AROMA KARSA: Catatan Untuk Calon Petualang Digital
January 16, 2018Di Setapak Bersama Arswendo
July 22, 2019Saat Anda tiba pada catatan ini, kemungkinan besar Anda sudah menamatkan kisah Aroma Karsa. Jika belum, saya sarankan Anda tuntaskan terlebih dahulu agar catatan ini dapat disimak dalam konteks yang sesuai.
RISET DAN PROSES KREATIF
Riset merupakan bagian yang selalu ada di hampir semua karya saya. Namun, baru pada Aroma Karsa, saya mencoba mendokumentasikan prosesnya sebaik mungkin. Hasilnya di luar dugaan. Niat sederhana yang tadinya hanya sekadar dokumentasi untuk konsumsi pribadi, akhirnya menjadi materi edukasi bagi pembaca tentang proses kreatif yang dilalui penulis untuk melahirkan karya.
Sebagian besar dari proses tersebut saya bagikan di Digital Tribe Aroma Karsa, sebuah grup tertutup di Facebook khusus pelanggan cerbung Aroma Karsa yang telah berjalan sejak Januari 2018. Sebagian lagi masih disimpan karena saya tidak ingin menginterupsi imajinasi pembaca saat mereka menikmati babak-babak akhir Aroma Karsa yang berlokasi di Gunung Lawu. Sekarang, setelah cerbung Aroma Karsa tamat dan versi cetaknya sudah rilis, barulah saya siap membuat materi lengkap tentang proses riset maupun berbagai cerita menarik di balik layar, lengkap dengan foto dan sketsa. Materi ini akan saya terbitkan secara digital pada pertengahan April 2018 melalui Bookslife dengan judul Aroma Karsa: Di Balik Tirai.
PERBEDAAN VERSI DIGITAL & CETAK
Ketiadaan proses percetakan memberikan versi digital Aroma Karsa keleluasaan revisi, bahkan improvisasi.
Dilempar secara bersambung setiap dua kali seminggu, para pembaca berkesempatan memberi perhatian yang lebih mendetail kepada isi cerita. Saya sendiri berkesempatan memonitor respons pembaca dari dekat, mengetahui bagian mana yang menimbulkan reaksi kuat, karakter dan dialog mana yang paling berkesan, termasuk menerima input teknis maupun koreksi editorial. Sementara, produksi buku cetak yang sudah harus dikunci sejak 1,5 bulan lalu, tidak memungkinkan untuk direvisi hingga nanti saatnya cetak ulang.
Akibatnya, ketika tulisan ini diturunkan, masih ada perbedaan antara versi digital dan cetak. Perbedaan itu tidak mempengaruhi jalan cerita, tapi ada detail serta revisi suntingan yang menjadikan Aroma Karsa digital per saat ini lebih “sempurna” ketimbang cetakan pertama. Pada cetakan kedua, barulah kedua manuskrip tersebut bisa disamakan. Untuk itu, di bagian akhir saya lampirkan daftar revisi utama. Di luar itu, masih ada sederet revisi halus berupa perubahan susunan kata dan frase, yang akan saya biarkan untuk dinikmati langsung di cetakan kedua. Daftar revisi tersebut dapat Anda unduh di ujung artikel ini.
Jangan berkecil hati karena merasa mendapatkan versi yang kurang sempurna. Cetakan pertama selalu dinilai yang paling bersejarah, dan salah satu alasannya adalah justru karena ketidaksempurnaannya.
SINERGI DUA FORMAT: DIGITAL & CETAK
Pertama kali saya melansir informasi tentang cerita bersambung digital Aroma Karsa, pembaca seolah terbelah dua. Mereka yang tertarik mencoba pengalaman digital,yang mungkin didorong oleh rasa penasaran untuk segera mengikuti cerita baru ketimbang menunggu dua bulan lagi, atau bisa jadi juga karena alasan-alasan lain seperti, sudah terbiasa mengonsumsi buku elektronik, tertarik dengan paket yang ditawarkan, ingin coba pengalaman baru, dst. Di sisi lain, ada juga mereka yang bertahan menunggu versi cetak dengan berbagai alasan, antara lain lebih ramah mata, romantisme memegang dan membaui buku fisik, tidak suka “digantung”, dsb.
Bagi saya, tentu tidak ada yang keliru dengan semua alasan itu. Hanya saja, di akhir perjalanan ini, saya ingin sekali lagi menegaskan bahwa versi digital dan versi cetak Aroma Karsa merupakan komplementer, bukan kompetitor. Relasi yang tepat bagi keduanya adalah “dan”, bukan “atau”. Cerbung Aroma Karsa bukan semata-mata produk digital seperti membeli buku elektronik di Kindle atau Google Playbook, melainkan pengalaman membaca yang tidak akan terulang dua kali. Sebuah kisah diikuti secara kolektif, diwadahi dalam komunitas tertutup, di mana para pembaca bisa berinteraksi satu sama lain dan berkomunikasi dengan saya secara intens selama dua bulan. Belum tentu dua kali saya bisa mewujudkan karya yang pas untuk format seperti ini. Aroma Karsa bisa jadi yang pertama dan terakhir.
Sebagai format eksperimen di platform yang terbilang baru, cerbung digital Aroma Karsa tentu tak terlepas dari kendala teknis. Untuk itu, saya mewakili tim penerbit Bookslife, memohon maaf atas segala ketidaknyaman yang timbul sepanjang penerbitan cerbung, sekaligus berterima kasih sebesar-besarnya atas partisipasi pembaca sekalian, yang per saat ini mencapai 2.000 pengguna.
Khususnya untuk +/- 900 anggota Digital Tribe Aroma Karsa, saya haturkan terima kasih tak terhingga atas pengalaman membaca bersama yang luar biasa. Saya ikut belajar banyak dari kebersamaan kita, dan itu bisa dilihat dari pesatnya kemampuan saya membuat aneka meme.
SEQUEL OR NO SEQUEL?
Menanggapi akhir Aroma Karsa yang memancing banyak pertanyaan seputar sekuel, harus saya tegaskan bahwa saya belum tahu dan belum mengagendakannya. Kalau dalam bahasa praktis Pak Produser Reza Gunawan: “Belum tahu, lihat nanti, berharap silakan, ditagih jangan.”
Walau saya pribadi amat menyukai dan merasa kerasan di semesta Aroma Karsa, saya ingin memiliki halaman kosong, a clean leaf page, yang membatasi karya ini dengan karya berikutnya—entah apa. Aroma Karsa sudah saya agendakan sejak empat tahun lalu, telah saya mulai proses kreatifnya sejak satu setengah tahun lalu, dan masih akan bersamanya hingga program promosi usai. Agenda terdekat saya sesudah itu adalah beristirahat dan hibernasi.
Pengerjaan setiap buku merupakan sebuah panggilan. Seusai menamatkan satu karya, biasanya saya akan rihat sambil merasa-rasa ide berikut mana yang “memanggil” saya. Akan saya biarkan ide itu bertumbuh menjadi tunas dalam kepala saya, yang secara konkret artinya mereka-reka potensi ide dan konstruksi cerita sampai cukup matang untuk digarap menjadi proyek kreatif berikut. Di luar komitmen serial seperti Supernova, sungguh saya tidak bisa merencanakan ide mana yang tergarap lebih dahulu, karena tidak semua ide punya potensi berkembang jauh.
Aroma Karsa adalah jenis cerita yang menyisakan pintu bagi berkembangnya imajinasi pembaca sekaligus jalan masuk bagi saya untuk kembali ke semesta yang sama. Namun, jikapun pintu tersebut tidak dipakai, saya tetap merasa Aroma Karsa telah berakhir sebagaimana mestinya, sebagaimana saya, selaku penulisnya, telah mendesain selengkung busur cerita yang ditutup pada sebuah titik. Demikianlah titik akhir yang terbaik menurut saya. Terlepas adanya sekuel atau tidak.
Kanvas bersih merupakan kemutlakan sebelum saya bisa memulai karya baru. Kanvas bersih itulah yang ingin saya berikan kepada diri saya, sekaligus kepada calon karya berikutnya. Segala beban, harapan, ekspektasi, tidak perlu mengikutinya sehingga setiap karya kembali murni menjadi panggilan. Bukan suruhan, atau pun pemanfaatan kesempatan.
Berikan saya kesempatan untuk membersihkan kanvas, dan kelak kita berjumpa di karya baru, kesegaran baru, yang mana pun itu.
[qbutton size=\’big_large\’ style=\’\’ text=\’Unduh Ralat Aroma Karsa Cetakan 1 (pdf – 152kb)\’ icon_pack=\’\’ fa_icon=\’\’ fe_icon=\’\’ icon_color=\’\’ link=\’https://deelestari.com/wp-content/uploads/2018/03/Ralat-Aroma-Karsa-Cet-1.pdf\’ target=\’_blank\’ color=\’\’ hover_color=\’\’ border_color=\’\’ hover_border_color=\’\’ background_color=\’\’ hover_background_color=\’\’ font_style=\’\’ font_weight=\’\’ text_align=\’center\’ margin=\’\’]
225 Comments
baiklah™ *meminyak *eh menyimak
Kurang pic primata! 🙂
Saya telah tuntas membaca versi cetak. 724 halaman, tak satu kalimat pun terlewat tanpa makna, tanpa rasa. Seluruh cerita ditutup dengan sempurna, maka biarkanlah tetap seperti itu. Terima kasih telah membuat diri saya bertambah kaya.
Saya sudah membaca Aroma Karsa hanya dalam waktu 5 hari. Dari 700 halaman yg ada. Ini merupakan rekor buat saya yg bisa membaca buku setebal itu dalam waktu singkat. Ceritanya begitu menarik. Dan tidak ada kaya jenuh setiap memulai membacanya. Rasanya ingin terus dan terus mrlanjutkan hingga rampung. Buku ini begitu lengkap kisahnya. Dan yg bikin saya baper adalah kisah cintanya. Jujur sy masih sangat ‘jatuh cinta’ dengan kisah cinta yg seperti itu. Dan untuk buku ini juga. Saya masih begitu jatuh cinta dan ingin baca lagi. Walaupun sy sudah menghabisakan buku 3 judul. Perasaan ingin membaca ulang masih ada. Berharap buku ini ada lanjutannya. 😊😊😊
Terima kasih banyak, ya. Ikut senang jika kamu bisa menikmati Aroma Karsa sedalam itu.
Ibu Suri, saya membaca bukunya kemarin dan sampai tak rela berhenti (akhirnya sempat berhenti makan karena sudah ditegur badan sendiri yang terasa dingin). Very captivating. Mungkin ini benar namanya candu yah, bagus banget, membuat saya lekat dan sekaligus membebaskan pikiran saya mengembara ke mana-mana. Hari ini masih gak bisa lepas dari pikiran dan rasa nih haha. Terima kasih untuk Aroma Karsa, semoga terus memberi makna dalam kehidupan ini.
Ah, terima kasih. Senang mendengarnya!
Dalam 2 hari Aroma Karsa saya tuntaskan. Karya yg sangat menarik, membuat penasaran disetiap helai halamannya. Bahkan endingnyapun seolah mengantung menyisakan rasa penasaran yg baru. Bravo Dee ditunggu karya2 berikutnya. Terima kasih telah membagikan petualangan seru bagi imajinasi.
Terima kasih juga sudah membaca!
Lumayan yah, koreksinya. Kira-kira cetakan kedua kira-kira kapan dirilis? Menunggu versi yang sudah dikoreksi.
Belum bisa dipastikan kapan.
Terima kasih atas pencerahannya , Mbak/Teh/Kak Dee. Sejak mulai membaca Aroma Karsa , saya berusaha lebih peka dengan aroma di sekitar saya, berhenti sejenak membaui dan menikmati aroma yang sebelumnya tidak saya sadari saat berjalan di rute yang sama setiap harinya. I enjoy my life more with more sensory awareness. Terima kasih untuk karya yang out of the box, well researched and executed, and take home messages (yang mungkin sesuai dengan interpretasi masing-masing orang). Semoga sukses dan bahagia selalu 🙂
That’s good to know. Terima kasih doanya, ya.
Ibu Suri, begitu selesai membaca versi cetaknya saya langsung menuju laman ini untuk menuntaskan keseluruhan #AromaKarsa. Sedikit pendapat pribadi perihal “Sequel or No Sequel”, saya sangat setuju ketika Aroma Karsa dikatakan telah tamat setamat tamatnya. Sebagaimana diatas diumpamakan anak panah yg telah tepat mengenai sasarannya. Tuntas sudah tugas anak panah yang telah dilepaskan oleh busur itu. Tapi disatu sisi saya tetap haus dan penasaran akan aroma-aroma baru lainnya untuk kembali saya reguk melalui karya-karya Ibu Suri sebagaimana rasa penasaran Jati akan aroma baru… Nah, dari situ, dengan penuh harap, saya berdoa semoga Ibu Suri diberi kesehatan dan inspirasi untuk membuat semacam spin-off, prekuel atau apalah itu namanya dari #AromaKarsa… Menjadikan #AromaKarsa sebagai Kangga nya, semoga akan terlahir formulasi dari Darani, Anggana, Teja dan Condra… Tidak dalam format novel, bayangan saya cukup seperti cerpen dalam dua atau tiga bab… Mungkin ide ini sudah pernah terlintas di benak Ibu Suri atau pernah juga disampaikan oleh orang lain sebelum saya, tp yg jelas, besar harapan saya tumbuh tunas-tunas baru dari #AromaKarsa. Sehat selalu Ibu Suri. Ditunggu kelahiran tunas-tunas baru itu. 🙂
Usulan menarik, terima kasih.
