#SerialSurel: Tepat Menempatkan Riset

1.

Perkenalkan, saya Putri. Selama baca buku-buku Mbak Dee, baik serial Supernova maupun kumcer seperti Filosofi Kopi dan Madre, Mbak Dee seringkali menyisipkan latar suatu kota/tempat yang menarik. Bagaimana caranya Mbak Dee menulis dengan latar belakang tempat yang sebenarnya belum pernah Mbak Dee kunjungi?Untuk menghidupkan cerita, apakah Mbak Dee harus melakukan observasi langsung, atau cukup lewat pembicaraan bersama teman yang sudah pernah berkunjung ke tempat itu, atau lewat internet saja?

 

2.

Saya Fikriyatul. Saya pernah membuat sains fiksi (karena latar belakang pendidikan saya juga sains), tapi jadinya malah rancu, random. Alurnya berantakan. Beda sama Supernova: Sains yang Bercerita. Supernova bikin saya percaya ada jamur raksasa, Supernova bikin hantu jadi logis, Supernova bikin metafisika jadi masuk akal. Belajar berapa lama? Penasaran sama “observasi gila-gilaan”-nya.

 

3.

Saya Rizak. Hal apakah yang bisa membangkitkan “nyawa” dalam Supernova selain riset yang Anda lakukan?

 

.  .  .

 

Terima kasih untuk Putri, Fikriyatul, dan Rizak.

 

Riset merupakan salah satu perihal yang paling sering ditanyakan kepada saya, sekaligus topik besar yang sulit diulas dalam satu artikel blog (tapi akan saya coba).

 

Jika saya amati, sebetulnya pertanyaan mengenai riset selalu dibayangi pertanyaan yang lebih besar, yakni: bagaimana membuat cerita yang meyakinkan? Bagaimana caranya segala hal-hal “asing” dalam sebuah fiksi dapat memukau kita dan membuat kita bertanya-tanya apakah semua itu nyata? Apakah si penulis harus benar-benar mengalaminya, harus pergi ke semua tempat yang diceritakannya, atau harus jadi betulan ahli dalam bidang tertentu?

 

Saya pernah membaca sebuah ungkapan: Fiksi yang berhasil ketika dibaca akan terasa seperti nonfiksi, dan nonfiksi yang berhasil ketika dibaca akan terasa seperti fiksi. Saya sepenuhnya sepakat.

 

Ketika cerita fiktif bisa terasa riil, artinya cerita itu bukan hanya asyik tapi juga berhasil melenturkan batas antara fiksi dan fakta. Ketika tulisan nonfiksi terasa menghanyutkan, artinya tulisan itu bukan hanya enak dibaca dan informatif tapi juga berhasil melenturkan batas antara fiksi dan fakta. Tidak berarti data dalam tulisan faktual perlu dimanipulasi demi terasa dramatis, dan tidak berarti sebuah fiksi perlu dijejali data biar terasa nyata. Benang merah antara kedua keberhasilan itu adalah kecermatan dan kelihaian teknik menulis.

 

Jadi, menurut saya, riset hanya bagian sekunder dari proses penulisan. Yang utama tetaplah cara kita bercerita, yang meliputi pengaturan plot, pembuatan dialog, pembangunan karakter, penyusunan narasi, dan seterusnya.

Tentu saja ada beberapa patokan saya pegang, dan saya berusaha sadari ketika mengolah hasil riset dan menjahitnya ke dalam cerita. Berikut tips yang saya bisa bagi:

 

Penuturan indrawi yang berimbang dan bervariasi

Kita cenderung bersandar pada deskripsi visual dan melupakan indra lainnya.  Bayangkan dirimu adalah duta besar yang harus memberikan laporan lengkap tentang sebuah dunia asing. Untuk tugas itu, kamu harus menjadi makhluk bercabang enam dan memberikan laporan dari masing-masing cabang. Bukan cuma yang terlihat, kamu juga harus tahu baunya, rasanya, teksturnya, bunyinya, dan apa perasaan/emosi yang timbul? Ketika kamu melakukan riset, aktifkan semua indramu. Cermati, catat, dan tuangkan itu. Di dalam naskah, tentunya kamu tidak perlu terus-terusan mendeskripsikan segalanya dalam keenam cabang (visual, bau, rasa, tekstur, bunyi, perasaan). Tapi, kamu harus melatih diri untuk rajin memeriksa cabang penuturan lain selain visual. Itulah yang akan membantu menghidupkan cerita kita. Penuturan yang multidimensi.

