Rapijali 1: Mencari

Ping, seorang remaja perempuan 17 tahun yang tumbuh besar di sebuah desa nelayan, merasa telah memiliki segala yang ia butuhkan. Dunianya yang damai di Pantai Batu Karas, rumahnya yang penuh alat musik di tepi Sungai Cijulang, seorang sahabat terbaik, serta kakek yang menyayanginya. Namun…

Dam-diam Ping menyimpan kegelisahan tentang masa depannya yang buram. Bakat musiknya yang istimewa tidak memiliki wadah, dan ia tidak berani bercita-cita.

Hidup Ping jungkir balik ketika ia harus pindah ke Jakarta dan tinggal bersama keluarga calon gubernur. Ping mesti menghadapi sekolah baru, kawan-kawan baru, dan tantangan baru. Meski awalnya berat hati pindah ke ibu kota, di sana Ping justru menemukan band impian yang dibentuk bersama teman-teman sekolahnya dan seorang pengamen. Band mereka, Rapijali, lantas mengikuti kompetisi band tingkat nasional.

Mungkinkah Ping akhirnya menemukan apa yang hilang dari hidupnya selama ini? Dan, apakah Ping siap dengan yang ia temukan? Bahwa, hidupnya ternyata tidak sesederhana yang ia duga.

Credit

Release date

2004

Volume

85.000 kata

Penyunting

Dhewiberta

Jumlah halaman

444 Halaman

Format

Soft cover

ISBN

978-602-8811-61-3

Penerbit

Bentang Pustaka

Press

  • Dua sahabat, Ben dan Jody, berambisi untuk meramu kopi dengan citarasa sempurna.
  • Kedai mereka, Filosofi Kopi, adalah tempat yang begitu dicintai.
  • Bukan hanya karena kopi yang luar biasa, melainkan juga karisma Ben sebagai seorang barista.

Filosofi Kopi: Dua sahabat, Ben dan Jody, berambisi untuk meramu kopi dengan citarasa sempurna. Kedai mereka, Filosofi Kopi, adalah tempat yang begitu dicintai. Bukan hanya karena kopi yang luar biasa, melainkan juga karisma Ben sebagai seorang barista. Ben’s Perfecto, mahakarya Ben, akhirnya harus berhadapan dengan Kopi Tiwus, kopi sederhana dari sebuah warung di desa kecil milik Pak Seno.

Mencari Herman: Hera terobsesi ingin punya kenalan bernama Herman. Keinginan yang sekilas tampak sederhana ternyata tidak sesederhana hidup Hera yang penuh drama. Babak demi babak pencarian Herman menandai perjalanan Hera dan orang yang dipanggilnya Abang.

Surat Yang Tak Pernah Sampai: Apa rasanya perpisahan yang dilakukan sepihak? Apa rasanya memendam cinta yang tak pernah punya kesempatan bersuara? Ketika sepucuk surat menjadi satu-satunya sarana, surat itu menjadi begitu sarat.

Sikat Gigi: Tio tak pernah memahami konsep cinta Egi yang dinilainya irasional dan buta. Sementara Egi merasa Tio terlalu rasional untuk memahami cinta. Persepsi keduanya dipertemukan oleh sebatang sikat gigi.

Sepotong Kue Kuning: Indi tahu ia jatuh cinta kepada orang yang salah. Tetap saja, ia menjalaninya bertahun-tahun. Sepotong bulan di langit hitam menjadi penanda waktunya, menemani Indi untuk akhirnya menemukan kebebasan yang ia cari.

Lara Lana: Lana memiliki sahabat yang luar biasa, belahan jiwa, satu-satunya manusia yang bisa memahaminya. Sayangnya, persahabatan mereka harus berubah, tepat pada saat Lana menyadari bahwa sahabatnya adalah satu-satunya cinta yang ingin ia miliki.

Buddha Bar: Di mata Nelly, ia memiliki empat laki-laki yang tak tergantikan: Probo, Omen, Jack, Bejo. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Nelly tak harus memilih. Ia cukup menerima bahwa ia tak bisa memilih.

Rico de Coro: Pangeran kecoak bernama Rico de Coro jatuh cinta kepada Sarah. Masalahnya, Sarah bukan kecoak, melainkan manusia. Ayah Rico, Hunter, berusaha menyadarkan anaknya. Sementara itu, keluarga Sarah semakin rajin memburu kecoak untuk pakan ikan. Terdesak untuk menyelamatkan kerajaannya, Hunter terpaksa menggunakan cara yang berbahaya.

Puisi dan prosa pendek dalam antologi ini meliputi Salju Gurun, Kunci Hati, Selagi Kau Lelap, Jembatan Zaman, Kuda Liar, Diam, Cuaca, Lilin Merah, Spasi, dan Cetak Biru.

Filosofi Kopi: Dua sahabat, Ben dan Jody, berambisi untuk meramu kopi dengan citarasa sempurna. Kedai mereka, Filosofi Kopi, adalah tempat yang begitu dicintai. Bukan hanya karena kopi yang luar biasa, melainkan juga karisma Ben sebagai seorang barista. Ben’s Perfecto, mahakarya Ben, akhirnya harus berhadapan dengan Kopi Tiwus, kopi sederhana dari sebuah warung di desa kecil milik Pak Seno.

Mencari Herman: Hera terobsesi ingin punya kenalan bernama Herman. Keinginan yang sekilas tampak sederhana ternyata tidak sesederhana hidup Hera yang penuh drama. Babak demi babak pencarian Herman menandai perjalanan Hera dan orang yang dipanggilnya Abang.

Surat Yang Tak Pernah Sampai: Apa rasanya perpisahan yang dilakukan sepihak? Apa rasanya memendam cinta yang tak pernah punya kesempatan bersuara? Ketika sepucuk surat menjadi satu-satunya sarana, surat itu menjadi begitu sarat.

Sikat Gigi: Tio tak pernah memahami konsep cinta Egi yang dinilainya irasional dan buta. Sementara Egi merasa Tio terlalu rasional untuk memahami cinta. Persepsi keduanya dipertemukan oleh sebatang sikat gigi.

Sepotong Kue Kuning: Indi tahu ia jatuh cinta kepada orang yang salah. Tetap saja, ia menjalaninya bertahun-tahun. Sepotong bulan di langit hitam menjadi penanda waktunya, menemani Indi untuk akhirnya menemukan kebebasan yang ia cari.

Lara Lana: Lana memiliki sahabat yang luar biasa, belahan jiwa, satu-satunya manusia yang bisa memahaminya. Sayangnya, persahabatan mereka harus berubah, tepat pada saat Lana menyadari bahwa sahabatnya adalah satu-satunya cinta yang ingin ia miliki.

Buddha Bar: Di mata Nelly, ia memiliki empat laki-laki yang tak tergantikan: Probo, Omen, Jack, Bejo. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri. Nelly tak harus memilih. Ia cukup menerima bahwa ia tak bisa memilih.

Rico de Coro: Pangeran kecoak bernama Rico de Coro jatuh cinta kepada Sarah. Masalahnya, Sarah bukan kecoak, melainkan manusia. Ayah Rico, Hunter, berusaha menyadarkan anaknya. Sementara itu, keluarga Sarah semakin rajin memburu kecoak untuk pakan ikan. Terdesak untuk menyelamatkan kerajaannya, Hunter terpaksa menggunakan cara yang berbahaya.

Puisi dan prosa pendek dalam antologi ini meliputi Salju Gurun, Kunci Hati, Selagi Kau Lelap, Jembatan Zaman, Kuda Liar, Diam, Cuaca, Lilin Merah, Spasi, dan Cetak Biru.

Bio