#AromaKarsa baru dan asing buat saya pribadi, berhubung saya bukan orang yg peka terlebih soal wewangian dan bebauan, yang saya tau hanya wangi enak dan bau gak enak, tapi ibu suri memberikan suguhan aroma yg apik untuk penciuman saya, dan buat saya penasaran ingin menciumi aroma di sekeliling saya. Entah itu sekuel, prekuel atau apapun, saya tunggu karya terbaikmu #motherofaliens . Terimakasih telah mengenalkan saya pada Jati, dan bikin jadi naksir, tapi Arya boleh juga jadi pengin disopirin.. Sehat selalu ibu suri I adore U..
Setelah Supernova di buat jatuh cinta kembali dengan #AromaKarsa tapi rasanya beda, gimana tuh yaa wkwkw I adore U ibu suri. Entah itu sekuel prekuel atau apapun aku tunggu karya apik ibu suri lainnya. Sehat terus #motherofalien
Amin, terima kasih ucapannya.
Istirahat saja dulu Bu Dee. Ga ada yang ngejar kok. Hehehe.. Aroma Karsa sudah terlalu indah, tapi memang menyisakan fantasi lebih jauh, yang entah mungkin bisa divisualisasikan atau diteruskan fantasinya.. 🙏
Terima kasih banyak atas pengertiannya 🙂
Das Parfum nya berasa banget
Sudah membaca sampai habis? Karena membandingkan dengan Das Parfum/Perfume adalah tipikal komentar pembaca yang baru membaca sampai sinopsis, atau membaca 1/3 buku. Kalau sudah habis masih berkomentar serupa, saya bisa pahami juga karena Grenouille dan Jati sama2 punya penciuman tajam. Namun, premis cerita, maupun karakter keduanya, menurut saya sangat jauh berbeda.
Penulis yang selalu istimewa karyanya di mata saya. Banyak yang bilang kalau AK ini lebih mudah dan smooth dibaca, dua hari langsung selesai. Saya sendiri agak struggling karena nyoba mendalami setiap karakter dan justru baca dipirit biar jangan cepat selesai. Jati Wesi serasa saudara dengan Alfa. Pada beberapa hal, walau sulit menjelaskan bagian mananya. Apakah baru saya yang bilang atau ada yang merasakan juga?
Penasaran aja, Mbak Dee, saat menulis apakah karakter-karakter tersebut “dijadikan” oleh Mbak Dee atau mereka yang “menuntun” seperti apa mereka dan masa depan mereka? Apakah menurut Mbak Dee karakter-karakter di buku-buku sebelumnya ada yang menitis ke karakter baru, dengan sifat yang mirip-mirip? Saya bener-bener punya banyak pertanyaan tentang proses penulisannya. Hehe. Tapi menurut saya itulah tandanya buku yang baik. Dia tidak berakhir di titik, melainkan terbuka untuk pembahasan yang lebih panjang.
Oh, satu lagi. Saya SANGAT kagum akan penulisan yang sungguh apik tutur bahasa Indonesianya, tanpa campur-campur bahasa Inggris. Terima kasih pembelajarannya!
Halo. Mengenai Alfa-Jati, agak susah menanyakan kepada saya karena menurut saya ini interpretasi subjektif dari pembaca. Kalau dilihat dari character trait yang saya susun sebetulnya jauh berbeda. Alfa berorientasi kepada keluarga, Jati tidak. Alfa lebih social-savvy, Jati tidak. Alfa tahu pasti asal usulnya, Jati tidak. Dengan demikian, motivasi mereka juga jauh berbeda. Tapi, ada pembaca yang berkomentar, kekangenan mereka terhadap Alfa terobati dengan Jati. Jadi, saya rasa dalam hal ini sangat subjektif.
Mengenai karakter menuntun atau dituntun, bisa dibaca dalam salah satu artikel blog saya di situs ini. Bagi saya, karakter adalah “carrier” dari cerita, jadi mereka dituntun plot, bukan sebaliknya. Sifat mereka lebih ditentukan kebutuhan cerita. Kebutuhan cerita akan menentukan kebutuhan sifat/karakterisasi tokoh. Terima kasih banyak sekali atas apresiasinya.
Truth is.. namatin buku ini dalam 4 jam saja.. well baiklah saya ada skip2 bagian yang Raras ngomongin mau ekspedisi.. lebih konsen ke Jati (OF COURSE) dan Suma.. dan penciuman mereka.. dan segala detail buku ini yang mendeskripsikan segalanya begitu nyata I feel like I was there, di samping Jati.. sampe ngendus2 bau suami.. bener ga yah aroma DNA itu kaya susu dll..
Kaya orang yang sakau…. ga ngelewatin satu malam pun tanpa baca ulang buku ini.. sampe dicemburuin suami dan akhirnya sekarang dia bawa buku ini kemana-mana..
Ada satu rasa kangen yang kayanya ga bakal keobatin (*ketok meja) I really need more dose of Jati Wesi dan Suma dan Puspa Karsa yang mengerikan itu!!! I have to admit pas bab 50-an kalo ga salah, sampe lirik2 ke belakang.. duhhhh ko udah mau abis lagi sih bukunya (for me THAT is scary)
Maaf *tarif nafas dua kali
Sekian pengakuan dari penggemar dan pelahap semua buku Anda namun ga bisa nulis dalam bahasa yang lebih intelek seperti Anda
Arrrghhhh sakauuuuuuuuu!!
Paket komplit, Realita, Mistik, Mitos, Adventure, Kegilaan, dan tentu saja Romantisme ada di novel ini.
Novel yang membuat saya lebih tertarik pada tokoh tokoh antagonisnya dan tokoh selintasnya dibanding tokoh utama.
Saya suka karakter Raras dan Pak Sarip.
Raras adalah kegilaan kita semua, tentang obsesi dan cita cita. Raras adalah aktor politik handal, apa yang ditawarkannya tak mampu ditolak orang lain. Keinginannya selalu bisa terpenuhi. Mengingatkan saya pada tokoh Don Vito, sekaligus Don Carleone.
Tapi yang paling membekas di persepsi saya tentang Raras, Dia adalah Mooryati Soedibyo dalam versi yang Kelam.
Pak Sarip sipir penjara yang doyan nyinyir dan nyeletuk saat melihat orang lain bahagia. Orang orang seperti pak Sarip ini kini semakin menjamur, di social media dia menyaru sebagai netizen. Sarip meracuni pikiran kita secara perlahan, dalam candanya ia bisa meruntuhkan mental para pejuang yg lemah.
Sekali lagi saya tegaskan ini novel yang enak dibaca, paket komplit. Terima Kasih sudah menulis novel ini.
Terima kasih sama2 sudah ikut membaca Aroma Karsa.
Saya merasa jahat menghabisin karya Ibu Dee dalam sehari..hahah,
Entah mengapa begitu mengenal Raras Prayagung, saya teringat akan sosok Nyai Ontosoroh karya Mbah Pramoedya, sosok yg wanita yang ulet,pekerja keras, mandiri, dominasi nya terhadap org di sekitar nya, memiliki anak yg cantik namun hanya sebagai penerus bisnis, apa mungkin Nyai Ontosoroh pake Puspa Karsa juga ya?
Dan saya mengucapkan terima kasih atas karya Ibu yg membuat saya mengingat kembali aroma-aroma pedesaan, seperti mendung, rumput,pepohonan,buah, air hujan yg tidak saya bisa jumpain di kota,hahah
Saya menantikan karya berikut nya. Terima Kasih
Terima kasih banyak sudah membaca!
Apakah perwujudan sanghyang batari karsa di dunia nyata adalah gastrodia bambu atau anggrek hantu? Anggrek langka yg baru ditemukan dan endemik pulau jawa (jateng-jabar)? Saya malah penasaran dengan ciri2 yg dijelaskan di bab-bab akhir dan sangat menarik… jika dilihat dr ciri2nya tanaman itu yg mendekati… dari mulai warna, bau, juga anggrek hantu tidak berdaun krna dia tidak punya klorofil untuk fotosintesis dan akhirnya mencari mangsa dengan bau itu untuk menarik serangga… habitatnya di sekitar rumpun bambu… dan jika benar itu berarti wow bgt… krna saya nyari2 jenis gastrodia satyanae dan utricularia satyanae gak bisa nemuin… tp saat tidak sengaja memcari gastrodia saya menemukan anggrek hantu itu… dan benar habitatnya mengandalkan mikoriza… apa benar bunga mitos itu adalah anggrek hantu atau gastrodia bambu? Kalau bukan lantas anggrek seperti apa? Jadi penasaran sama jenis anggreknya… dan 1 lgi yg bikin geli2 sndiri bau bangkai manusia seperti bau nanas dan apel? Benarkah? Saya terkesan dgn ceritanya begitu memaksa untuk terus membaca… 1 hari tamat… ceritanya memang pendek tapi alurnya yg panjang… kalau diumpamakan seperti dari jkt ke bdg naik kreta.. tp lewat cirebon trus k purwokerto dari sana muter di cilacap trus jalan lewat jalur selatan garut dan sampailah di bdg… mengesankan… banyak ilmu yg bisa di comot dari buku setebal itu… gak sia2 dan terima kasih atas salah satu karya terbaikmu satu lagi…🙏😍
Bagus sekali novelnya, saya tidak mampu berhenti membaca sampai tuntas jam 3 pagi. Sampai2 dimarahi suami, “itu namanya hawa nafsu”, hahaa..
Saya yakin bakalan ada sambungannya, banyak sekali clue nya kok, hehehe.. Saya pastikan saya akan beli begitu diterbitkan. Saya sabar menunggu 🙂
Akhirnya Aroma Karsa berhasil ku baca tuntas setelah menyisihkan waktu yg beneran lowong. Biasanya buku teteh yg lain langsung saja ku baca, tapi tidak untuk yg satu ini. Membaca aroma karsa bukan hanya menggandalkan imajinasi, tapi juga indra penciuman. Setiap membaca kalimat per kalimat tanpa sadar sy berusaha membaui apapun yang tokohnya utarakan. Terutama part jati dan suma. Paling gak bisa kalau ada nama wangi yg saya tidak tahu, duh penasaran bgt seperti apa. Sungguh aroma karsa buku yg istimewa. Terima kasih untuk aroma karsa dan pengalaman baru dalam membaca-membaui sebuah buku teh 😊🙌❤
Terima kasih juga sudah membaca.
Terima kasih sama2.
Ibu Suri, terima kasih telah menghadirkan semesta indah Aroma Karsa kepada saya. Seperti gila, melambung-lambung membayangkan tiap aroma yg dihadirkan dalam Aroma Karsa. Ibu, apakah beasiswa penuh Dirga jadi diberikan, melihat kapten Jindra dan ibu Raras yg tidak selamat dalam ekspedisi terakhir ini ? Malah ini yang menghantui pikiran saya 😊
Sekali lagi terima kasih atas karya yg hebat ini. Saya menunggu karya Ibu Suri selanjutnya 😊 Selamat berlibur 😊
Terima kasih banyak sudah membaca, ya.
Saya termasuk jenis orang yang penasaran dan ingin segera menuntaskan makanya saya lebih baik menunggu buku versi cetaknya. Waktu Dee Lestari di acara Sarah Sechan, tidak berselang lama saya ke toko buku untuk PO, dan setelah menunggu cukup lama akhirnya saya bisa membawa Aroma Karsa pulang. Saya sudah berekspektasi tinggi mengingat serial supernova sebelumnya. Supernova dan Aroma Karsa memang memiliki warna yang berbeda, namun menurut saya keduanya merupakan karya sastra terbaik yang pernah saya baca. Keduanya sudah sampai ‘ke sana’.
Kalau kebanyakan orang menghubungkan Jati Wesi dengan Alfa, saya justru teringat Parang Jati-nya Ayu Utami.
Bagian terfavorit saya adalah koleksi Puspa ananta, saya terinspirasi untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa visual. Apakah memungkinkan jika saya menjadikan koleksi Puspa ananta menjadi koleksi busana?
