#SerialSurel: Kerangka Bukanlah Penjara

Nama saya Wis. Baru-baru ini, saya berniat untuk menulis sesuatu. Tapi, saya bingung dengan aturan-aturan menulis. Kak Dee mengatakan, “Prinsip saya dalam bercerita adalah penulis harus seminim mungkin ‘tampil’. Karakterlah yang harus muncul di depan.” Di sumber lain yang saya baca, ada juga yang senada dengan Kak Dee. Mereka menginginkan karakternya seperti hidup dan bertindak. Di tempat lain lagi, ada yang mengatakan kita perlu membuat outline atau kerangka cerita.

 

Nah, dengan membuat outline, bukankah takdir atau jalan cerita semuanya sudah di-setting? Kalau sudah di-setting, saya rasa karakter tak akan bisa bergerak atau hidup. Jika saya berpedoman pada karakter yang hidup, biasanya saya selalu menulis lepas tanpa kerangka.

 

Saya total bingung. Maklum, saya benar-benar tidak tahu menulis. Bisakah kita membuat kerangka dan karakter yang hidup (yang tidak lari dari kerangka yang kita buat) secara bersamaan? Saya sangat berharap dijawab setengah mampus, karena saya belum menemukan jawaban di mana pun. Sungguh, saya bukan malas mencari, Kak. Sudah saya coba cari di mana-mana. Tolong dibalas.

 

 

. . . . .

 

Hai Wis yang sedang bingung,

 

Kemampuan menulis diasah secara bertahap dan juga dipahami secara bertahap. Jika kamu benar-benar baru mulai mengeksplorasi dunia menulis, saya sarankan tidak usah menghiraukan segala macam aturan. Menulis saja semaumu. Saat saya memberi workshop, di sesi awal saya selalu meminta para peserta untuk mencoba menulis mengalir. Dalam lima menit, saya mengharuskan mereka tidak memikirkan aturan, susunan kalimat, tata bahasa, salah tulis, dan seterusnya. Benar-benar bebas.

 

Inti dari latihan seperti itu adalah pelemasan otot-otot menulis, ibarat orang yang bersiap olahraga. Kalau kamu hendak menulis cerita pertamamu, anggap kamu sedang uji coba lari keliling taman mungil sambil menikmati pemandangan. Syukur-syukur berhasil satu keliling, kalau tidak, besok kamu coba lagi. Tapi, kalau kamu tiba-tiba ingin ikut lomba maraton, tentu saja modal pemanasan otot dan sekali dua kali lari santai keliling taman tak lagi cukup. Kamu jadi harus tahu benar teknik dan modal apa yang dibutuhkan untuk berlari secara efisien. Kamu jadi harus rutin berlatih, rutin, dengan target yang jelas.

 

Jadi, perbanyak uji coba sajalah dulu. Jangan sampai segala macam aturan malah menghambatmu untuk memulai karena takut salah. Semakin sering kamu menulis, kamu akan paham dan peka apa saja yang menjadi kesulitan dan tantangan dalam prosesnya. Kamu jadi mulai punya tuntutan pada dirimu sendiri untuk menulis dengan standar tertentu dan mulai punya gambaran bagaimana cara mencapainya. Barulah aturan-aturan yang kamu baca akan punya makna dan kegunaan.

 

Kamu juga akan tahu bahwa karakter yang hidup tidak ada hubungannya dengan membuat kerangka atau tidak. Saya tidak selalu menulis dengan kerangka. Untuk puisi, prosa pendek, cerpen, bahkan novelet yang di bawah 30.000 kata, saya masih berani mengandalkan struktur dalam benak saya saja. Tapi, jika saya hendak menulis novel di atas 50.000 kata, saya mulai menemukan kesulitan kalau tidak dibantu kerangka tertulis.

 

Perlu dipahami bahwa ketika kita membayangkan sebuah cerita, otomatis tercipta bayangan struktur dalam kepala kita. Semacam “sketsa kira-kira”. Itulah yang kita pakai untuk apa yang kamu sebut “menulis bebas” tadi. Ada atau tidaknya yang namanya outline adalah masalah kita menuangkan kerangka dalam lamunan itu ke bentuk tertulis atau tidak. Jadi, yang dimaksud dengan cerita tanpa kerangka adalah cerita yang dibuat penulis mengandalkan panduan dalam benaknya saja. Tidak berarti di dalam benaknya tidak ada bayangan struktur sama sekali.

 

Bagi saya, manfaat dari menuangkan kerangka ke dalam bentuk konkret (ditulis, bukan cuma dilamunkan) adalah untuk menguji seberapa jauh kita mengenal cerita yang hendak kita tulis. Jangan-jangan, kita cuma tahu awal dan akhirnya saja, tengahnya buram. Dengan punya kerangka tertulis, kita memperjelas bagian-bagian yang buram agar kita punya semacam marka jalan ketika proses menulis dimulai. Kerangka adalah alat bantu untuk memetakan cerita bagi diri kita sendiri.