 

Bersiap membuang data

Tidak semua hasil risetmu akan terpakai. Sama seperti menghadapi ujian sekolah. Kita belajar bahan seratus halaman, ternyata soal di ujian cuma menanyakan bahan dari satu halaman saja. Sembilan puluh sembilan yang sudah kita pelajari tidak terpakai. Dalam riset fiksi, itu sering terjadi. Di Supernova Partikel misalnya, informasi teknis tentang fungi totalnya mungkin sekitar empat sampai lima halaman, tapi untuk menuliskannya saya membaca lebih dari empat buku tentang fungi yang tebal masing-masing bukunya sekitar 300 halaman. Apakah sia-sia? Tidak juga. Penguasaan kita terhadap sebuah materi akan mendorong kepercayaan diri dan kenyamanan kita saat menulis, meskipun yang terkomunikasikan ke pembaca hanya sekelumit.

 

Sebar data dengan efektif

Karena kita membaca riset dalam bentuk data atau reportase, kadang kita mengungkapkannya ulang dengan cara serupa saat kita memperolehnya. Menghindari info dump adalah tantangan besar dalam penulisan. Kita harus cermat untuk mengolah dan menyebar data supaya tidak terasa bagai “bom” bagi pembaca. Salah satu cara mujarab adalah dengan menjahitnya ke dalam dialog. Ketika sudah diolah menjadi dialog atau buah pikir karakter, data tidak lagi menjadi informasi yang datang dari si penulis, melainkan menjadi suara dan pengetahuan karakter. Hindari menjadi pemberi informasi. Biarkan tugas itu diambil oleh karakter cerita.

 

Cerita adalah tuan, lainnya hamba

Ini bisa jadi preferensi pribadi. Bagi saya, salah satu tolok ukur penulis yang baik adalah penulis yang mampu menjadikan ceritanya sebagai tuan. Kepentingan cerita konsisten menjadi lokomotif. Lainnya mengikut di belakang. Termasuk hasil riset. Artinya, kepentingan cerita harus selalu didahulukan. Sebagai penulis, mungkin kita ingin menunjukkan kemampuan bermetafora, menunjukkan pengetahuan kita yang mumpuni tentang ini dan itu, mempromosikan keindahan sebuah tempat, asyiknya melakoni sebuah profesi, dan seterusnya. Kita boleh-boleh saja memiliki agenda berlapis dalam berkarya. Bagi saya itu sah dan wajar. Tapi, dalam setiap upaya penyusunan paragraf, dalam setiap penciptaaan kalimat, tanyakanlah satu hal kepada diri kita sendiri: apakah yang saya tulis ini menggerakkan cerita untuk terus maju? Semua yang data dan informasi yang kamu masukkan, harus punya kontribusi terhadap pergerakan plot. Jika tidak, maka tidak ada gunanya. Hal ini sulit dilakukan, terus terang saja. Saya pun masih terus belajar memilih, memilah, dan menekan ego saya sebagai “dalang”. Menempatkan kepentingan cerita sebagai lokomotif adalah hal yang amatlah penting untuk kita sadari dalam proses menulis.