Sebenarnya saya baru beberapa tahun ini mengikuti karya-karya Dee Lestari, bahkan saya baru membaca serial pertama supernova 2th lalu. Kemudian saya penasaran dan membaca seluruh serial supernova, beberapa kumpulan cerpen dan sekarang Aroma Karsa. Padahal dulu waktu saya SD sempat memiliki cita-cita menjadi penulis karena membaca profil Dee Lestari di majalah. Sekarang sesekali masih menulis, namun sepertinya saya lebih menyukai desain. Tetap saja saya seorang pecinta buku dan Sastra.
Yang terpenting saya ingin mengucapkan terimakasih untuk Dee Lestari, karya-karya Anda yang sangat menginspirasi. Saya harap suatu saat kita dapat bertemu, mungkin saat itu terjadi saya tidak akan bisa bicara sebanyak ini karena bagi saya lebih mudah mengungkapkan perasaan melalui tulisan daripada lisan. Mohon maaf melenceng dari Aroma Karsa 🙏😆😆
Terima kasih juga sudah membaca.
Kini saya bersemangat mencetak lembar ralat Aroma Karsa cetk. 1, menggunting lalu menempelkannya di novel. Dari sekian buku Ibu Suri, membaca Aroma Karsa menstimulus indera penciumanku, berimajinasi dan berkhayal. Seperti sekarang, ketika saya menulis komentar, sapi di kandang sebelah rumah mengucurkan air bak keran PMK. Kalau ada Jati, saya suruh dia merumuskan formulanya. Ku bawa ke lab. Lalu kujual menjadi pembasmi hama alami. Terima kasih sekali lagi. Sudah membuka cakrawala hidung saya. Semoga jika difilmkan, lubang hidung Jati dan Suma tak selebar jempol. Terima kasih. Saya .. ah sudah. Pamit saja. *Cium novel mendeteksi ini aroma apa ya*
Terima kasih banyak sudah membaca, Wildan.
Tanggapan Ibu aku sambut dengan riang gembira.
Kini, rasa berjarak (antara aku dan Ibu) itu terkikis oleh tanggapan Ibu.
Karya-karya Ibu sangat menginspirasi dan Aroma Karsa ini menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benak. Ibu sudah berhasil mengangkat kelokalan, memberikan kesegaran, dan pembaruan di bacaan-bacaan saya, lebih luasnya di literasi novel Indonesia.
Dengan ucapan terima kasih sekali lagi, kububuhkan ungkapan usai membaca Aroma Karsa, jika Ibu memiliki kesempatan, bisa membuka secuil ungkapan saya untuk Aroma Karsa di http://katabersua.blogspot.co.id/2018/04/aroma-karsa-dewi-lestari-sebuah_4.html?m=1 . Tentunya saya sangat riang gembira jika Ibu sila ke tulisan saya. Semoga Ibu selalu sehat.
Wah, terima kasih banyak atas review-nya, ya. Sangat saya hargai.
membaca Aroma Karsa membawa saya kembali teringat partikel dalam supernova. Namun AK memang sesuatu yang berbeda dengan cerita yang tak kalah menarik. Meskipun pada lembaran akhir AK telah bertuliskan tamat. Tetapi saya merasakan hal tersebut sangat menggantung. Saya menjadi penasaran bagaimana kelanjutan kehidupan dari Jati dan Suma kedepannya, kalau misalnya nanti mereka memiliki anak lalu akan seperti apa. Lalu bagaimana dengan Puspa Karsa yang berkembang biak. Apakah Jati akan melakukan hal yang sama seperti Pak Anung kepada Ambrik. Atau Pak Anung memiliki jalan keluar yang terbaik kepada Jati dan Suma. Saya sangat berharap AK akan menjadi supernova selanjutnya dengan melahirkan karya2 yang berbeda dan bermakna dari lainnya. Terimakasih
Menggantung sih nggak, tapi memancing rasa imajinasi ke pengembangan cerita. Menurut saya, itu dua hal yang berbeda. Sementara ini saya aminkan dulu harapannya. Terima kasih.
whoah. setelah selesai membaca versi cetak timbul pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya terjawab setelah membaca ralat versi cetak. imajinasi tak terpuaskan pun akhirnya juga “sedikit” terpuaskan setelah membaca ralat versi cetak.
kok hanya “sedikit”?
ibu suri, aku menggilai surat-surat Jati Wesi untuk Tanaya Suma, tetapi suratnya kurang banyak.
aku merasakan banyak rasa pada surat-suratnya Jati Wesi dan aku suka.
ketika membaca aroma karsa aku terpana, tak kuasa memberi jeda. dan sekilas teringat film parfume: the story of a murderer.
kutunggu torehan warna di kanvas berikutnya ibu suri.
💙
Kenapa Dee menamakan “penjaga” Puspa Karsa sebagai Wong Banaspati? padahal istilah Banaspati identik dengan jenis hantu Jawa yg wujudnya memiliki rambut api. Apakah karena Puspa Karsa sendiri (Sang Hyang Batari Karsa) itu semacam simbol hawa nafsu/ keserakahan, yg jg merupakan sifat dari syetan. Kalau memang begitu apakah artinya kisah cinta Jati Wesi- Tanaya Suma merupakan kisah cinta yang…….. Ah benar2 kisah cinta yg tak biasa( :D), dan mampu menyihir pembaca untuk mau berlama2 menikmati cerita mereka….
Dari penggemar sintingnya Randu& Malini
Di daftar ralat/revisi ada bagian yang menjelaskan pemilihan tsb.
Mba Dee,aku rasa cukup lah Aroma Karsa sampai di sini kalaupun nanti ada seri lanjutan atau spinoff nya aku lebih bahagia. Ada sedikit rasa menggantung sih pas 2 hariku kemarin dihabiskan buat baca versi cetak, tetapi pas tau ada catatan akhirnya rasa menggantungnya langsung sirna. Membaca Aroma Karsa agak agak harus ‘jutek’ karena aku pun jadi ikut ikutan memikirkan dan mencoba merasakan bau bauan di sekitar dan itu perlu waktu yang mengharuskan ku melipir sebentar dari orang banyak,hahaha. Dan kalau Aroma Karsa begini adanya tanpa serial atau spin off maka biarlah, aku akan dengan sabar kembali menanti imajinasi gila yang meletup letup dari karya Mba Dee selanjutnya. Terima kasih.
Ketika membuat karakter Jati Wesi, apakah Dee membayangkan seorang figur, misalnya artis atau seseorang dalam dunia nyata?
Dan satu yang membuat saya penasaran. Jati dan Suma memang bukan saudara kandung. Mereka bisa saja menikah. Tapi karena keduanya pernah mereguk ASI Ambrik, mereka menjadi saudara sepersusuan, ya?
Sudah pernah saya jelaskan bbrp kali di kesempatan berbeda. Tindakan Ambrik menyusui Jati adalah tindakan logis di kondisi darurat. Tdk mungkin dia menelantarkan Jati dan membiarkannya kelaparan. Jati sendiri bukan bayi biasa, dia punya status khusus di Dwarapala. Jadi, norma umum logikanya tdk berpengaruh kepada Jati. Secara subteks, ini juga bisa memperkuat hubungan batin antara Jati dan Suma. Semoga cukup jelas.
Mba dee saya beli aroma karsa yg edisi ttd tapi trnyata novelnya halaman trakhir cuma smpe hal 678 aja.. agak kecewa kok bsa halaman slanjutnya tdk ada.. padahal saya sngt antusias mmbaca novel ini, jd sedih ga bsa tau kelanjutan dan ending nya.. saya jg orang yg suka mengoleksi novel mba dee, agak nyesek ya koleksi saya jd ga lngkap..
Terima kasih sblmnya kalau komen ini bsa ditanggapi lebih lanjut.
Bisa ditukar ke Bentang Pustaka langsung, bisa kontak lewat medsos Bentang di IG/Twitter @bentangpustaka
Mungkin akan lebih epic lagi kalau tiba-tiba ada sayembara menebak wangi yang diselipkan pada buku Aroma Karsa 😄
*hanya sebuah imajinasi seorang pembaca dengan obsesi berlebih*
Membaca catatan penutup ini dan komentar-komentarnya membawa saya pada keadaan yang menghangatkan, entah karena air mata yang ingin menetes atau perasaan yang sama dengan teman-teman lain soal pengalaman membaca Aroma Karsa. Semoga saya tak dikutuk karena buku ini adalah karya kak Dee yang pertama kali saya baca. Saya suka… mungkin lebih, saya cinta dengan gaya berceritanya. Saya juga jatuh cinta dengan karakter-karakter dalam buku ini. Entahlah, buku ini seperti menginspirasi saya, untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidup. Terima kasih kak sudah menulis Aroma Karsa, sungguh pengalaman membaca yang mengesankan. 🙂
Aku beli aroma karsa di musim PO bertanda tangan. Sudah cukup lama sampai aku benar benar mulai membacanya hari ini dan menyelesaikan hari ini juga. Ga tau kenapa kenapa menundanya selama itu padahal biasanya setiap buku Dee dibeli langsung dilahap sesegera mungkin.
Tapi mungkin ini juga berkaitan dengan hal yang mulai aku pelajari baru baru ini soal esensial oil. Menajamkan penciuman untuk ASIRI tunggal ataupun campuran.
Sekitar 3 Minggu berkenalan dengan EO, membuatku membuka aroma karsa. Dan penjelasan soal indra paling primitif dan mengecapnya langsung dengan takzim.
Terimakasih, Dee.
Untuk karya yang begitu indah.
Aku suka sekali.
Nb. Alfa tidak mirip jati kok. Alfa lebih keren berlipat lipat. Dan sampai sekarang aku masih nyesek karena Alfa dimatikan.
Hahaha… hidup Alfa!
saya tamat membaca versi cetak ibu suri, kata per kata tidak mau saya lewatkan, semalaman tidak tidur dan sampai paginya masih terus-terusan menghela nafas besar-besar seakan tak mau pisah dengan kisah Jati Wesi & Tanaya Suma. Ini buku Bu Sur yang hebat. Berbeda. Karena repertoar buku saya payah bun, ini menjadi buku pertama dan mungkin satu-satunya yang memiliki pendekatan berbeda. Bu Sur memperlihatkan bagaimana dongeng bisa menjadi nyata, rasanya saya jadi percaya puspa karsa itu ada. Apalagi kalau sambil mengenang dongeng-dongeng eyang uti saya tentang taman seribu bunga yang ghaib, tapi di Semeru bukan Lawu. 😀
Lalu saya baca “Dari Penulis” di versi cetaknya, sejak saya SMP th 2001 saya rasanya selalu terhubung dengan kisah-kisah Bu Sur, cuma Supernova terlalu berat buat bacaan anak kelas 1 SMP. Ketika Bu Sur cerita tentang wangi tanah disiram hujan pertama (Petrikor), juga wangi bilah rumput yang dibelah (Asiri) saya langsung tenggelam pada masa-masa saya SD bermain di tengah sawah, selalu termangu bertanya-tanya itu namanya wangi apa?? dan baru tahu ketika sudah dewasa. Cerita Bu Sur tidak cuma cerita yang bisa saya baca dan kagumi pada saat ini saja, tapi juga cerita yang bisa menghempaskan saya pada nostalgia masalalu, lalu melambungkan saya ke khayalan masa depan, harapan saya juga bisa bercerita begitu apik seperti Bu Sur. Cerita yang membuat pembacanya jatuh cinta, berkali-kali, diam-diam.
Terima kasih banyak ya…. 🙂 Amin, semoga menjadi pencerita yang hebat!
Amin, semoga doa Bu Sur dikabulkan. 😀
Awww… terima kasih banyaaak!
Saya, di sini, meski sudah tak lagi pegang-pegang wujud nyata Aroma Karsa,masih belum bisa move on. Teringat momen membaca dengan santai tanpa terburu-buru. Belinya pun tergolong santai (alias ketinggalan jauh dari awal diterbitkan). Orang lain sudah sibuk mereview dan saya bahkan belum sempat buka dikarenakan jadwal yang padat. Entah kenapa sepertinya Aroma Karsa mengundang saya menyisihkan satu waktu yang paling pribadi untuk menikmatinya tanpa gangguan berarti.
Membaca Aroma Karsa bermula ketika saya melakukan perjalanan pulang kampung. Berangkat mulai baca 200 halaman di pesawat. Selama 2 hari di rumah, saya berusaha membaca sehemat mungkin. Ada perasaan tidak rela untuk menyelesaikan kisah cinta Jati-Suma, namun terantuk rasa penasaran akan rupa Puspa Karsa, akhirnya saya menamatkannya di pesawat lagi, di perjalanan kembali ke rantauan.
Tamat? Pertanyaan terbesar tiap pembaca Aroma Karsa sekaligus penolakan terkeras dari “tim gagal move on” dimana saya tergabung didalamnya. Namun saya tahu apapun keputusan Mbak Dee dalam mengakiri kisah ini, memberi kebebasan bagi kita semua untuk menciptakan alam lanjutan untuk drama dan misteri yang patut dinanti.
Terimakasih sudah menyajikan Aroma Karsa bagi kami.