 

Kalau tulisan kita sudah rampung, pembaca tidak tahu, atau peduli, apakah tulisan kita dibuat memakai outline atau tidak. Yang akan mereka rasakan dan nilai adalah: cerita kita mengikat atau tidak, karakternya menarik atau tidak, jalinannya logis (dalam arti rapi dan sinambung) atau melenceng-melenceng. Itu semua perlu kita jaga, terserah mau menggunakan cara apa. Kerangka hanyalah alat bantu yang boleh digunakan atau tidak.

 

Sedetail apa kerangka tertulis itu? Ada yang membuatnya berupa rancangan bab. Di dalam bab, ada daftar adegan apa saja yang akan dimuat. Ada yang membuatnya sekadar awal, tengah, akhir dengan deskripsi singkat pada masing-masing bagian. Ada banyak teknik membuat outline yang bisa kamu temukan di luar sana. Tapi, sekali lagi, segala teknik itu baru bermakna jika kita tahu apa kegunaannya.

 

Lalu, bagaimana dengan karakter yang hidup?  Apakah artinya karakter yang hidup adalah karakter yang tahu-tahu menggerakkan tanganmu dan membuat cerita sendiri di luar dari kendali pikiran? Saya akan memasukkan fenomena itu ke dalam kategori kerasukan, bukan menulis kreatif. Jadi, jangan bayangkan bahwa karakter yang hidup artinya karakter yang bisa berontak begitu saja dari kesadaran kita dan menulis ceritanya sendiri.

 

Saya memaknai karakter yang hidup sebagai karakter yang punya keterhubungan kuat dengan pembaca. Pembaca bersimpati kepadanya, ingin terus mengikuti perkembangannya, dan dengan mudah menempatkan diri dalam sudut pandangnya. Pembaca merasa menjadi “dia” atau minimal berempati atas apa yang “dia” rasakan. Karakter semacam itu yang biasanya membuat pembaca tergila-gila, terkenang-kenang, terinspirasi, merasa sosoknya nyata bahkan bikin jatuh cinta. Singkat kata, karakter itu berhasil melampaui batasan sebuah buku. Dia berhasil hidup di dalam benak pembaca.

 

Bagaimana caranya membuat karakter seperti itu? Dengan desain, tentunya. Karakter yang terasa riil adalah karakter yang punya kekuatan dan juga ada kelemahan. Ia punya kebiasaan-kebiasaan, sebagaimana semua manusia adalah makhluk yang dibentuk oleh kebiasaan. Ia punya tantangan dan pertaruhan. Ketika pembaca membandingkan karakter di titik awal dan akhir cerita, dapat terasa jelas  ada transformasi yang terjadi. Itulah alasan utama kita rela mengikuti sebuah cerita,untuk menyaksikan proses perubahan. Berikan itu semua, maka ceritamu akan memiliki karakter yang terasa hidup.

 

Kerangka bukanlah penjara bagi karakter. Kerangka juga bukan dimaksudkan untuk memenjara penulis. Spontanitas dan kejutan akan selalu punya ruang dalam proses kreatif. Sering-seringlah mencoba dan niscaya kamu akan merasakan sendiri keajaibannya.

10 Comments

  • daniel yosa john

    30.11.2017 at 22:55 Balas

    dee my love..trully ahahaa

    serial supernova 15 tahun lalu mulai saya baca..saya selesaikan lengkap sampai IEP..
    serial supernova sudah banyak membantu jiwa saya menjangkau banyak sekali momen dan hal..
    yg membuat saya merasa jd org paling beruntung di dunia krn hal tsb..

    dan sekarang saya sedang mandu teman perempuan supaya melek..
    kasihan hidupnya, saya beranggapan dia layak menjangkau hal2 dan momen2 yg sudah saya alami..dan saya berharap dia jd org yg merasa paling beruntung seperti saya..
    terapi ‘buat melek’ saya ke dia..adalah saya suruh dia beli semua serial supernova dr kpbj s/d ILP..
    dan karena itu saya jd baca lagi juga kpbj..
    nah…yg mau saya sampaikan adalah..
    selagi baca lg kpjb (terakhir baca 2005), saya jd terbayang film supernova yg sudah saya tonton, banyak yang rusak ‘citra2 yg ada dalam otak saya’
    hancur pisan itu film, dgn akting fail, dan pemilihan pemeran yg serampangan..
    ganggu karya epic di buku nya..
    please my love… utk khusus nya serial supernova jgn lagi di buat film nya..
    supaya jgn rusak dan ganggu buku nya..
    boleh?
    kecuali martin scorsese atau nolan yg tangani..
    sekian.
    doakan temen saya melek yah

  • Nidya

    14.11.2017 at 23:13 Balas

    Bagaimana membuat cerita yang bahasanya ‘hidup’?