 

Kembali ke pertanyaan metode. Jadi, mana yang harus kita lakukan: observasi langsung, wawancara, riset internet, atau riset pustaka? Semuanya baik dan semuanya boleh dilakukan jika memang mampu dan memungkinkan. Yang penting bukanlah berapa banyak data kita cerap, tapi memilah mana yang relevan dan bagaimana mengekskusinya agar larut dalam cerita. Harus berapa lama kita melakukan riset? Durasi sesungguhnya bukanlah penentu, tapi efisiensi. Jangan sampai kita berlarut-larut dalam proses riset hingga akhirnya tidak mulai-mulai atau tidak kelar-kelar (riset adalah alasan terseksi untuk menunda menulis). Buat deadline untuk penyelesaian manuskrip dan patuhi. Waktu untuk riset harus mengikuti perhitungan deadline manuskrip. Bukan sebaliknya. Ingat siapa yang menjadi lokomotif.

 

Pergi langsung ke satu tempat atau cuma numpang tanya ke Mbah Gugel, observasi sebulan atau setahun, yang menjadi penentu keberhasilan riset kita bukan semata-mata metode dan durasinya, melainkan  cara kita menuturkan hasilnya kepada pembaca. Tujuan akhir kita melakukan segala macam riset bukanlah untuk menjadi jagoan riset, tapi untuk menjadi pencerita yang jagoan.

 

12 Comments

  • Yustiyadi

    09.12.2017 at 14:24 Balas

    Hatur nuhun pisan kepada Mak Suri atas pencerahannya. Beberapa tahun lalu, saya membuat naskah novel Science Fiction mengenai Teorama Ruang Waktu. Saya sudah melakukan riset ke beberapa tempat, bertanya kepada ahli dan menuliskannya dengan menggunakan mind mapping. Namun, saya hendak menanyakan ke Mbak Dee apabila dapat saya berkonsultasi naskah. Waktu itu, kalau gak salah saya pernah emailkan. Judulnya The Assasination of Time. Hatur nuhun.

  • Jun Hendra

    07.12.2017 at 20:47 Balas

    Saya terkendala dengan teknik untuk mengolah semua data riset yang kita kumpulkan sebagai bahan/fondasi cerita. Setelah googling, beberapa penulis menggunakan teknik yang berbeda-beda, yang paling sering digunakan adalah indeks card atau flash card. Teknik ini juga lazim digunakan oleh penulis skenario film, karena bisa mengatur plot dan alur cerita. Tapi saya masih kesulitan mempraktekkan teknik ini. Untuk mba Dee sendiri, apakah menggunakan teknik ini juga ? Atau ada cara lain yang lebih praktis tapi efisien bagi yang bermasalah dengan pengelolaan data riset untuk fiksi ?

    • Dee Lestari

      08.12.2017 at 11:53 Balas

      Saya rasa itu dua hal yang agak berbeda, antara menyusun plot dan mengolah hasil riset. Kalau menyusun plot bisa macam2, dari mulai membuat scene board (dan pakai card), mind map, atau membuat outline chapter. Tiga2nya sudah saya coba. Tiga2nya memudahkan, tergantung kecocokan masing2. Kalau board lebih tactile, mind map lebih praktis, outline chapter nantinya bisa dipakai untuk memudahkan pekerjaan editor di penerbit. Kalau pengelolaan data untuk riset saya rasa tempatnya bukan di penyusunan plot (yang lebih ke penyusunan peristiwa) melainkan saat kita menuliskan cerita itu sendiri. Jadi isu utamanya adalah “peleburan”, bukan penyusunan. Bagaimana kita bisa meleburkan data yang kita punya ke dalam narasi dan dialog. Patokan utamanya sih satu, data yang kita pakai itu harus punya fungsi menggulirkan cerita, hati-hati (atau batasi dengan sangat) dengan data yang sifatnya hanya informasi tapi tidak berkontribusi pada pergerakan cerita.

