dengan penjabaran diatas akhirnya saya bisa melihat situasi ini dari perspektif Mbak Dee & tim terkait.
Saya sangat mengagumi tulisan-tulisan Mbak Dee. Mungkin itu pula lah yang membuat saya (atau mungkin sebagian penggemar Mbak Dee), punya ekspektasi tinggi terhadap Rapijali, terutama ekspektasi atas terjawabnya rasa penasaran akan kelanjutan ceritanya – melalui buku fisik. Juga tak lain karena dilatarbelakangi persepsi kami yang sudah kadung diinformasukan bahwa Rapijali adalah novel terpanjang dari Mbak Dee. Lantas persepsi wajar yang muncul adalah; novelnya sudah rampung. Perihal dipecah menjadi serial, tentu adalah kejutan.
Mengikuti cerbung sekaligus membeli buku fisik, bukanlah pertimbangan yg sulit untuk saya. Bahkan saya dua kali membeli Supernova karena lebih suka desain cover yang baru.
Well, semua kekecewaan tentu berakar pada ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita. Tentu ini juga menjadi bahan pembelajaran saya atau kami sebagai pembaca yg sebaiknya tidak menaruh kemelekatan berlebihan terhadap sesuatu (apapun itu).
Namun ekspektasi yang tinggi ini tentu bisa dimaknai juga sebagai kekuatan cerita Rapijali yang mampu melekat di hati pembaca. Congratulations Mbak Dee, bisa menyentuh hati pembaca dengan luar biasa. Kami menunggu part 2 dan part 3 nya yaa : )
Makasih banyak untuk support-nya, Gita. Betul, on the bright side, itu artinya rasa memiliki terhadap cerita sangat besar. Hehe. Terima kasih sudah sudi menunggu. Kita berjumpa lagi di RJ 2 dan 3 nanti!
Baru kenal kak Dee Lestari dari podcastnya Pak Gita Wirjawan. Sepertinya mulai dari serial Rapijali ini bisa menjadi sebuah pilihan
Siap, salam kenal lagi! Selamat mengikuti Rapijali.
Hallo mba Dee
Mau serial mau berdiri sendiri, setiap karya mba Dee selalu menghadirkan aroma wangi yg tak bisa ditolak.
Semoga Rapijali 2 dan 3 segera cetak ya mba, btw saya penikmat buku fisik, aromanya memabukkan π
Sukses dan sehat selalu mba..
Makasih banyak buat dukungannya atas Rapijali, ya!
Saya salah satu orang yang candu dg karyaΒ² mba Dee, setelah petualangan dg Jati di Aroma karsa, semoga Bulan ini bisa baca buku Rapijali dan berkenalan dengan Ping. π Aamiin Paling Serius.
Awww… makasih banyak. Semoga bisa segera menikmati Rapijali, ya.
Halo Maksur dan Paksur… Sebenernya saya ingin menyampaikan unek-unek ini dari sejak awal PO Storial. Waktu itu pengen tulis di IG, WA, FB atau di Forum Storial, tapi akhirnya saya tulis disini saja.
Saya dan sebagian besar peduduk digitribe AK mungkin tidak mempermasalahkan kalau Rapijali menjadi serial. Sejak jaman Supernova yang jarak antar bukunya bertahun-tahun tidak masalah buat kami, apalagi Rapijali yang ketiga bukunya tidak sampai 1 tahun. Yang menjadi permasalahan adalah kenapa menggunakan Storial yang tidak siap.
– Pada awal mau PO, sudah banyak yang menginformasikan bahwa akan bermasalah pada saat PO, dan saya juga sebelum PO sudah informasi error tapi sepertinya tim storial masih mengangap remeh.
– Dari satu jam sebelum waktu PO memang sudah banyak yang sudah klil-klik, menurut saya sih wajar saja, karena memang kami sebagai digitribe AK memang cukup antusias dan juga buas. Seharusnya hal seperti ini bisa diantisipasi oleh team storial. Web Storial bahkan sampai harus di take down. Ini menurut saya membuktikan storial benar-benar tidak siap.
– Waktu itu juga ternyata aplikasi yang untuk IOS juga belum ready, menambah bukti kalau storial benar-benar tidak siap.
– Saya sudah pernah komen di IG strorial tentang kekhawatiran saya saat cerbungnya muncul di storial dan juga nanti saat forum sudah jalan. Dan akhirnya kekhawatiran saya pun terbukti.
– Storial sering error, audio bermasalah. Forum terlahir prematur, cuma bisa tiga baris, mau edit susah, tidak bisa emotikon, tidak bisa instert gambar atau meme, tidak bisa insert gif, tidak bisa hastag, tidak ada pemberitahuan kalau ada yang komen. Diawal-awal forum pun jadi sepi, karena storial terlalu banyak masalah. Di IOS dibeberapa aplikasi kalau mau bayar malah kebuka storial.