  • Ami

    12.11.2017 at 19:04 Balas

    Mbak Dee Lestari yang manis(hebat ya cantik dan cerdas jadi iri sama mbak :D) , saya penulis amatir yang sudah nulis fiksi dari SD hingga kini(kemaren saya sebagai pengisi waktu saja, sekarang saya baru sadar ini calling saya dan baru mulai seriusan dan akhirnya ketemu jalan buntu dari menulis untuk dibaca orang lain). Saya kebetulan mengirim naskah saya ke Bentang Pustaka dan lagi waiting tanggapan mereka. Sudah 8 kali saya kirim naskah dan ditolak terus. Saya jadi down. Menulis itu tidak tok bakat saja kan? Dan apa penulis itu kaya mbak, kalau bestseller? Berapa persen kemungkinan penulis amatir tembus bestseller? Tema bagaimana yang disukai penerbit? Bagaimana menjadi otentik? Saya kesulitan mengaitkan cerita dan cenderung meloncat-loncat, bagaimana cara mengatasinya? Yang riil nih. Saya naif mbak jadi terbawa-bawa film kalau kita bisa punya kehidupan mapan dan stabil dari menulis saja. Saya freak out dengan kenyataan dunia kerja dan merasa temperament saya cocoknya kerja jadi penulis fiksi. Apa saya bisa stabil ya? Omong-omong, saya lulusan jurusan Hubungan Internasional juga loh mbak, dan sepupu saya almamaternya Parahrayangan hehe

  • Faishal Digdoyo

    11.11.2017 at 09:19 Balas

    (Melanjutkan pertanyaan sdr Risang Asmorojati)
    Nah begitu sudah melakukan riset (seberapapun), gimana Kak cara yang efektif memasukkan hasil riset tsb secara pelan ke cerita tanpa membuat cerita jadi terlalu berat dengan riset, tapi tetap terasa kalau cerita itu tidak dibuat dengan otak kosong?
    Mkasih jwbannya Kak :))

  • Heri Chan

    09.11.2017 at 20:45 Balas

    Cerita yang terstruktur dengan baik, selalu menarik untuk dibaca. Tanpa kerangka karangan, seorang penulis bisa melantur ke mana-mana. Hal ini membuat tulisannya jadi jelek dan membosankan.

    Terimakasih, Teh Dewi, atas penjelasannya. Membuatku semangat lagi untuk ‘berproses’.

  • Risang Asmorojati

    19.10.2017 at 21:06 Balas

    Mba Dee Lestari yang baik, Saya Risang salam kenal. Saya ingin bertanya semoga berkenan. Saat ini saya sedang melakukan riset untuk Novel pertama saya, dan saya telah memutuskan untuk menunda menulis sampai riset saya selesai dan punya cukup amunisi untuk menulis.
    Saya mempunyai masalah, karena sampai saat ini saya kesulitan untuk menentukan sampai mana riset ini selesai, karena semakin dalam saya riset, justru semakin banyak yang saya tidak tahu dan semakin banyak hal baru yang saya temui dan ingin saya masukkan ke dalam cerita saya. Hal ini menjadikan saya tidak bisa berhenti untuk riset lagi, membaca lagi, dan seterusnya, sehingga saya masih menunda untuk menulis novel saya.
    Saya mengalami kebingungan tentang hal ini, bagaimana menentukan batasan dari riset kita? atau bisakah kita langsung menulis sembari masih melakukan risat? Mohon dibalas, Terima Kasih.

    • Dee Lestari

      26.10.2017 at 14:35 Balas

      Hai Risang.
      Topik Riset akan saya bahas di Serial Surel berikut. Nantikan ya!

  • Muhammad Padli

    19.10.2017 at 05:58 Balas

    Saya juga sedang belajar menulis, terima kasih penjelasannya mbak, sangat mencerahkan. 🙂

  • Ismail M

    17.10.2017 at 14:08 Balas

    kerangka menulis memang penting supaya tidak keluar dari jalur tema awal.. seperti saya menulis tentang artikel AC (air conditioner) saya tentukan dahulu kerangka tulisannya baru mulai bercerita sesuai kerangkanya..

  • Taufik Fadholi

    11.10.2017 at 19:00 Balas

    Ternyata kerangka diperlukan ya..
    Kalau menulis di blog sering langsung saja..
    Terima kasih utk tulisannya mbak.. nambah ilmu sekarang

Post a Comment