  • ratr

    07.12.2017 at 13:49 Balas

    Membaca tulisan ini, saya jadi agak tercerahkan. Beberapa bulan belakangan ini saya punya cita-cita pingin nulis novel. Tapi karena lebih banyak baca buku nonfiksi (nulis pun selama ini lebih banyak di genre nonfiksi), saya jadi “terjebak” di stage riset ini. Core cerita sudah jelas tapi eksekusinya gak kelar-kelar karena sering berubah saat menemukan referensi yang agak kontradiktif dengan ide awal. Sepertinya saya memang harus banyak belajar untuk lebih membebaskan mindset yang selama ini selalu mengacu pada referensi.
    Maaf jadi curcol, hehehe.
    Terima kasih banyak untuk tulisan ini, Mbak Dee. ❤

    • Dee Lestari

      08.12.2017 at 11:48 Balas

      Good to know! Senang jika bermanfaat. Semoga lancar untuk tulisannya.

  • Tami

    06.12.2017 at 18:53 Balas

    Apa kita bisa objektif menilai karya kita sendiri saat dibaca ulang dan rewriting? Apa ada tekniknya? Saya malas meminta orang terdekat membaca dan menilai naskah saya karena kritik mereka berbeda semua dan malah membuat saya bingung. Sekian saya harap mbak membalas

    • Dee Lestari

      07.12.2017 at 12:41 Balas

      Saat mengedit setelan kita memang berubah, bukan lagi berkreasi tapi lebih mengecek dan menilai. Hanya saja tidak lazim jika penulis menyunting tulisannya sendiri untuk mencapai draf final. Biasanya tahap swasunting tetap akan diteruskan oleh editor profesional. Tema editing harus dibahas terpisah, kurang tepat kalau di artikel ini. Opini orang pasti akan selalu berbeda-beda, dan belum tentu sesuai dengan kebutuhan penyuntingan. Jadi, saran saya, kalau memang serius ingin diterbitkan, harus mengontak editor lepasan untuk mengecek naskah kita. Kalau naskah sudah diterima penerbit, otomatis akan disediakan editor untuk menyunting naskah kita.

  • Andi Ardhan

    02.12.2017 at 20:54 Balas

    Thanks mba dee….

  • Muhammad Nuchid

    02.12.2017 at 20:30 Balas

    Dalam karya tulis nonfiksi, biasa ditemukan pencantuman sumber dalam “daftar pustaka”. Bahkan ada yang sampai begitu detailnya hingga menuliskan nomor halaman di setiap pendapat pada “catatan kaki”. Untuk karya fiksi, bagaimana cara mempertanggungjawabkan hasil riset tersebut, terlebih seumpama pendapat seseorang dalam sebuah buku, dijadikan pendapat salah satu tokoh kita dalam novel, misalnya.
    Semoga Mbak Dee berkenan menjawab. Terima kasih.

    • Dee Lestari

      04.12.2017 at 10:19 Balas

      Untuk fiksi tidak ada keharusan seperti itu, karena bagaimana pun fiksi punya sifat yang sama sekali berbeda dan tidak harus ada pertanggungjawaban faktual (meski bisa saja nantinya dikritisi jika ada yang tidak tepat, misalnya. tapi tidak ada kewajiban bagi penulis fiksi untuk memperbaiki/merevisi karena dia tidak bertanggungjawab kepada institusi tertentu). Dalam fiksi, tugas penulis lebih ke menulis cerita semenarik mungkin, bukan sefaktual mungkin.

  • dipa wijaya

    02.12.2017 at 18:00 Balas

    kalau mba dee sendiri biasanya itu riset sambil menyusun kerangka cerita kah atau riset mendalam dulu baru kemudian menyusun kerangka cerita? terima kasih sebelumnya

    • Dee Lestari

      04.12.2017 at 10:15 Balas

      Tergantung waktu yang saya punya. Pengalaman dari yang sebelumnya2 sih, riset “mendalam” itu punya risiko penundaan di proses menulis. Jadi biasanya saya riset untuk sampai fondasi saja, ketika cerita berkembang maka akan ada pengembangan riset baru, dan bisa saja saya lakukan ekstra riset setelah manuskrip selesai, untuk melengkapi/merevisi apa yang saya tulis sebelumnya.

Post a Comment