MenulisSehat3 (1)

Menulis Sehat Part 3: Nurturing the Software

Banyak hal tentang menulis yang kita ketahui betul. Kita bisa fasih menyebut aplikasi favorit dari mulai Word sampai Scrivener, font yang disuka dari mulai Arial hingga Baskerville. Saat dimintai tip, dengan sama fasih kita mewejangkan rajin membaca dan nasehat klasik lainnya. Namun, perjalanan menulis manuskrip tidak berhenti pada perangkat fisik dan intelektualitas belaka.

 

Bersentuhan dengan ide dan energi kreatif adalah proses dahsyat yang mampu mengubrak-abrik mental. Kita dituntut menjadi wadah bagi banyak karakter dengan banyak sifat. Kita menciptakan semesta bagi mereka hidup. Akibatnya, kita seolah menjalani hidup ganda; di realitas yang kita lihat, dan di sebuah dimensi internal yang punya daya isap luar biasa. Meski saya tampak duduk tenang sendirian, sesungguhnya saya sedang berada dalam pusat kegaduhan yang tidak bisa saya bagi pada siapa pun.

 

Benar, terkadang saya mewawancarai banyak orang untuk riset dan mengambil bahan tulisan dari interaksi sosial, tetapi ketika saya berhadapan dengan layar monitor dan mengetik maka saya berada dalam gelembung kesendirian. Writing is mostly solitary work, and it can be a lonely journey. Pada Bagian 1 dari rangkaian artikel Menulis Sehat, saya sudah menjabarkan risiko-risiko mental yang umum dihadapi penulis. Pada bagian ketiga ini, saya ingin berbagi “artileri” pribadi yang menjadi andalan saya.

 

Serupa dengan apa yang saya tulis di Bagian 2, prinsip dasar pemeliharaan mental penulis adalah membangun pilar penopang proses kreatif. Pilar-pilar tersebut esensinya merupakan “penawar” dari kesibukan menulis: jeda dan rihat. Pada tatanan fisik, hal itu lebih mudah dilakukan. Pada tatanan mental, sayangnya, sedikit dari kita yang tahu bagaimana caranya benar-benar berhenti dan beristirahat.

 

“Many of us know the comon first aid kit to mend our manuscript.

Many of us know the common formula to take care of our body,

yet often we know so little on how to take care of our mental health.”

 

 

Profesi suami saya adalah praktisi kesehatan holistik. Ia menangani bukan cuma masalah fisik, tapi juga psikis. Akibat sering mengamati dunia pekerjaannya, saya tersadar betapa berbahayanya kesehatan mental yang tak terurus. Tidak perlu kita bayangkan contoh ekstrem seperti yang berakhir di rumah sakit jiwa. Banyak dari kita hidup mengusung stres, luka, trauma, beban batin yang tidak kita sadari. “Deposit” itulah yang kemudian mempengaruhi keputusan dan bagaimana kita menjalankan keseharian.

 

Ibarat komputer yang sesekali perlu di-defrag agar kembali optimal, dan ibarat hunian yang sesekali perlu di-declutter agar kembali lapang, batin kita pun membutuhkan proses bersih-bersih. Meski bukan seorang penulis ataupun pekerja kreatif, dan tanpa perlu menjadi terapis ataupun spiritualis, berikut ini saya pilihkan beberapa keterampilan yang cukup praktis dan sederhana untuk dilakukan oleh siapa pun. Apa pun profesi Anda.

 

 

Meditasi

Meditasi adalah tradisi spiritual yang telah hadir ribuan tahun. Namun, riset saintifik dalam kurun tiga puluh tahun terakhir kian membuktikan manfaat meditasi bagi kesehatan fisik dan batin. Bersentuhannya meditasi dan sains berhasil membawa meditasi keluar dari konotasi agama, menghadirkannya dalam ranah sekuler yang membuatnya bisa diakses oleh semua orang, yang kini sering dikenal dengan istilah mindfulness.