P.S: Saya naksir berat sama cover versi cetaknya. Begitu selesai baca, saya langsung tutup bukunya, memandangi cover yang begitu hidup, lantas seketika saya seperti bisa memahami seluruh kisah Aroma Karsa.
Terima kasih sudah membaca. Pengamatannya tepat. Kover versi cetak memang menggambarkan kisah Aroma Karsa secara keseluruhan.
Terima kasih juga, akan saya sampaikan apresiasinya kepada Hezky Kurniawan, ilustrator sampul Aroma Karsa.
Yes… kebetulan saya hobi gambar dan hobi bikin cerita. cuma sekarang sudah ga aktif bikin cerita lagi.. Tapi mohon doanya, sekarang saya lagi bantu jadi ilustrator proyek cerita bersambung dari salah seorang temen.. . Senang sekali melihat satu ilustrasi yang mampu menggambarkan sebuah kisah….
Mba Dee.. Aku ngebut banget bacanya saking penasaran ,super excited, dan hanyut ke dalam semesta cerita ini. Mudah-mudahan gak ada yang kelewatan, tapi aku sebenernya pengen tau lebih panjang mengenai kisah Mahesa Guning dan titisan Betari Karsa… supaya lebih paham keseluruhan motif dari Betari Karsa itu sendiri.
Selain itu, terima kasih untuk karyanya yang luar biasa. Membuat otak kananku “berolah raga” 🙂
Olahraga otak merupakan bagian dari pemeliharaan kesehatan 🙂
Makasih juga! Semoga otak kita bertambah sehat 🙂
Saya cemburu dengan ibu suri.. hahaha. (Joke). Kenapa alam aroma ini dibukukan lebih dulu olehnya.. saya merasa memiliki pengalaman dan ketertarikan yang sama. Tapi nyatanya memang jalan terbaik bagi takdir adalah menemui tangan yang tepat utk menceritakan alam aroma oleh kepadanya. Hahaha.
Ketika kecil, saya sering bermain k rumah2 tetangga, dari sana saya mengamati, membaui dan akhirnya menyadari bahwa setiap rumah memiliki aroma nya masing2 yang lekat dengan pribadi keluarga disana. Aroma yang sulit saya ceritakan. Tapi selalu membawa memori ktika suatu saat aroma itu berkelebat sesaat, maka ingatan saya akan dibawanya menuju masa kecil saya ketika bermain di rumah si A -misal.
Tugas terberat saya ketika mulai membaca aroma karsa adlaah menceritakan nya ulang. Literally, cerita. Kepada suami saya yang ketagihan saya dongengi tentang ini.
Aroma Karsa tidak saya beli sendiri, dia hadir bersama setumpuk rasa cinta ibu saya (yang juga penggemar buku) dalam rangka kado ulangtahun yang terlambat. Heheh.
Karsa adalah kehendak.
Dalam ucapan ulangtahun yang dititipkan di halaman pertama buku ini, ibu saya menulis ; Tetap lah menjadi Mutiara.
Lalu berbubuh tanda tangan nya.
Yaa kehendak dalam “Puspa Karsa” mengaitkan saya pada pesan ibu saya. Untuk tetap menjadi diri sendiri..
Terimakasih telah membawa kami berpetualang di alam yang jauh… Tapi nyatanya dekat.
Terima kasih sudah membaca Aroma Karsa, dan tentunya terima kasih kepada Ibunda yang sudah menghadiahkannya. Semoga selalu diliputi cinta.
Terimakasih selalu menyajikan karya yang berkesan di hati. Setiap karya yang terlahir dari jari-jari seorang Dee selalu membuat saya mabuk kepayang. Setiap halaman selalu menuntun ke halaman berikutnya, saya selalu rakus dengan karya-karya Anda. Kisah Dan karakter yang seakan nyata menjelma Dan membuat saya percaya bahwa semua yang tertulis benar-benar terjadi. Sangat senang membuat imajinasi dalam benak sesuai rangkaian kata di novel novel Dee.
Karya Anda selalu inspiratif, semoga kelak saya dapat membuat novel yang dapat memikat Hati pembacanya.
Aroma karsa seakan menciptakan Gerbang baru Setelah melewati serial supernova.. saya habis membacanya dalam waktu singkat! Sangat Haus namun Ada penyesalan setiap membuka lembar halaman karena Ada akhir disana. 🙁
PS. Fans berat pasangan Jati Dan Suma.
Terima kasih banyak untuk apresiasinya!
Berhubung saya tidak ikut dalam Aroma Karsa versi digital, saya menunggu versi cetak seperti orang ngidam. Menunggu sampai fisik novel nya benar-benar saya baui. Namun anehnya, meski novel itu sudah di tangan, saya tidak berani membuka selama kurang lebih dua minggu. believe it or not, karena saya sadar, saya akan melumat habis dalam hitungan jam, dengan resiko mata panda, hati gundah gulana karena disambi kerja (seperti kasus supernova). Dan dengan kekuatan yang saya tahu bahwa saya harus memulai membaca vs takut cepat selesai, akhirnya saya baca sehari satu bab, karena demi tuhan saya tidak mau cepat-cepat mengakhiri, saya masih ingin menikmati dramatisnya bantar gebang, saya nggak mau mengakhiri pencarian Jati Wesi, saya bahkan tidak ingin berpisah dengan ‘mabuk’nya Suma dan Jati. Mba Dee, this novel is so mahakarya. Terima kasih menghadirkan jogja juga didalamnya… Terima kasih atas sosok Jati Wesi (yang semoga bisa difilmkan secara utuh)… Meski sampai detik ini saya belum bisa move on.. hiks hiks… terus berkarya mba dee…
Terima kasih sekali! Hidup Yogya! 🙂
Terima kasih Teh Dee telah menghadirkan Aroma Karsa nyata adanya. Awalnya saya merasa Aroma Karsa terlalu mengulur-ulur, terlalu menunda-nunda cerita di beberapa bab awal. Biasanya novel yang terlalu mengulur-ulur cerita membuat saya ingin segera menutup bukunya. Hal sebaliknya justru terjadi di Aroma Karsa. Secara magis, Aroma Karsa menuntun saya untuk tidak berhenti di hingga kalimat terakhirnya. Aroma Karsa juga berhasil membangkitkan imajinasi olfaktori saya, tidak hanya imajinasi visual. Terima kasih sekali Teh Dee. Semoga ada kesempatan untuk bertemu dengan Teh Dee lagi.
Dua bulan, sebegitulah waktu yang saya perlukan membaca hingga menemukan gambaran Puspa Karsa dan bagaimana kedahsyatan aromanya terhadap alam sekitar dan penghuninya. Saya tidak mampu membayangkan bagaimana kumbang, kupu-kupu, kera, anjing dan hewan lainnya ‘tersedot’ ke arah gua. Sungguh dahsyat !
Kemarin siang ( Minggu, 3 juni 2018) dalam keadaan berpuasa, saya tertidur setelah sholat Dzuhur, dan gambaran kedahsyatan Puspa Karsa, Randu, Malini dan Sinom hadir dalam mimpi tidur siang saya.
Huff… (masih deg degan nulisnya ini, ngga dilanjut deh)
Mungkin ini imbas dari lembaran2 yang dilahap pagi harinya.
Masya Alloh, salam hormat saya kepada Mba Dee dan kekaguman yang tiada henti atas ide, proses observasi dan proses penulisan hingga hadir karya yang MAHA ini.
dan … terima kasih telah menghadirkan kepada kami.
Terima kasih kembali atas apresiasinya 🙂
makasih Teh Dee, Aroma Karsanya sukses nancep dalem2 di samping Gelombang di hati saya… saya pertama kali kenalan sama karya Teteh waktu SMA lewat Supernova KPBJ di perpus daerah, yang lucunya waktu itu saya banyak yang ga paham tapi naksir pake berat sama bukunya. bertahun2 sesudahnya saya ketemu sama Madre dan ngotot kenalan ulang sama KPBJ. barulah setelahnya “anak-anak” Teteh yang lain mulai nangkring manis di rak buku.
Aroma Karsanya sengaja saya tunggu versi buku bukan gara2 ga suka baca yang digital, tapi gara2 aroma buku baru yang enak kalo mampir di hidung…. dari beli PO ttd saya baru bisa nyelesein bacanya kemarin -__- baca terlama gegara harus colongan waktu. banyak hal di dalam buku ini yang bikin saya berimajinasi dan pengen bgt lihat visualnya (tak harus dalam bentuk film) Puspa Karsa bentuknya seperti apa, ekpresi Jati waktu meneliti mayat, kiongkongnya, bentuk aroma yang dihirup Jati dan Suma. tapi karakter yang paling berkesan adalah Anung dan Ambrik. saya sampe berkaca2 waktu baca scene Ambrik menyusui Randu dan nitip pesan terakhir. kerelaan Ambrik saat dikorbankan demi kebaikan banyak pihak walaupun harus meninggalkan anak dan suami (yang seumur hidup dihantui rasa bersalah). Anung juga berperan layaknya di kisah nabi Ibrahim saat hendak mengorbankan yg sangat dikasihinya dengan tangan sendiri(bedanya Ambrik bener2 harus meninggal). saya nyesek bacanya Teh. adegan lanjutannya bener2 menggambarkan seolah kebaikan yang dilakukan seseorang sering tak terlihat karena sekitarnya begitu tamak.
titip salam untuk Ambrik dan Anung, Teh. dua karakter itu makin langka kayanya untuk sekarang….
saya menunggu karya Teteh yang berikutnya ^_^
Makasih banyak sudah ikutan baca, ya. Adegan Ambrik-Anung juga sangat berkesan buat saya.
Akhirnya baru saja saya menyelesaikan versi cetaknya dan meluncur kesini karena petunjuk halaman akhir dari buku
Awal membaca sinopsis buku ini, lekat sekali bayangan saya antara Jati dan Grenoilie, sama – sama punya penciuman yang sensitif, sama – sama hidup di lingkungan yang memiliki aroma busuk di awal kehidupannya, namun semakin kedalam memiliki jalur yang berbeda.
Paling berkesan ketika catatan – catatan Jati dibuka oleh Suma, mengingatkan saya antara tahun 2005 – 2010, sebagai penyuling minyak atsiri saya juga mengumpulkan data -data minyak yang saya suling, banyak sekali benda yang saya suling baik dari tanaman maupun benda mati lainnya, kalau hewan saya nggak tega :D. semua saya catat, dimana bahan diperoleh, perlakuan bahan sebelum suling, jenis proses yang dilakukan baik distilasi, pres maupun enfleurasi sampai minyak yang saya peroleh. Bencana datang ketika pusat studi tempat saya berkarya sedang di renovasi, buku catatan sepertinya di pindah dan sampai sekarang saya tidak menemukan wujudnya lagi.
Banyak sekali jenis minyak atsiri yang disebutkan didalam buku Aroma Karsa, namun kalau boleh usul kalau ada sequelnya, mungkin minyak – minyak atsiri yang banyak tumbuh di Indonesia bisa lebih di eksplore lagi.
Dan ketika kemunculan Mpu Smarakandi, saya tidak menyangka bahwa note aroma dari Mpu adalah Gaharu, salah satu minyak atsiri yang paling mahal dan memiliki note layer paling lengkap ketimbang minyak atsiri lainnya.
jika ada kesempatan bisa mampir ketempat saya lihat penyulingan di Jogja. Terima kasih atas Aroma Karsa – nya
Salam, sukses selalu
Wah, menarik sekali sharing tentang penyulingannya. Saya akan senang sekali mempelajari minyak asiri lain jika memang ada catatan atau referensinya. Saya bisa dikontak di email saya juga: dee@deelestari.com Tks sebelumnya.
Terima kasih Mbak Dee, sebagian saya tuliskan di blog saya, semoga berkenan mengunjungi : http://ano.web.id/
Aroma karsa adalah karya luar biasa yang mampu menggabungkan antara fiksi dan non fiksi, sejarah serta realita masa kini. Menurut saya cukup sampai disitu saja dan tidak perlu ada sekuel, biarkan imajinasi pembaca yang berkelana kira-kira bagaimana lanjutan ceritanya menurut versi masing-masing orang. Selain itu, karena aroma karsa sarat akan mitos menurut saya kalau diteruskan menjadi sekuel justru akan terkesan memaksakan. Biar lah mitos menjadi mitos. Hehehe
Terima kasih sudah membaca, ya.