– Saya dan beberapa orang dari digitribe AK banyak yang sudah laporan di forum, tapi team Storial tidak responsif, malah Paksur yang banyak jawab pertanyaan. Saya masih ingat, mungkin karena Paksur lagi stress karena banyak masalah yang terjadi, sampai akhirnya salah satu komplenan orang digitribe AK dijawab oleh Paksur dengan kata “Jangan galak-galak dong”, ramai di digitribe AK yang kaget akan komentar Paksur.
– Walau sudah banyak perbaikan dari team Storial, tapi saya sebagai pengguna IOS, masih sering bermasalah, saya juga masih belum bisa terima pemberitahuan kalau ada yang komen di komen saya. Dan yang saya masih sebel adalah ketika mau bayar di tiket.com pilih pembayaran gopay, malah kebuka strorial, masalah ini sudah banyak yang lapor tapi sampai sekarang ngga bere-beres. Saya lapor lagi malah disuruh uninstall dan install lagi, repot banget kalau mau bayar-bayar.
– Mungkin banyak yang kaget atau kesal karena Rapijali jadi serial, Tapi kami di digitribe AK sudah bener-bener sebel banget dengan Storial, jadi yang ngga mempermasalahkan hal tersebut.
Mohon maaf atas curhatan saya ini disini. Next-nya mungkin bisa buat jadi pembelajaran supaya kedepannya menjadi lebih baik. Titip salam sama team IT storial supaya cari orang yang pengalaman didunia Forum dan juga servernya diperkuat, takutnya PO Rapijali 2 error lagi. Terima Kasih. Hormat saya kepada Paksur dan Maksur.
Halo Ryan,
Makasih atas komennya ya. Mengingat sudut pandang yang dibahas sebenarnya tidak langsung terkait dengan tema sentral dari blog post ini, saya tangkap ini barangkali adalah intensimu untuk mengungkap unek2 yang selama ini belum tersampaikan. Untuk menanggapi mungkin saya akan berikan 3 poin di balik proses produksi:
1. Dari awal saya dan penulis sudah tahu bahwa Rapijali adalah proses penerbitan yang kompleks karena berbentuk hibrida digital dan cetak, sekaligus panjang hingga setahun. Ini mengharuskan kami mencari partner terutama untuk penerbitan digital bersambung dan dari beberapa calon yang kami seleksi, meski belum 100 persen sempurna, Storial adalah pihak yang paling siap dari berbagai aspek pertimbangan. Belajar dari proses penerbitan digital AromaKarsa dulu, segala poin antisipasi sudah kami siapkan sejak awal, namun memang secara teknologi tetap ada beberapa hal yang lolos dari kendali kami semua. Per saat ini sudah ada belasan perbaikan dan peningkatan fungsi app dan user experience dan ke depannya akan semakin baik lagi untuk Rapijali 2 dan 3.
2. Mengapa kami bertahan dengan segala kebelumsempurnaan ini di platform digital? Sebenarnya karena kami tahu ini proses panjang, sementara perspektif pembaca saat itu rapijali adalah 1 buku saja. Hampir setiap minggu kami terus monitor dan update status perbaikan. Sekarang masih ada beberapa isu yang memang belum selesai, karena ada faktor penyulit di luar Storial dimana app mereka terkait dengan modul app pihak ketiga, sehingga tidak bisa diselesaikan secara cepat karena ternyata beberapa aplikasi lain yang menggunakan modul pihak ketiga tersebut juga mengalami kendala yang sama saat ada transaksi pembayaran. Di lain pihak, sekarang bisa baca via browser, sehingga tidak 100 persen tergantung dari app, demikian pula kualitas audiostory sudah baik untuk iOS dan sudah ada notifikasi, . Ini hanya sebagian contoh, poin utamanya saat kami siap mau menerbitkan, dari sekitar 5 platform digital yang kami pilih, Storial yang paling siap.
3. Dengan banyaknya jumlah pembaca digital, banyak juga komentar yang masuk dan tentunya sulit merespons satu persatu. Akhirnya saat ini kami melakukan audiensi dengan 5 perwakilan digitribe Rapijali, 3 di antaranya dulu digitribe AK, untuk menangkap segala isu dan kebutuhan pembaca. Saya pun sempat bergabung sementara di grup WA AromaKarsa untuk menjelaskan beberapa hal secara langsung. Memang istilah βBuasβ bisa berarti positif tapi kadang bisa bablas juga jadi negatif. Saya ingat sempat menegur salah satu komen yang seolah menyalahkan Storial padahal belum tanya apalagi mengerti duduk masalahnya. Di level produksi belakang layar, justru saya berharap teman-teman eks digitribe AK lebih pengertian dibanding pembaca digital baru, karena sejujurnya di beberapa titik, buasnya sudah tidak lucu maupun positif lagi. sehingga saya merasa perlu mengingatkan itikad baik bersama. Minimal kalau tidak bisa mengerti ya bertanya, jangan sekedar menyalahkan. Saya menyediakan diri untuk hadir diantara melindungi fokus penulis yang masih terus menulis manuskrip dan tim penerbit cetak dan digital yang baru pertama kali bersinergi dan masih mencari ritme kerjasamanya.
