Di Setapak Bersama Arswendo
July 22, 2019
RAPIJALI: Mengapa Serial?
March 4, 2021Sejauh yang saya ingat, musik dan menulis merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup saya. Bahkan, jauh sebelum saya dikenal sebagai seorang penulis, bermusik lebih dahulu menjadi karier saya sejak usia remaja. Tak pelak, musik pun menjadi tema pilihan ketika saya mulai mengeksplorasi penulisan novel pada usia belasan tahun. Lantas, mengapa baru sekarang saya menerbitkan fiksi bertemakan musik?
Tahun 1993. Usia saya masih 17 tahun, belum lama lulus SMA. Saya menulis cerita yang saya bayangkan menjadi cerita bersambung, tentang seorang anak desa bernama Ping yang memiliki bakat musik istimewa. Cerita itu saya beri judul Planet Ping. Dokumen maupun manuskrip hasil cetaknya masih tersimpan rapi hingga sekarang.
Menulis dunia Ping saat itu sungguh mengasyikkan. Saya menggabungkan petualangan saat saya berlibur ke Garut bersama kawan-kawan sekolah dengan khayalan saya tentang kehebatan seorang prodigy musik di bawah asuhan kakek eksentrik. Meski kepercayaan saya terhadap potensi ide Planet Ping tidak pernah luntur, sayangnya, semangat itu belum dibarengi pengalaman dan stamina menulis memadai. Tidak untuk cerita sepanjang dan sekompleks Planet Ping. Akhirnya, sebagaimana yang pernah dialami oleh cerita Kugy & Keenan, Ping dan planetnya terpaksa masuk ke peti es.
Berkali-kali Ping nyaris bangkit dari tidur kriogeniknya tapi gagal. Ketika saya mendapatkan tawaran menerbitkan cerbung digital tahun 2007, saya berada di persimpangan antara memilih Ping atau Kugy. Saya memilih yang kedua. Dunia Kugy ditulis ulang dan lahir baru menjadi Perahu Kertas. Setelah rampung dengan serial Supernova yang memakan waktu 15 tahun, saya diperhadapkan ke persimpangan antara menulis ulang Planet Ping atau kisah baru tentang aroma. Kembali, saya memilih yang kedua, dan lahirlah Aroma Karsa.
Setelah tersalip lagi oleh dua judul lain, saya pun tiba di persimpangan serupa, menghadapi beberapa pilihan dan salah satunya Planet Ping. Saya tak tahu persis apa yang akhirnya mendorong saya untuk memilih Ping. Barangkali intuisi, atau barangkali juga Ping dan dunianya tidak bisa menunggu lagi. Kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ping ialah utang terbesar saya pada alam ide, memecahkan rekor tulisan terlama saya dalam peti es. 27 tahun.
Pertengahan 2019, saya mulai berproses. Saya pergi riset ke Batu Karas, ke Cijulang, ke Green Canyon, ke Batu Nunggal, ke Pantai Madasari, dan berbagai tempat di sekitar sana. Termasuk menyinggahi SMA 1 Parigi pada jam pulang untuk melihat-lihat kelas, kantin, aula, dan sudut-sudut sekolah. Akhirnya, saya melihat jelas Ping dan dunianya.
Kisah Planet Ping pun bertransformasi menjadi Rapijali. Sebuah akronim dari nama keenam anggota band. Sebagai entitas, Rapijali lebih proporsional mewakili apa yang tersaji dalam cerita. Rapijali merupakan wahana tempat para karakter, termasuk Ping, berkembang dan menemukan tujuan besarnya masing-masing.
November 2019, saya mencicil menulis. Beberapa detail dan gagasan utama dari kisah asli yang dipertahankan. Namun, banyak perubahan fundamental yang saya putuskan. Salah satu keputusan terbesar adalah pengesetan waktu pada masa kini, bukan tahun ’90-an sebagaimana di naskah asli. Konsekuensi keputusan kreatif itu menggiring jalan cerita dan ribuan detail di dalamnya. Bisa dibilang, saya meruntuhkan Planet Ping dan memulainya lagi dari nol. Elemen politik, ajang bakat di televisi, tekanan media sosial, merupakan warni-warni kekinian di dunia Ping yang baru. Proses menulis yang lebih intensif dimulai bulan Juni 2020 hingga manuskrip pertama Rapijali rampung pada Oktober 2020.
Semakin saya gali dan tenggelam dalam semesta Ping, saya makin paham mengapa dahulu saya tidak sanggup menyelesaikannya. Agar kisah Ping utuh, lancar, dan masuk akal, dibutuhkan jalinan drama yang kompleks dan lebar, sesuatu yang dulu belum sanggup saya tangani. Singkat kata, selama bertahun-tahun saya telah meremehkan Ping dan dunianya. Saya menganggapnya sebagai cerita “mudah”. Tokoh anak SMA, murni drama, apa susahnya? Sungguh saya keliru.