Bu Suri, kl misal ada waktu sebelum masa hibernasi Bu Suri, sepertinya akan menarik kalau proses penulisan Aroma Karsa juga bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Saat selesai membaca AK, saya sempat stalking ke IG Bu Suri untuk tahu bagaimana Bu Suri melakukan riset. Sayangnya, Saya cuma nemu 2 postingan (atau sebenarnya ada yg terlewat?) yang mengisahkan sekelumit cerita tentang risetnya. Yang 1 Bu Suri foto di atas bukit sampah di bantar gebang dan 1 lagi postingan tentang Bu Suri ketemu sama artisan parfume. Kalau misal dibahas lebih dalam Saya dan #timgagalmoveon lain akan cukup terpuaskan dengan melihat-lihat bantar gebang sebagai rumah masa kecil Jati atau mungkin draft atau coret2an tentang bagaimana Bu Suri menciptakan Dwarapala dsb. wah, akan sangat menyenangkan sekali!
overall, terimakasih Bu Suri sudah menghadirkan AK sebagai karya baru setelah Intelegensi Embun Pagi!benar-benar menghipnotis!
Proses kreatif dan riset Aroma Karsa akan hadir dalam bentuk buku full, sebentar lagi 🙂 Tunggu pengumumannya, ya.
Karya yang bikin saya punya pengalaman membaca ditemani bau yang keluar dari setiap baris kalimatnya. Terimakasih banyak sudah menulisnya. Gak tau lagi harus berterimakasih seperti apa ke mbak dee.
saya baca buku ini karna disebutkan ada lontar kuno yang menjadi bagian alur kisah ini. lontar-kisah sejarah-bahasa kuna. AH! itu semua cintaku yang entah bagaimana mbak dee bikin para cintaku itu meniupkan bau sesuai perjalanan kalimat dalam buku ini.
Terimakasih banyak!
semoga Gusti berkenan membuat kita berbincang suatu hari nanti. amin.
Ah, terima kasih banyak. Senang mengetahui Aroma Karsa meninggalkan kesan sedemikian dalam. Amin untuk doanya.
Membaca Aroma Karsa…seolah sy diterbangkan pada 2 sisi alam yg berbeda,nyata dan legenda. Sungguh sebuah alur cerita yg mengalir natural dengan bahan data pendukung lengkap. Diantara deretan Karya Mbak Dee….ijinkan sy menempatkan Aroma Karsa sbg salah satu masterpiece Sastra Indonesia modern. Larut dalam membaca dan memahami Aroma Karsa membuat energi dan emosi turut hanyut dan meruar. Luar biasa Mbak Dee…sy yg notebene sangat sering berinteraksi dg Gunung Lawu,sering meluangkan waktu hanya untuk sekedar ngopi dan menikmati “ampak ampak” baik di Cemoro Sewu maupun Cemoro Kandang, setelah membaca Aroma Karsa ini jadi menguatkan imajinasi diiringi rasa syukur…Wukir Mahendra Giri adalah karunia Allah yg luar biasa beserta seluruh legenda,keghaiban dan kesakralan alamnya….hingga saat ini. Tks Mbak Dee…sukses dan Berkah kagem Panjenengan
Terima kasih banyak untuk apresiasinya. Semoga Wukir Mahendra Giri tetap lestari. Terima kasih sudah membaca Aroma Karsa, ya.
Dear Ibu Suri, terlepas dari perdebatan tamat atau nggak nya Aroma Karsa, yang terpenting kuingin ucapkan terima kasih sudah diajak mengenal banyak hal baru mengenai aroma, flora, sejarah, sampai klenik & mitos. Ikut ‘berpetualang’ dari Bantar Gebang, Grasse, sampai Gunung Lawu. Membaca Aroma Karsa kumakin menyadari dan tetap setuju bahwa buku adalah jendela dunia.
Selamat tinggal Jati Wesi, selamat tinggal Tanaya Suma. Terima kasih Ibu Suri yang sudah menciptakan Aroma Karsa dengan begitu indah. Sukses selal untuk karya-karya selanjutnya!
Ohiya mau menambahkan ralat pada Bab 53. Tercerai, halaman 602 alinea 7, menurut saya yg ditulis seharusnya Mbah Jo, bukan Mbah To 🙂
Terima kasih banyak. Ralatnya sudah dimasukkan ke cetakan ke-2.
Saya bertahun absen membaca buku, disilapkan kesibukan kantor dan bermain bersama anak anak mungil saya yang lucu. Sampai 2 bulan lalu, usai event partnership dengan sebuah group penerbit terbesar di Indonesia di Bali, saya mendapat hadiah Aroma Karsa. Ini buku pertama Mbak Dee yang saya baca. Dan hanya perlu penerbangan Denpasar Jakarta, Damri Bandara Bekasi dan melewatkan malam tanpa memejamkan mata maka buku ini usai. Buku yang sungguh luar biasa!
Jikalau ada periodesasi sastrawan Indonesia melanjutkan angkatan2 klasik nan mashur seperti masa pujangga baru, angkatan 66 dst maka Mbak Dee adalah pemimpin di angkatan sastra digital Indonesia. Alur aroma karsa yang membuat pembaca selalu berjaga, deskripsi yang menawan, penokohan yang sarat kejutan dan ending yang mendebarkan membuat novel ini menjadi komplet. Takzim untuk riset yang mendetail, kesabaran luar biasa sehingga kami tak hanya membaca sebuah buku sastra, tapi beraneka pengalaman dan insight baru di dalamnya.
Berharap Mbak De senantiasa sehat dan terus berkreasi lewat sastra.
Terima kasih sangat, sungguh saya hargai apresiasinya.
Terima kasih telah membuat karya seapik Aroma Karsa. Terima kasih Kak Dee telah menginspirasi saya untuk membuat karya. Saya ingin bisa membuat karya sehebat Kak Dee walau baru bisa dimulai dari karya kecil.
Sambil menyelam minum air, Kak Dee. Kenalkan saya Riris mahasiswi Politeknik Keuangan Negara STAN di Bintaro, kami akan menyelenggarakan seminar literasi kak Dee. Besar harapan kami Kak Dee bisa bergabung dalam acara kami untuk berbagi ilmu untuk penulis – penulis muda.
Bolehkah saya meminta CP Kak Dee? Kami sangat senang apabila Kak Dee bisa ikut bergabung 🙂 Terima kasih
Sudah saya balas via email ya.
setelah mengulik tentang jamur (di buku terdahulu), kemudian buku #AromaKarsa diangkatlah cerita anggrek. @deelestari sungguh ciamik meramunya dengan bumbu mitologi. Suwun!
Terima kasih kembali sudah membaca!
top! udah lama nggak bac tulisan Kak Dee dan sekarang bisa lagi. serasa ketemu sesuatu yg begitu lama udah dirindukan.
Terima kasiiih….
ibu suri, saya terhipnotis lagiii 😶
ga bisa berhenti baca bukunya…”sedikit lagi..sedikit lagi…sediiikiiiittt lagiii…” tau2 udah tipis aja lembaran sebelah kanan 😖
terimakasih untuk pengalaman baru di aroma karsa. ditunggu karya2 berikutnya
sukses terus, ibu suri
Aaah, terima kasih sharing-nya….
mba dee.. pertama terimakasih telah melahirkan Aroma Karsa..
sejak berkenalan dengan karya mba dee lewat supernova saya selalu yakin dan tdk pernah berfikir dua kali untuk membeli sebuah buku dengan nama mba dee sebagai penulisnya didepan, nama Dewi “dee Lestari semacam jadi jaminan bahwa bukunya pasti menarik dan kaya dengan riset.(dan semoga tetap konsisten seperti ini)
awalnya, saat membaca aroma karsa sy berusaha untuk memahami bagaimana mba Dee memasukan hasil riset2 yg dilakukan kedalam alur cerita, dan mulai membangun karakter2 tokoh. sy mencoba membongkar outline dari aroma karsa lewat cara sy sendiri, berharap bisa mendapatkan dan belajar sesuatu, tapi beberapa halaman selanjutnya saya sudah hilang. saya terlena dengan plot ceritanya sampai halaman akhir. sungguh membaca karyamu selalu menarik dan menantang.
sehat dan sukses selalu, biar kutitip rindu buat karyamu selanjutnya..
Wah, makasih banyak untuk apresiasinya!
Hari ini mau beli di toko buku dekat kantor aah..
semoga tidak terlalu terlambat untuk membacanya, hehe
Sukses selalu untuk Mba Dee Lestari 🙂
Tidak ada kata terlambat! Cemungudh!
Sy sudah beli bukunya. Kereen. Ini buku pertama saya karya dee lestari dan langsung jatuh cinta.
Sebelumnya tdk membaca cerbung atau lain nya versi digital. Tp begitu liat bukunya di toko buku, seperti ada magnet untuk mengambil dn membelinya. Thank’s sudah membuat buku sebagus ini..
Semoga lanjut ke buku2 saya lainnya 🙂 Salam!
SELALU BUAT PENASARAN dan pengen beli bukunyaa, kaya baca Supernova dulu baca satu eh keterusan dan terkumpul semua serinya.
Mba Dee,terimakasih untuk karya hebat ini.
Sekarang saya sering belagak menjadi seperti Jati Wesi tiap lewat toko2 parfum atau tempat sampah di jalanan.
haha…
sehat dan sukses terus ya, Mba.
Tabe..
Haha! Banyak kok yang mengalami begitu 🙂
dari semua buku Mbk Dee, yang ini favorit saya. gak bisa berenti baca dari baca halaman pertama. good job mbak!
Makasih banyak ya!
Dapat buku ini hadiah ulang tahun dari sahabat, yang bacanya sepotong-sepotong karena disibukkan kegiatan skripsi dan tangan-tangan penasaran anak yang tertarik dengan gambar-gambar baik di cover maupun dalam bab-bab.
Akhirnya semalam bisa tamat juga. Sangat unpredictable dan kaya akan pengetahuan , mengembalikan memori me-time dalam membaca yang selalu menjadi kerinduan tersendiri dalam hiruk pikuknya kesibukan ala “orang dewasa” saat ini
Setelah selesai tidak habis-habisnya kepikiran Jati Wesi dan berkhayal.
Good to know! Makasih sudah membaca.
Aroma Karsa, ini buku pertama karya Ibu Suri yg saya baca, alur ceritanya bikin ketagihan, sampe ke toilet pun saya bawa buku Aroma karsa saking gregetnya pengen terus2an baca, buku ini punya daya tarik tersendiri, kalo sudah dibuka, pngennya bacaaa terus sampe selesai, sehat terus ya Bu Suri, kutunggu buku lain yg semoga dibalut mitologi juga
Amiiin… makasih, ya.
“Bau tanah yang tercium dipagi hari setelah hujan membahasi tanah semalaman”
Tapi kenapa orang lain bilang tidak ada baunya -.-
Baca buku ini dari posisi tiduran, duduk, berdiri, sampai tidur lagi, kok ngga selesai-selesai. Tapi buku ini berhasil bikin aku bertahan untuk membaca seharian full.
You’re awesome 🙂
Makasih banyak ya!
keren abis kak sukses terus ya buat kakak
Cerita cinta yang halus. Ciri khas ini yang saya terima dari setiap buku yang Dee Lestari tulis. Entah kenapa, setiap kali merasa-rasai kalimat di dalamnya, saya langsung jatuh hati, membayangkan betapa halusnya cinta, dan berhasil membuat saya hidup di dalamnya. Ibu Suri, Ratu Dari Smooth Love, Thank You!
Aaaak… thank you!
Saya nggak ngerti, mba Dewi. Pikiran sadar saya tidak, atau belum mampu menerjemahkan ini dengan baik.
Jika mba Dewi merasa “terpanggil” oleh ide2 atau tema2 tertentu untuk mba tuangkan, saya merasa terpanggil untuk menadah tema2 untuk disesap sedalam yang saya mampu. Ide, tema, atau apapun sebutan nya, mengalir silih berganti menghampiri saya.
Salah satunya melalui Aroma Karsa nya mba Dewi ini, yang juga merupakan bagian dari satu tema besar untuk saya resapi dalam beberapa minggu terakhir. Beberapa bulan yang lalu justru mas Reza Gunawan yang menjadi bagian dari tema pelajaran saya.
Saya ngelantur ya mba? Yang utama, saya menyampaikan rasa syukur karena dipertemukan dengan Aroma Karsa. Saya sudah lama kepingin baca karya mba Dewi, tapi baru kali ini saya sungguh2 terpanggil.
Dan saya sangat berterima kasih untuk itu. Terima kasih mba Dewi. Jika berkenan, tolong sampaikan rasa terima kasih saya untuk mas Reza juga.
Thank you for being who you are.
Thank you for the sweet comment! Semoga pengalaman perdananya berlanjut ke buku2 saya yang lain 🙂
Saya adalah orang baru di dunia membaca, aroma karsa ini buku ke-4 yang saya beli. Ini yang pertama murni saya inginkan bukan atas rekomendasi orang lain. Awalnya agak ragu mau beli karna tebel banget, tapi panggilan aroma karsa terlalu kuat sampai saya balik lagi ke toko buat beli buku ini. Mantap pikiran saya “ga akan nyesel”.
Di bagian awalnya entah karna saya kurang fokus bacanya atau bagaimana, harus bolak balik mengulang bacanya sampai paham. Baru setelah bagian jati tinggal di kediaman prayagung saya lancar membaca tanpa harus mengulang. Bagian berikutnya saya dibuat tak rela menundanya dengan rasa penasaran yang terlalu menyesakkan pikiran. Sungguh, jatuh cinta banget sama buku ini. Sampai di akhir cerita saya berharap ada sekuelnya.