 

MenulisSehat-3

 

Dari aspek kesehatan, meditasi berefek menurunkan inflamasi, menormalkan tekanan darah, bahkan menjaga volume otak dalam jangka panjang. Dari aspek mental, meditasi dapat menurunkan level stres, meningkatkan fokus, menajamkan proses berpikir. Secara personal, meditasi membantu saya untuk lebih peka dan jernih memahami diri sendiri.

 

Dari mana kita belajar meditasi? Dari pengalaman saya, cara terbaik adalah dengan mengikuti retret agar perubahan dan manfaatnya dapat dirasakan jelas. Kehadiran seorang guru atau pemandu akan sangat membantu meditator pemula. Pilihan terbaik kedua adalah dengan mencicipi manfaat meditasi dalam dosis kecil tapi rutin. Apps modern seperti Headspace atau Calm bisa memandu kita setiap hari dalam porsi singkat barang sepuluh menit saja. Dalam hal ini, retret meditasi intensif dapat dilihat sebagai program “defrag” tahunan, dan praktik harian menjadi “vitamin” yang memperkuat batin. Disebutkan bahwa meditasi selama 20 menit saja dapat menyegarkan tubuh dan mental Anda sama dengan tidur siang selama 1,5 jam.

 

Bagi Anda yang tertarik belajar melalui program retret, beberapa pilihan yang bisa ditelusuri antara lain: program Geming Hening Bening yang diadakan setahun sekali, program dari Bel Kedamaian dan Meditasi Mengenal Diri yang dilakukan beberapa kali dalam setahun, dan ada pula retret meditasi yang fokus kepada kesehatan dari Meditasi Kesehatan Bali Usada.

 

 

Bach Flower Remedies

Ditemukan pada tahun 1930-an oleh seorang dokter medis di Inggris bernama Edward Bach, Bach Flower Remedies (BFR) adalah set yang terdiri dari 38 botol remedy yang masing-masing berkorelasi dengan kondisi emosi yang berbeda-beda. Meski dibuat dari tanaman, BFR bukanlah minyak esensial atau aromaterapi. Bach Flower Remedies (BFR) bekerja di level vibrasi, dibuat menggunakan prinsip serupa dengan energy medicine seperti homeopati.

 

 

Begitu banyak kombinasi perasaan dan emosi yang datang silih berganti ketika saya menjalani proses menulis selama berbulan-bulan, dari mulai rasa malas, ingin menunda, tidak percaya diri, lelah, terlalu perfeksionis, merasa kewalahan, dan sebagainya. Botol demi botol BFR menjadi teman setia yang membantu menyeimbangkan beragam emosi yang kontraproduktif dengan proses menulis. Setelah memakainya bertahun-tahun, saya juga jadi lebih peka untuk merasakan kapan batin/mental saya perlu di-support BFR untuk kembali ke titik imbang.

 

Melalui konsultasi dengan praktisi BFR, Anda akan mendapatkan botol treatment berisi ramuan BFR yang bisa Anda pakai sekitar dua minggu. Di Indonesia saat ini sudah ada beberapa orang praktisi resmi BFR yang bisa Anda lihat daftarnya di situs ini.

 

Sistemnya yang simpel menjadikan BFR salah satu perangkat self-help yang mudah dipelajari. Idealnya, BFR memang ditujukan untuk memberdayakan siapa pun agar bisa menolong diri sendiri. Jika tertarik, Anda bisa mulai membaca-baca berbagai buku dan artikel di internet tentang BFR, atau ikut pelatihannya yang mulai rutin diadakan di Indonesia.

 

MenulisSehat-2

MenulisSehat-1

Ketika Anda sudah memiliki kit BFR dan menguasai ilmunya, Anda bisa menggunakannya untuk kebutuhan pribadi maupun keluarga dan orang-orang terdekat. Kit BFR memang belum dijual di Indonesia, kita bisa menitip teman yang ke luar negeri atau pada saat ada pelatihannya di Indonesia. Once you have the kit, you can use it for many years ahead.