Tidak ada makhluk angkasa luar, tidak ada dimensi lain, tidak ada unsur mistis maupun sains tingkat tinggi di sini. Namun, inilah salah satu drama paling rumit yang pernah saya tangani, melibatkan ensambel karakter yang jumlahnya sangat banyak sekaligus harus ditangani satu demi satu secara terperinci. Meski demikian, ini juga salah satu proses menulis yang paling mengasyikkan. Bersama Ping dan Rapijali, saya ikut meniti kenangan saat sekolah dulu, ketika berkesenian merupakan segalanya, ketika dinamika pertemanan bisa sebegitu menggemaskan.
Kebangkitan Rapijali melunasi utang saya, melengkapi katalog karya saya dengan tokoh-tokoh remaja, mempertemukan kembali dua dunia saya—fiksi dan musik. Terlepas dari pemenuhan Rapijali di sisi pribadi, saya berharap kisah ini dapat membangkitkan gairah bermusik dan berkesenian untuk pembacanya, baik bagi yang sedang menjalani, beraspirasi, atau sekadar ingin mengenang.
Wahai para semua musisi muda di luar sana, temukan lagumu di tengah hiruk-pikuk dunia. Tiada suara lain yang lebih merdu daripada suara hatimu. Untuk kalian semua, saya dedikasikan buku Rapijali ini.

27 Comments
Kalau tahun 93 berusia 17 tahun berarti seumuran istri saya lah ya.. keren mbak Dee
ini baru favorit…. trimakssih teteh dee
Terima kasiiih!
Tks Inspirasix mba dewi, sy baca ini setelah nonton podcast endgame he he he..
Hello and welcome!
Buku seri dari nover supernova. sya terinspirasi dari segi logo covernya. sy berencana untuk membuat cerita jga .. mba sangat menginspirasi
Makasih banyak buat apresiasinya!
Menarik sekali karya2 Mba Dee, saya sepertinya menjadi penggemar baru Mba Dee nih, saya awalnya tahu Mba Dee dari storynya Bu Titi DJ tentang Rapijali, sepertinya menarii sekali, saya akan bacaa…
Yeay! Terima kasih, selamat membaca.
Selalu seru! Gak sabar buat lanjut baca Rapijali 2. Semoga gak lama release nyaa
Selamat atas terbitnya rapijali, saya selalu suka dengan bacaan baru dari seorang penulis sekelas dee
Sukses terus ya
Makasih yaaa!
Saya jadi fans mba dewi semenjak baca aroma karsa. Risetnya ga maen2. Skrg lg baca rapijali, sukses trs mba dewi
RapiJali sesuai banget sama layout dan konten website Dee Lestari ini ya.. Salam kenal dari Permata Mutiara Maja ya mbak Dee yang tetap cantik dan awet muda
Terima kasih sudah membaca ya
Baru selesai baca Rapijali 2 versi cetak, yang Rapijali 3 kapan terbit ya?
Akhir tahun
Masih lama ya… Tetep semangat ya… *berharap bulan depan… 😀
baru sempet baca, ternyata bagus banget, ditunggu karya karya selanjutnya ka:))
Waaah… terima kasih! 🙂
Aku pengen bacaaaa!!!
Bener-bener dibawa ketawa ngakak dan sekaligus bisa terharu selama baca ceritanya. Dee memang keren, selalu memberikan tulisan yang menghibur dan memberi pengetahuan dengan kosa kata nya yang sangat kaya. Selalu suka dengan karya Dee Lestari. Terima kasih kak.
Terima kasiiih 🙂
Membaca Rapijali dan karya lain milik Mba Dee Lestari. Mengagumkan!. Berkali-kali saya dibuat jatuh cinta dengan karya yang sengaja disiapkan dengan cara yang sempurna. Saya mantap untuk memberi bintang 5 kepada Mba Dee Lestari atas karya yang luar biasa ini. Rapijali yang ditulis dari hati, meninggalkan kesan yang tak biasa.
Waaah… makasih banyak, ya!
Cinta memang butuh waktu. Terimakasih banyak untuk Band Rapijali yang sudah mengembalikan hasrat fiksi saya yang selanjutnya menginisiasi untuk membaca kembali KPBJ. Eh malah keterusan sampe IEP. Sungguh kisah petualangan spiritual yang luar biasa. Ditunggu karya selanjutnya ya mb Dee.
Terima kasih juga sudah mengikutinya.