Terimakasih telah menciptakan buku yang luar biasa. 😍
Terima kasih sudah ikut bergabung membaca Aroma Karsa, ya!
Mbak dewi…selesai membaca buku aroma karsa yang luar biasa…saya langsung cari info tentang website mbak dewi. Ceritanya luar biasa..saya bener2 larut sampe gak mau lepas dari bukunya..dan 1 hari kelar..begitu kelar..saya merasa hampa…saya ketagihan baca buku mbak dewi. Oh iya diawal buku ini sempat mengingatkan pada salah satu novel keren juga bernama parfume. Mbak dew..bukunya ada yg versi bahasa inggris gak?saya kok gemes..saya harus beli supernova juga nih..
Halo, terima kasih ya sudah membaca. Maksudnya Aroma Karsa yang versi B. Inggris? Sejauh ini belum. Yang ada versi Bahasa Inggris hanya Supernova 1 dan Perahu Kertas. Selamat melanjutkan ke serial Supernova, semoga suka juga!
Saya pernah mendaki Lawu lewat jalur Candi cetho, membaca buku ini membawa kembali kenangan ke tempat itu sekaligus menunjukkan sisi lain jalur tersebut, dan saya takjub. Sungguhkah ada dunia lain di Sana?
Buku ini saya tuntaskan dalam satu malam saja…sampai paginya saya puyeng haha….tapi sepadan lah, bukunya sungguh menarik dan seperti mengandung magnet untuk membacanya terus…dan teruss..
Mengikuti Perjalanan Mbak Dewi sejak Supernova edisi pertama, sampai detik ini ..gaya bertutur dan penulisannya Saya rasa semakin matang, makin menarik…kolot kolot kalapa lah…hehheee
Sukses terus Mbak, ditunggu buku selanjutnya 😊
Hehe, syukurlah jika sepadan. Terima kasih sudah membaca, ya!
hallo mbak dee, ini novel ketiga mbak dee yang saya baca. dari awal lihat halaman sampul belakang pas di kamar kakak kok rasanya menarik ya bukunya. padahal kakak sendiri belum baca. pas baca pembuka nya kok saya makin tertarik karena latar nya jogja dan sangat njawani menurut saya, dan kebetulan saya tertarik sekali dengan budaya jawa. ternyata 2 hari berturut2 akhirnya selesai baca 1 buku penuh. dan pas di akhir saya berdoa semoga ada lkanjutannya.penasaran kelanjutan jati, suma dan puspa karsa nya. akhirnya gimana setelah mereka mencapa puncak kesuksesannya seperti raja sebelumnya yang terbius dengan puspa karsa… terima kasih mbak deee membuat saya tertarik lagi dengan baca novel <3
Good to know! Makasih sudah berbagi kesan di sini.
Selalu kagum dan mengikuti karya Dewi Lestari . Aroma Karsa , seperti Karya Dewi Lestari lain yang mengikat saya untuk terus membaca tanpa henti. Yap kali ini saya tidak bisa lepas dan 1 hari saya selesaikan Aroma Karsa versi cetak . I’m your Fans 🙂
Hebat! Terima kasih sudah membaca yaaa
Gak nyesel beli.
Ditunggu novel terbarunya.
🤘
Terima kasih sudah beli 🙂
Karya anda begitu luar biasa mbak dee, nggak bisa berhenti baca, dan tentunya bikin ketagihan. Bikin jingkrak2, bikin deg-degan. Bikin puyeng dan mikir berat tentang jalan ceritanya. Sungguh memukau !! Ditunggu karya selanjutnya. Sehat selalu !! 😍
Makasih banyak yaaa!
Saya baca buku ini di bis, tiba2 ada penjual parfum. Entah bisikan puspa karsa atau bukan saya langsung beli parfumnya. Untung parfum murah jadi gak menguras kantong terlalu dalam 😀
Sambil menunggu saya juga mau membersihkan dulu canvas supaya pas karya baru lahir saya bisa mengisi canvas saya dengan karya murni terbaru Teh Dee nanti 😄
Semoga awet parfumnya 🙂
Terkaget kaget dengan informasi tentang gunung Lawu dari sisi mistis yang komprehensif ….. Saya menduga pasti ada riset deep interview berhari hari dengan pak Polet / pak Po ya, mbak ? …… Hanya sedikit orang yang tahu seluk beluk gunung Lawu dari sisi mistis dan misterinya….. Dan pak Polet adalah satu dari sedikit orang yang paham gunung Lawu ……. Good job
Terima kasih sudah membaca. Ya, betul, saya mewawancarai Pak Po ke Desa Karanganyar 🙂
Teh Dee.. saya baru tamat baca Aroma Karsa hr sabtu kemaren,setelah hampir dua minggu berjuang membaca disela kerjaan kantor dan momong anak. dan sampe saat ini msh blm bs move on. terus menerus penasaran dgn riset Teh Dee utk novel ini, dan kagum pada kemampuan menerjemahkan bau menjadi kata-kata. bertanya2, seperti apakah bila rangkaian bebauan yang Teh Dee tulis,benar2 terwujud.Saya sampe browsing gmna cara meracik parfum saking penasarannya. Dan mereka2,seperti apa Jati dan Suma bila di “person” kan.. mungkinkah suatu hari nanti Aroma Karsa menjadi film seperti KPBJ (yang pertama membuat ku jatuh cinta pada novel Teh Dee).. Ditunggu Aroma Karsa jilid 2 nya ya Teh Dee
Makasih sudah menyempatkan membaca di tengah2 kesibukan yaaa! Much appreciated.
Saya beli novelnya, ketika ada launching aroma karsa di televisi. Sekitar bulan maret yah launching nya.
Bukunya tebal 700 hal. Saya belum tertarik bacanya. Baru bbrp hal. Saya simpan lagi di lemari buku.
Baru 3 hari lalu, mood saya ada buat baca novel, akhirnya saya baca juga novel aroma karsa..
Ternyata ceritanya luar biasa bagusnya, keren banget, saya selesaikan dalam 2 hari, itu pun di seling kegiatan lain, dan di potong baca novel yg lain.
Saya pernah liat film yg perfume, itu juga film yg luar biasa dan sedikit menegangkan jalan ceritanya, ttg aroma, ttg feromone.
Aroma itu ada di mana mana, bahkan diri kita pun memilikinya.
Thanks ibu dee lestari, saya senang sekali
Gimana klo di filmkan juga aroma karsa ini?? Woww.. Saya menantikan itu .. 😘😘😘😘
Terima kasih akhirnya sudah membacanya ya, hehe.
Akhirnya bisa tamat, saya teringat ketika berpergian kemanapun selalu membawa bandelan tebal dengan sampul bertuliskan “AROMA KARSA” yang di kemas dengan huruf kapital dengan nuansa artistik. Bandelan tersebut sampai tumpah ruah dimana saya berada, tak kenal rumah, ruang publik sampai ruang privasi terjamah jelas oleh bekas desiran puing2 debu lembaran Aroma Karsa, saya jeratkan dimana-mana.
Aroma Karsa punya imajinasi yang luar biasa, saya sedikit terpental oleh fiksi dan fakta, secara tidak sadar saya terdoktrin untuk mengetahui sastra kuno, nama2 latin dari bunga anggrek, saya sempat terbawa ke masa lampau ketika ekspedisi ke gunung Lawu dengan kerabat memandangi ilalangnya yang lepas nan lapang, kirana sang surya yang begitu di tunggu2 oleh lusinan kali lusinan para penjelajah, saya ingat betul dengan suhu yang sangat ekstrem bagi kalangan penduduk tropis kala itu, terima kasih telah menginspirasi dan mengedukasi, karya ini tidak pantas di sebut karya, Aroma Karsa pantas di sematkan untuk menjadi Maha Karya oleh para pembaca. Semoga teh Dee Lestari segera membersihkan kanvasnya.
Terima kasih banyak, sungguh tersanjung membacanya.
Hallo kak dee
Baru banget selese baca
Udah beli dari bulan juni lalu tp baru sempet diselesein karna bukunya ketinggalan dirumah ngga kubawa ke kos dan kuliahku gabisa bgt disambi
VERY VERY GOOD JOB KAK❤
Setelah kecanduan Supernova, aroma karsa nambah aku kagum parah ke kak dee
Terimakasih atas karyanyaa
Terima kasih juga sudah membacanya!
Mba dee, doain saya ya biar jadi penulis terkenal kayak mba dee 😍😁
Sekarang masih (merasa mampu) nulis cerpen yabg simple2 aja.
Mampirin blog aku ya mba, hihi…
Amin, semoga sukses ya.
Terima kasih telah melahirkan Aroma Karsa…karya yang sangat luar biasa keren,penulis Indonesia satu-satunya yang saya sukai….
Terima kasih sekali. I’m flattered.
Saya dapat buku ini dari teman, penggemar novel mbak Dee. Dia (teman saya) memberikan buku ini karena pendekatan sejarah (ada unsur Majapahit) dan misteri. Kami biasa bertukar novel bertema sejarah lebih khusus ada unsur silat dan sejenisnya (terpengaruh Api di bukit Manoreh). Karena judulnya tidak sesuai selera saya, saya diamkan (juga tidak ada waktu).
Libur akhir tahun saya punya waktu luang, setalah saya cari novel baru saya tentang Menoreh yang terselip tidak ketemu, maka saya baca novel ini, dan ….
Waw…. Tidak berhenti, sampai selesai…
Hebat riset parfum/aroma nya, hebat sekali
Konteks sejarah nya tidak menonjol, karena mungkin benar ada atau juga hanya percikan saja. Tidak masalah, rangkaiannya bagus sekali
Walau sangat bagus, saya tidak berharap sekuel nya, biar selesai di situ
Selamat mbak Dee
terima kasih banyak, semoga berlanjut ya 🙂
juara si emang mbaknya ini, apalagi pas mau masuk epilog.. klimaks bett
Thank you so much 🙂
Akhirnya 3 hari gw fokus baca novel ini, kelar jg. Baru kali ini gw ngerasa gak mau stop baca mbak, setiap lembar demi lembar selalu menyisipkan rasa penasaran. (btw, gw jd ngerasa kayak Jati, kalau udh penasaran pasti akan dikejar, wkwk)
Keseluruhan, ini novel terhebat yg gw baca. Ceritanya yg penuh dgn pengetahuan, pelajaran dan hal2 baik lainnya. Duhh gimana ya cara muji novel ini, terlalu sempurna.
Makasih mbak dee sudah menghadirkan bacaan yg begitu berfaedah. Rasanya pngen baca lagi, tp capak, hehe.
Love u mbak dee
Wah, makasih banyak ya. Sungguh senang membacanya.
mbak dee apakah ngga ada cita-cita melanjutkannya ? saya sudah meracuni temen2 dekat saya novel ini.. dan rata2 memang mereka seperti terbawa suasana ketika membacanya :”)
Makasih sudah meracuni teman2nya yaaa
Hanya butuh 7 hari untuk menamatkan buku karangan mba Dee setebal 700 halaman ini. Dari karya-karya mba Dee, tidak kesemuanya bisa saya baca dengan baik. Rangkaian supernova salah satunya, tidak bisa saya pahami dengan baik. Tapi Aroma Karsa ini ah, tidak ada kata yang mampu menerjemahkan buncahan hati saya tiap kali lembar baru saya buka. Dengan perlahan, saya serasa menjadi Jati, Suma, Raras Prayagung, hingga puspa karsa itu sendiri. Menyelami bagaimana kuatnya pengaruh dan kekuatan Puspa Karsa hingga lembaran terakhir di novel ini. Terima kasih atas dedikasi luar biasa atas sastra Indonesia agung ini, mba Dee! Ah tak ada cukup bahasa yang mampu menjamah isi pikiran dan hati saya . saya harap mba Dee dan keluarga selalu dalam kondisi baik sehingga mampu melahirkan banyak karya seperti ini.
Terima kasih banyak, Sherin. Amin untuk doanya!
Buku Aroma Karsa sudah ada di kamar ku seminggu setelah diluncurkan, tetapi saya baru selesai membaca Aroma Karsa hari ini. termasuk telat untuk golongan penggemar buku Dee. Tapi, mau dibaca lebih awal atau baru baru ini, rasanya saya akan membangkitkan perasaan yang sama, Jatuh Cinta !.