 

 

Tapas Acupressure Technique

Diciptakan oleh seorang terapis/akupunkturis bernama Tapas Fleming, Tapas Acupressure Technique (TAT) adalah cara praktis menanggulangi trauma serta beban emosi dengan cara menggunakan tiga titik acupressure pada wajah yang dibarengi dengan serangkaian kalimat pemandu.

 

Metode TAT mendorong kita menghadapi emosi-emosi mampet dan pikiran-pikiran tak tuntas yang menggantungi sistem kita tanpa disadari. TAT tidak membutuhkan alat bantu eksternal seperti halnya BFR. Kita hanya perlu menghafal kalimat pemandu yang bisa kita ucapkan sendiri dalam hati, atau dibantu oleh seorang praktisi TAT. Di Indonesia sudah ada beberapa praktisi TAT, maupun kegiatan TAT mingguan di yang dilakukan dalam bentuk grup kecil.

 

Pelatihan TAT baik untuk penggunaan bagi diri sendiri ataupun sebagai praktisi profesional saat ini hanya diadakan oleh Klinik True Nature, infonya bisa dilihat di sini.

TATpose-Reza

 

Dalam kehidupan modern yang overdosis stimulan indrawi, mudah bagi kita mencari pelarian dari masalah. Alih-alih mengubur atau melupakan, ketiga metode yang saya bagi di sini sama-sama menggiring kita untuk menghadapi dan memahami diri lewat aktivitas mengamati. Karena itu, penting dicatat bahwa semua skill tadi bukanlah cara untuk melenyapkan emosi. Kita hanya dibantu agar tidak terjebak dalam kemelut emosi terlampau lama. Tidak ada manusia yang hidup bahagia terus-terusan. Mengutip kata Buddha, life is suffering. We cannot escape it. Saat ketidakbahagiaan datang, pada saat itulah diperlukan keterampilan untuk mengelolanya.

Sama halnya berkendara, alangkah baiknya bekal pengetahuan kita tidak sebatas tahu mana gas dan mana rem, tapi juga punya pengetahuan dasar mesin kalau tahu-tahu mobil kita mogok atau bagaimana cara mengganti ban kempis. Ketika pekerjaan yang saya pilih memiliki risiko tinggi di departemen mental, saya pun ingin memastikan saya punya perangkat support yang andal.

 

Bagai arakan awan di langit, berbagai bentuk dan karakter awan akan datang dan pergi. Demikian pula emosi dan pikiran dalam langit kesadaran kita. “Saya marah” berbeda dengan “saya merasakan amarah”. Namun, ketika kita tergulung oleh emosi dan pikiran, apa pun itu, kita sering keliru mengidentifikasikan diri kita dengan awan yang lewat, bukan langit yang menetap.

 

Semakin sering dan terbiasa kita mengamati ke dalam, sebagai pengamat kita pun akan semakin tajam dan peka. Keterampilan mengamati itu akan bermanfaat dalam keseharian kita, termasuk ketika berproses kreatif. Yang kita peroleh bukan hanya P3K batin, tapi juga peningkatan kualitas sebagai seorang penulis dan seorang insan.

 

“Sebelum menjadi penulis yang baik,

terlebih dahulu kita harus menjadi  pengamat yang baik.”

 

 

Baca bagian sebelumnya Part 1: Identifying the Malware dan Part 2: Nourishing the Hardware

 

2 Comments

  • Heri

    26.03.2017 at 18:36 Balas

    keren mbak sharingnya.
    Untuk menjadi seorang penulis yang hebat memang dibutuhkan latihan dan praktek. Tidak bisa secara instan langsung mahir menulis

  • Mukhsin Pro

    13.02.2017 at 12:14 Balas

    Makasih mbak sudah share.

Post a Comment