Demikian saya jelaskan, mari bersiap untuk Rapijali 2, mewakili seluruh tim produksi, saya pun minta maaf atas segala kekurangsempurnaan di siklus pertama kita, semoga pengalaman berlayar kita yang ke-2 dan ke-3 akan lebih nyaman.
Terima kasih untuk setiap karya yang luar biasa bagimu menguras tenaga, dan luar biasa bagi kami menguras rasa penasaran ingin selalu baca. Saat pertama tahu kalau rapijali akan serial, ku pikir hanya 2 buku udah “WOWWWW ASIKK MANTAP”, pas baca ini tadi dan menemukan kata TRILOGI, langsung “OH GOD BLESS YOU MAK SURIII.” So happy karena kami selalu menunggu setiap gerakmu untuk melahirkan buku-buku baru. Selaluuu ditunggu. Saya sekarang sedang membaca Rapijali masih sampai bab 26, dan saya sangat excited (fyi mak suri novel bikin addict sampai aku ingin nyemplung ke dunianya cuma the one and only AROMA KARSA, my lovely Jati Wesi π π ) tapi bagaimana sejauh ini pergerakan Ping digambarkan sangat-sangat ringan tapi justru melenakan jika tidak fokus. hehe lebay yak. But I LOVE IT SO MUCH. Rapijali kalau mau jadi heksalogi, janji deh ku kejarrr juga kokk π wkwkwkw. Semangat mak suri. Percayalah setiap karyamu adalah MASTERPIECE.
Salam hangat dari seorang manusia yang dibuat jatuh cinta sejak Ferre dan Rana mengudara di angkasa Supernova.
Wow! Makasih buat antusiasme dan support-nya! Sampai jumpa di RJ 2!
Rapijali bukan singkatan, tapi akronim… jadi gak bisa di tulis RJ, harusnya R doang… -Inggil
Hehehehe
Hi Mbak Dee,
Saya baru saja selesai membaca Rapijali (dengen kecepatan yang saya sendiri takjub, Minggu malem beli, Selasa siang sudah selesai disaat menunggu menghadap seorang Jenderal Bintang Satu, padahal lagi sibuk-sibuknya lho….), dan dalam pencarian Rapijali 2 ternyata saya baru tahu kalau ternyata ada versi digitalnya… Pertanyaan konyolnya adalah: apakah saya perlu membaca versi digitalnya? π Maksudnya apakah ada cerita yang didapatkan hanya di versi digitalnya, vise versa…
Oiya, saya penggemar karya Mbak Dee, hampir semua buku sudah baca (yang belum: rantai tak putus dan rectoverso kayaknya, lupa udah baca rectoverso atau belum). Dulu pas jaman kuliah cuma mampu pinjem dari temen kost pacar saya (kalau di friendster itu kayak 2nd degree friendship lah…) tapi sekarang alhamdulillah sudah mampu beli sendiri, walaupun setiap beli harus ngelirik istri dl…hehehehe…
Thanks untuk karya-karyanya, Mbak Dee… Di tunggu Rapijali 2 nya….
Halo Cahyo, makasih sudah semangat membaca Rapijali! π
Kalau sudah punya Rapijali 1 cetak, saya rasa nggak harus beli yang Rapijali 1 digital lagi, ya. Karena isinya persis sama. Tapi, untuk Rapijali 2, paket yang ditawarkan ke pembaca digital tentunya lebih menarik, yakni membeli paket (+buku cetak berTTD) dengan harga terbaik, baca lebih awal (dari tgl 19 Mei, sementara cetak baru bulan Juli), dan bisa diskusi bareng sama selama 7 mimggu baca cerbung. Jadi, saran saya, beli versi digital Rapijali 2–asal dari sekarang, jangan tunggu sudah pas terbit, karena serunya nggak sama. Hehe. Masih bisa PO tuh sampai 19 Mei. Sila ke storial.co/rapijali 2 ya.
Sebagai pecinta Mak Suri dan Batu Karas, Planet Ping jadi punya arti yang istimewa buat saya. Nuhun, Teh… Next time ke Karas saya mau ngelamun di sisi Cijulang.
Wah, makasih banyak! Mangga atuh, wilujeng ngalamun! π
Duhhhhh kapan Rapijali 3 munculnya … sudah tak sabar π
Akhir tahun 2021 ya.
Hallo mbak Dewi. Anak saya, Candid Nusantara–pembaca Rapijali dan pendukung berat Rakai dan Ping (sayangnya gak bisa jadian di akhir cerira), nangis sedih. Pertanyannya: apakah nanti akan ada Rapijali 4? Dan apakah nanti mbak Dewi dan mas Reza ada rencana untuk mem-film-kan cerita ini karena seruuuu. Ditunggu ya mbak, karena penasaran banget Makasih mbak Dewi dan mas Reza.
Hehe, belum ada rencana Rapijali 4, sih. Tapi makasih sdh mengikuti serial Rapijali. Salam untuk Candid, ya.