Terima kasih kepada Mbah Dewi atas kesediaannya melahirkan Aroma Karsa. sebuah novel yang bisa dibaca, dirasakan, dan DIHIRUP. i love it so much !
walaupun banyak nama latin yang gak bisa saya bayangkan wujud organismenya, dan banyak jenis aroma tertulis yang tidak pernah saya baui, tapi buku ini betul2 mengaktifkan saraf penciuman saya walalu objek aroma tersebut hanya dibaca dan dibayangkan. betul betul pengalaman membaca yang sangat berbeda.
dari babak babak awal saya sudah menduga, ini bukan roman biasa, nantinya pasti akan muncul transcendental being atau extra terrestrial being macam ET atau genderuo, hihi..
saya suka tokoh Raras Prayagung. she is the Modern Nyai Onthosoroh.
sosok Jati awalnya too good to be true, saya baru ngeh di pertengahan. dia kelompok manusia yang “berbeda”
lemparan jokes di aroma karsa bukan hanya sentilan manis, tapi serasa ditonjok,, terakhir saya ngakak-ngakak di buku “Petir”, tapi di Aroma Karsa lebih gila lagi!!. Mungkin Mbak Dewi bisa jadi Comic? atau pemateri Stand Up, hehehe
p.s: saya membayangkan kalau semesta Filosofi Kopi mampir di Aroma Karsa, sepertinya menarik juga..
terima kasih banyak Mbak Dewi..
saya haus menunggu buku berikutnya.!
Ah, terima kasih banyak untuk komentarnya yang hangat!
Terimakasih Mbak Dee.
Dini hari tadi saya baru menutup halaman terakhir Aroma Karsa. Sejujurnya setiap kali saya ke toko buku, saya selalu melihat Aroma Karsa tentunya, tapi saya lewatkan karena jiwa saya tidak tertarik. Karena menurut saya membeli dan membaca buku tidak harus selalu yang baru rilis atau tren, tapi harus ada unsur ketertarikan. Hingga akhirnya karena saya sudah bolak – balik dari ujung rak buku satu ke ujung rak lainnya dan tidak ada yang ingin saya tarik, saya pun coba – coba memegang Aroma Karsa lalu memberikannya ke meja kasir dan membawanya pulang. Butuh kurang dari dua hari saya menjelajahi Aroma Karsa. Terimakasih Mbak Dee. Saya sebenarnya membaca buku akhir – akhir ini hanya untuk menyibukan diri sendiri, karena saya mengidap PTSD. Biasanya saat membaca atau selesai membaca, saya tidak merasakannya atau memfilimkannya di otak saya. Tapi Aroma Karsa lain, dia masih membuat saya mabuk dan bisa berimajinasi hingga saat ini.
Terimakasih Mbak Dee, akhirnya saya bisa menikmati membaca kembali. Saya tunggu karya Mbak Dee yang lain.
Semoga hari mbak selalu baik.
Terima kasih kembali sudah menyempatkan membaca Aroma Karsa. Much appreciated. Terima kasih juga sudah berbagi lewat kolom komen ini.
Memilih aroma karsa kepada sang pacar sebagai hadiah wisuda memang sudah saya rencanakan. Saya yakin apapun aroma yang akan disampaikan dalam ceritanya, pasti akan membuat saya jatuh cinta. Dan benar saja. Efeknya lebih gila dari supernova. Saya sampai bingung sendiri. Mau menamatkan cepat-cepat, tapi tidak ingin ditinggalkan terlalu cepat juga oleh Jati Wesi dan Tanaya Suma. Ah, terima kasih telah melahirkan Aroma Karsa hingga sampai pada penciumanku, Ibu Suri. Sehat selalu, saya siap menunggu kelahiran karya berikutnya 🙂
Ah, makasih banyak untuk komentarnya yang manis.
Setelah membuka hati untuk membaca karya kak Dee untuk yang pertama kalinya “aroma karsa” versi cetak kesannya ” OK, it’s the time for me to try to read all DEE’s novel” terima kasih kak untuk aroma-aroma yang membuat penasarannya. Sukses untuk karya-karya yang akan lahir
Selamat melanjutkan membaca ke buku2 saya yang lain!
Terima kasih mahakaryanya Kak Dee.
Setiap baca karya Kak Dee selalu menstimulus imajinasiku, jadi pas lagi baca, aku refleks sambilan membayangkan tokohnya, setting tempat, dan lainnya. Termasuk Aroma Karsa nih, aku mabuk nah. Eeeh, lah jatuh cinta juga sama Jati Wesi 😊😀
Entah kenapa setiap baca buku Kak Dee, aku selalu terlecut lagi untuk menulis, karena memang suka menulis, terutama puisi. Aku keseringan mikir, kok sepertinya sudah terlambat mau menulis. Tapi karya-karya Kak Dee menepis semua itu.
Sukses terus ya Kak Dee, jangan berhenti berkarya. Aku selalu menunggu😊
Terima kasih! Selamat mencoba menulis!
bagus mbak dee, berasa imajinasi saya dibawa kemana-mana, dongengnya juga bagus sekali. narasinya dibawa ke pengalaman ilmiah dulu baru yang ke mistis, bagus sekali. Cuman kenapa saya merasa adegan klimaksnya agak kurang ya mbak? Tapi tetep surprise sih dari adegan ke adegan
Terima kasih untuk masukannya, dan tentunya terima kasih karena sudah membaca.
Setelah membaca Novel Aroma Karsa, saya tertarik mengangkatnya menjadi bahas tesis studi saya.
Semoga sukses untuk tesisnya! Makasih banyak sudah membaca, ya.
Halo Mbak Dee. Saya baru selesai membaca novel Aroma Karsa kemarin. Ngebut selama 3 hari aja, yang biasanya saya baca novel paling cepat 2 minggu-an 😆 karena novel ini seruuuuuu banget. Meski agak pusing karena banyaknya nama-nama anggrek dalam bahasa ilmiah(?) dan nama-nama senyawa kimianya yang saya tidak tahu bentuknya seperti apa.
Sejujurnya saya berharap ada sequelnya🤭.
Oh iya ini juga novel pertama Mbak Dee yang saya baca dan membuat saya ingin membaca karya-karya mbak sebelumnya.
Tetap semangat dalam menelurkan karya-karya yang menakjubkan!
Terima kasih.
Yeay! Selamat berlanjut ke buku-buku saya lainnya. Terima kasih sudah membaca Aroma Karsa! 🙂
Halo Mba Dee, salam kenal. Saya baru saja selesai menghayati Aroma Karsa. Sungguh di luar dugaan, sangat imajinatif. Sukses membawa pikiran melayang masuk ke gua Puspa Karsa lalu benar-benar merasa lunglai saat Hyang Arimong beranjak siap menerkam. Selain itu, buku ini juga berhasil membawa saya sedikit berkelas balik untuk kembali mengingat ujaran berbahasa Jawa Kuno sebagaimana mata kuliah yang saya pelajari tatkala masih mahasiswa. Sukses terus Mba Dee untuk karya selanjutnya. Harapannya ada sequel kedua dari Aroma Karsa. Keberlanjutan asmara Jati dan Suma sudah melambai-lambai alias tak sabar untuk berlanjut Mba. Hehe
Terima kasih banyak. Wah, menarik sekali kamu sudah pernah belajar bahasa Jawa Kuno. Salam hangat.
Di Islamic Book fair kemarin, saya mampir ke stan Mizan Store, saya beli beberapa buku yang berdiskon gede. Setelah saya mau ke kasir, saya melihat ada bukunya Ibu, spontanitas buku-buku yang hendak saya beli diurungkan, saya ambil buku Ibu ke kasir, tak peduli dengan diskon kecil. Yang penting bisa beli dan membacanya dengan tuntas.
Hari ini, adalah hari kebahagiaan, Aroma Karsa sudah selesai dibaca. Tiap mengkhatamkan novel-novel karya Ibu, ada kehangatan di jiwaku, bagai tubuh jati di pelukan Suma.
Ihiiiy! Terima kasih. Senang mendengarnya.
Senang sekali ketika mesin pencari mengantarkan pada cuitan Bentang Pustaka bakal ada sequel Aroma Karsa..
Damn!! Your magical mind always beyond expectation. Baru selesai baca dan rasanya gak bisa tidur karena masih berandai andai. Plot twistnya bikin melek. This novel is one of my favourite!!! And my favourite character of course “Raras”. Her ambition, pasion, anger, braveness makes me love her.
Terima kasih sudah membaca! Ya, Raras itu memang mengagumkan 🙂
Saya sudah lama menulis sebagai freelance di beberapa online news. Tapi sejak membaca seri supernova, hasrat dalam diri saya menggeliat untuk menerbitkan novel seperti Dee.
Membaca Aroma Karsa, 700 lembar lebih habis dalam waktu 3 hari saja. Mager ngapa-ngapain dan hanya baca karya istimewa dari penulis idola saya. Sampai naskah sendiri terabaikan, tapi tidak mengapa sekedar untuk selingan dan hiburan. Saya selalu suka dengan riset mendalam, serta karya-karya Dee yang penuh makna filosofis dan perenungan. Saya kagum bagaimana Dee bisa sangat totalitas dalam menghadirkan detail-detail yang mungkin tidak akan bisa diungkap dan dideskripsikan oleh penulis lain. Mula dari seri supernova, hingga aroma karsa. Saya belum sempat mampir ke toko buku untuk menengok dibalik tabir aroma karsa, tapi saya menanti untuk membacanya.
Sukses selalu, dari seorang yang memiliki mimpi untuk menginspirasi orang lain sebagaimana Dee menginspirasi seluruh pembacanya.
Wah, terima kasih sekali. Semoga impiannya tercapai. Tetap semangat menulis!
Jancok iki buku, atiku sing jarene sangar iso keaduk-aduk. HAHA
Matur suwon, Bu Dee… I Love You dengan semua karyamu.
MANTAP JIWO 🙂 Makasih sudah membaca.
Dear D,
Buku ini saya baca tanpa terburu-buru (sekitar 2 bulan), menemani hari-hari saya di Berlin, sebagian besar ketika dalam perjalanan – di kereta ataupun bis kota.
Menurut saya, Aroma Karsa punya penyajian yang amat unik, karena didesain untuk membuat pembacanya seringkali bermain dengan indera penciuman. Pengenalan karakternya juga amat dalam, sampai-sampai berasa kenal sama tokoh dalam ceritanya. Porsi mitos Jawa kuno dan fiksi yang ditampilkan juga amat menarik. Beberapa bagian terasa nyata, gaduh dan bergejolak, kemudian diakhiri oleh plot twist yang mencengangkan.
Terima kasih atas imajinasi terka-menerka dalam rentang buka-tutup buku antar periode membaca. Buat para penggemar sastra intelektual, jangan lewatkan buku yang satu ini ya! Terasa banget bahwa penulisnya cerdas dalam bernarasi, pintar memilah kata, imajinatif, dan punya pengetahuan yang luas.
Rate: Auto 5/5. Ausgezeichnet!
Secara keseluruhan, cerita yang dibangun terasa amat emosional untuk berakhir (I mean it. The book is really emotional).
Hanya sekedar harap dan tanpa bermaksud menagih, semoga akan ada sekuel lanjutannya. 🙏🏻
Terima kasih atas diksi yang indah, D. Semoga sehat dan bahagia selalu.
nb
*Suka banget sama nama “Tanaya Suma”. It’s beautiful.
*I would gladly recommend this book to my non-Indonesian fiction lovers if there is a plan to translate this book into English. Would be very very happy to read, give feedback, and compare it with the Indonesian version (Pengalaman ketika baca novel yang bukan native language: kadang perlu usaha lebih untuk dapat feel nya. Pengen banget buku versi bahasa Inggris nya nanti akan sebagus bahasa Indonesianya).
Terima kasih sekali atas ulasannya! Very happy to read it. Yes, semoga bisa diterjemahkan ya, saya pun berharap demikian. Dan, semoga ada lanjutannya, hehe.
Atma, Prajna, Avalokita, dan bahwa “manusia pertama lahir dari rahim samudra”…
Semua olfaction, bunga, akar, daun, isi perut, misteri hutan dan bahan kimia…
Membuat saya ingin sekali berbagi link dibawah ini. Yang mungkin juga sudah ada dalam belitan Puspa Karsa yang istimewa.
https://www.theosophy.world/sites/default/files/ebooks/Astral%20Plane-CWL%20-%20C.W.%20Leadbeater.pdf
Salut !
Fragrance Lover & Dharma Seeker (who happened to work for Givaudan before :-D).
Terima kasih sudah membaca, ya! Akan saya lihat link-nya.
Saya masih gagal move on dari buku aroma karsa ini. Saya sampai di blog ini juga karena saya lagi cari – cari buku apalagi yg bisa saya nikmati dari tulisan mbak dee lestari. Saya jarang baca buku mbak. Tapi semenjak saya baca novel supernova nya trus sekarang aroma karsa. Saya ketagihan terus. Saya mau lanjut baca yg blm saya baca dulu deh, sambil nunggu tulisan mbak dee lestari yg terbaru. Semoga dapat buku yg lain di perpus
Terima kasih banyak sudah berkunjung ke blog ini, Cicilia! Semoga bisa sedikit banyak membantu ketagihannya, hehe.
Hai Teh Dee, apa kabar? gue akan selalu berterima kasih untuk perahu kertasnya dan teman menyebalkan yang memperkenalkan pertama kali dengan tulisan Teh Dee. Gue menemukan jawaban atas pertanyaan yang di cari pada waktu itu (2009). Kata dia waktu itu,”Mannn, lu baca buku ini dahh, kayanya cocok nih buat elu , dari pada gue denger lu curhat mulu hal yang samaaaa, tapi lu beli sendiri, gak boleh minjem yaaa”.
…dan tahun lalu pas lagi ke gramedia Matraman, kaget banget tahu-tahu ada novel terbarunya Teh Dee yang Aroma Karsa, dan langsung chat mahluk itu,”diss, dee nerbitin novel baru ya? Iyaa, gue udah selesai baca, bhaayyy”. Ngeselin kan…
satu hal yang buat tokoh Jati terasa personal bagi kita, keberadaan Bantar Gebang, jadi setiap menceritakan kondisi Jati dan setting lagi di Bantar Gebang, kita selalu recall baunya setiap malam (lebih tepatnya dia sih, dia bahkan bisa tau siapa yang akan masuk ke ruangan karena parfumnya….gue: baikkk), karena dekat banget sama tempat tinggal kita. dan buat kita nama Jati Wesi juga menarik, kalau kata mahluk itu,”gue yakin Dee dapat nama itu karena sering bolak balik ke Bantar Gebang lewat tol yang ada embel2 Jatinya.” sekalian nanya, bener gak Teh dapat inspirasi namanya dari situ? hahahaha
Terima kasih ya Teh Dee untuk semua tulisan-tulisannya dan lagunya hahaha. di tunggu karya selanjutnya!
Halo Isman. Terima kasih sudah berbagi di kolom komen ini. Jati saya dapat dari hasil memilih nama2 pohon–karena kebutuhan cerita Aroma Karsa relevan dengan nama pohon2an. Jadi, bukan karena nama tol sih 🙂
Saya sudah punya buku mba Dee dari bulan Maret 2019, tapi baru dibaca bulan Juni. Karena mager 700hlm. Tapi siapa sangka saya terbawa suasana, indera penciuman saya bermain, membawa saya kedalam lingkungan Jawa kuno, sering searching senyawa² kimia yang baru didengar dan tanaman² anggrek yang beragam. Biasanya saya menyelesaikan satu buku bisa 2mingguan. Tapi novel ini membuat saya ketagihan hehe. Keren sekali mba Dee. Endingnya diluar dugaan. Ditunggu versi keduanya mba Dee, kelanjutan dari kisah cinta Jati dan Suma.
Terima kasih banyak.
Mbak Dee,
Saya khatam kali pertama membaca Aroma Karsa lebih dari setahun yang lalu, dan mengulang membaca lagi 🙂
Untuk saya, yang sempat menetap sementara di kaki gunung meski bukan gunung yang diceritakan di Aroma Karsa, rasanya menjadi begitu dekat dengan kisahnya. Pun dengan kisah cinta yang Mbak gambarkan, rasanya seperti ada dan tiada.
Semoga Mbak sedang memelihara embrio Aroma Karsa ke-2 karena rasa rasanya masih ada kelanjutannya.
Dan baru ngeh bukan nama tepi email yang tercantum. Apa bisa dimoderasi Mbak?
Bisa dimoderasi. Terima kasih sudah membaca Aroma Karsa yaaa
Kakak dewi yang saya idolakan. Saya beli buku ini di medan, mulai baca di pesawat dalam pnerbangan menuju jakarta dan akhirnya, buku setebal ini tuntas dalam 2 hari. Saya terbawa dalam setiap lembarnya. You are Genius!
Makasih sudah menulis buku ini. Sehat dan bahagia selalu.
Terima kasih banyak sudah membaca Aroma Karsa!
mb dee
saya baru saja menyelesaikan membaca aroma karsa..masya allah sampai bingung mau ngomong apa,luar biasa!!setelah jatuh hati sma alfa di gelombang, sekarang dibikin jati hati sma jati wesi.masih dalam posisi gagal move on dari aroma karsa 😭
Makasih banyak!
hai mbak dee,
I just want you to know that i love everything about Aroma Karsa.
And i can’t wait for your next project.
sincerely
Your fans in Bandung.
Mba Dee, terima kasih sudah menciptakan Aroma Karsa.
Setelah membacanya semangat membaca saya yang sudah mulai memudar aromanya, sudah mulai saya baui.
Tapi seperti mba Dee yang ingin ada halaman kosong setelah Aroma Karsa sebelum karya berikutnya, saya juga ingin ada hari kosong sebelum saya mulai menghidu buku berikutnya. Karena saya masih ingat menikmati rasa yang diberikan Aroma Karsa pada diri saya sampai habis.
Terima kasih sudah membaca 🙂
Hai Mbak Dee ^^
Baru saja saya menyelesaikan baca “Aroma Karsa” karya mbak. Saya dapat versi buku cetak kado ulang tahun dari sahabat saya sekitar 2 bulan lalu. Awalnya saya sempet keder apakah saya akan bisa menghabisakan buku karya mbak Dee ini, mengingat dulu kira-kira waktu saya SMA baca beberapa seri “Supernova” karya mbak, musti siap KBBI sangking buanyaknya kata-kata yang asing buat saya. Kemudian mengingat ada novel lain yang sudah 4 tahun saya cicil baca nggak kunjung selesai.
Tapi di liburan natal saya kali ini, saya putuskan untuk merehatkan buku-buku saya lain untuk ‘mencicipi’ buku mbak ini. Saya perkirakan liburan 3 minggu harusnya cukup untuk ‘menghabiskan’ buku ini. Ternyata sangking serunya, saya nyaris nggak bisa lepas dari buku ini. Maunya baca terus tapi juga nggak pengen cepet selesai. Tapi akhirnya saya selesai di hari keempat.
Sekarang saya bingung saya musti baca apalagi di sisa liburan saya yang masih lama ini…
Saya kerja merantau di Jakarta, sementara kampung halaman saya di sekitar kaki Gunung Lawu. Saya jadi merasa ‘dekat’ dengan cerita “Aroma Karsa” ini.
Saya sampai di sini dari membaca catatan mbak di bagian “Dari Penulis”. Saya ingin menyatakan betapa saya suka sekali karya mbak Dee ini. Seru sekali.
Terima kasih mbak Dee, ceritanya keren banget.
Keder saya sama mbak jadi agak ‘sembuh’. Sekarang saya jadi penasaran sama buku-buku karya mbak yang belum saya baca.
Ah, terima kasih banyak. Semoga bisa melanjutkan ke buku-buku saya lainnya, ya.
Satu kata unt aroma karsa, Awesome sekali! 🙂
Melihat proses riset mb dee di bantar gebang membuat sy sadar, kt bs mengurangi sampah dimulai dr rmh kita. Ternyata hal kecil yg kt lakukan bs berdampk besar di luar sana 🙂
Terima kasih banyak! Yes, mari kita lakukan sesuatu mulai dari rumah.
2 hari sejak saya mulai membaca aroma karsa. intinya saja. saya jatuh cinta. untuk kesekian kalinya. entah pada kisahnya atau penulisnya, saya juga tidak tahu. tapi yang pasti saya benar2 jatuh cinta. terima kasih kakak sudah menulis! semangat terus dalam membuat karya kak!
Halo mbak Dee. Senja ini melebur bersama halaman terakhir novel Aroma Karsa. Saya ga yakin bisa melewati hari ini tanpa bayang-bayang penasaran dari kisah Jati dan Suma. Jujur saja, saya suka sekali novel ini. Saya suka romance, tapi kisah bertema lain dengan sentuhan percintaan menurut saya lebih luwes. Dan Aroma Karsa menyajikannya dengan epik. Terimakasih telah menghadirkan karya ini di toko-toko buku yang kemudian bisa saya boyong menjadi penghunu rak buku saya. Semoga sehat selalu mbak Dee. Ohya, rumah saya dekat daerah Karanganyar, hehe sempat terkejut tadi ternyata latar tempatnya di Lawu. Ngargoyoso mah rumah teman-teman saya mbak Dee.. ^^
Makasih banyak doanya!
Selamat malam Mbak Dee. Saya baru saja menyelesaikan halaman terakhir Aroma Karsa. Saya sungguh kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa bahagianya saya saat membaca buku ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih, karena Aroma Karsa telah membangkitkan kembali semangat membaca saya yang melemah dalam beberapa tahun terakhir. Ada sedikit penyesalan kenapa saya tidak mengikuti cerita ini dari awal, dari versi digitalnya yang pastinya memberikan pengalaman yang jauh lebih menyenangkan. Namun saya sungguh bersyukur mendapatkan kesempatan untuk menikmati cerita ini meskipun sangat telat jika dibandingkan dengan teman-teman lain di sini. Jika suatu saat Mbak Dee kembali menelurkan karya dengan format yang sama, saya tidak akan berpikir dua kali untuk entah itu membeli atau berlangganan.
Sekali lagi terima kasih.
Salam.
Wah, terima kasih. Sungguh bermakna bagi saya. Sampai jumpa di karya berikutnya, kalau begitu! Salam.
Subuh ini, masih di masa karantina dan masa saya “semeru” di kamar kost karena jadi perantau yang tidak bisa mudik, akhirnya saya berani menyelesaikan aroma karsa lalu sampai disini. Saya membaca karya ibu suri sejak awal SMP, tidak ada alasan tentu untuk ketinggalan karyanya. Saya pemilik cetakan pertama tentu saja (dengan tanda tanganya pasti *bahagia) tapi saya punya kekhawatiran atau ketakutan yg mungkin aneh atas karya yg sudah pasti saya suka lalu akan habis saya lahap terlalu cepat, jadi saya menunggu momen kesiapan saya hahaha. Membaca karya ini tidak hanya membuat kenyang jiwa addeection saya tapi juga bikin diri tersadar bahkan sebelum selesai membaca. Tersadar lagi atas indra Saya terhadap aroma yg seperti “terlupakan” kalau dia ada dan selama ini ketutupan indra lainnya padahal ia juga semenakjubkan itu. Menjadi pengingat saya untuk bersyukur atas berkatNYA. Kesadaran yg akhirnya membantu saya mengatasi gangguan dihidup akhir-akhir ini tentang susah tidur dan cemas. Sadar tentang aroma saya mungkin sepele buat orang lain tapi sangat penting buat saya dimana saya akhirnya mencium aroma aroma yg membantu saya bisa tidur dan lebih tenang. Terima kasih, dan karena masih suasana lebaran saya mau sekalian menghaturkan mohon maaf lahir batin dan semoga sekeluarga selalu diberikan kesehatan.
Senang membacanya. Minal aidin juga, semoga sehat selalu.
Haloo kak dee, saya baru pertama baca karya kakak. Dan hari ini setelah pergantian hari saya baru menyelesaikan setelah 4 hari. Aroma karsa the real healing yg saya perluin di tengah2 gempuran tugas kuliah yang membabi buta. Melalui aroma karsa saya bisa mengistirahatkan pikiran dan poin plus nya menambah sensasi yg baru pas baca novelnya, dan pastinya kosa kata baru, banyak kosan kata yang menarik buat saya. Terus saya SANGAT PUASSS dengan endingnya, walaupun meninggalkan teka teki dan mesti ada lanjutannya tapi menurut saya endingnya sudah cukup. Kisah jati dan suma sudah dicukukan. Dann terima kasih banyak kak dee atas sensasi baru melalui petualangan jati, kosakata2 yg sangat menarik, dan Ilmu baru atas dunia penciuman. Love sekebonn❤💐
Makasih banyak buat apresiasinya, ya!
Pertama kali baca Aroma Karsa waktu bukunya baru terbit. Cetakan pertama. Kalau sesuai tanggal yang saya tulis di halaman pertama sih 11 April 2018. Dan di Januari 2025 ini, saya membaca ulang Aroma Karsa untuk kali kedua. Ternyata efeknya masih sama, bikin penasaran (padahal sudah tau jalan ceritanya) dan terkagum. Dari semua penulis, Ibu Suri selalu jadi paling favorit. Keragaman kosakatanya selalu bikin melongo. Belum lagi cara membangun cerita yang kadang bikin saya heran kok bisa ya narasinya dibangun dari POV yang tidak disangka-sangka.
Ibu Suri, terima kasih atas karya-karya luar biasanya. Ibu Suri jadi orang pertama yang bikin saya kepingin nulis cerita. Meskipun sempat mogok bertahun-tahun, membaca ulang Aroma Karsa (yang dipantik dari podcast bareng Bang Radit haha) membangkitkan lagi semangat menulis. Sehat selalu, Ibu Surikuu 🙂
karya mba Dee BAGUSSSSSS” BANGETTTTTT oh ya ini buka pertama saya loh baru nyoba hal baru jujur alur nya bagusss buku setebel ini ga kerasa baca nya seru polll, semangat ya mba dee buat karya² selanjutnya