Adegan Dihilangkan: IEP – Part 2

Draf pertama pada dasarnya adalah bagaimana kita bercerita kepada diri kita sendiri. Dalam draf pertama, sambil menulis kita pun mencari bentuk penceritaan ide-ide abstrak kita ke bentuk yang lebih konkret. Biasanya, ketika cerita sudah semakin maju dan mendekat ke akhir, kita mulai punya gambaran lebih jelas tentang keseluruhan cerita kita dan bagaimana cara yang lebih strategis untuk menata informasi. Dokumen deleted scenes yang saya kumpulkan kadang-kadang berisi revisi adegan yang kurang lebih serupa dengan hasil akhir di buku tapi diungkapkan dengan cara berbeda.

 

Ada yang saya angkat untuk direvisi dan kemudian dikembalikan lagi ke naskah. Ada yang saya angkat untuk ditebar informasinya. Ada yang kemudian ditulis ulang dengan cara lain tapi intinya tetap sama.

 

Berikut adalah contoh-contoh adegan semacam itu yang diambil dari kumpulan Adegan Dihilangkan Supernova IEP.

 

. . .

 

[Adegan ini tadinya ada untuk menerangkan apa yang Bodhi lihat ketika pertama kali ia mengalami visual penuh sebagai seorang Peretas Kisi. Di buku asli, akhirnya saya bercerita dari sudut pandang Bodhi yang mengalami langsung. Namun, saya sempat membuat alternatif sudut pandang Alfa yang memakai alegori gua Plato]

 

“Jadi, yang dilihat orang-orang dengan penglihatan normal seperti aku ini apa? Ilusi? Kayak bayangan di gua Plato?”
“See? Jawaban sudah menunggu di depan matamu sejak lama. Tinggal butuh kondisi yang pas untuk melihatnya.” Kell bersandar santai di dinding.

Terlihat Kell memonyongkan mulutnya. Sementara Alfa masih tertegun dengan kening berkerut. Alegori gua Plato dari buku Politeia sudah dibacanya sejak baru jadi siswa di Hoboken dulu. Cerita tentang para tawanan yang seumur hidupnya dirantai dalam gua, leher mereka diikat dan hanya bisa melihat ke arah depan. Bagi mereka, apa pun yang mereka lihat di dinding gua adalah satu-satunya realitas yang ada dan nyata. Mereka tidak tahu ada permainan cahaya di balik punggung mereka. Mereka menontoni bayangan di dinding gua dan merasa sebagai yang paling mengenal alam semesta.

Salah satu tawanan bebas. Ia keluar dari gua dan terbutakan oleh sinar matahari. Ketika matanya beradaptasi, ia menemukan kenyataan yang menjungkirbalikkan persepsinya. Berbagai benda dan makhluk sebagaimana wujud aslinya. Bukan lagi bayangan. Tawanan yang bebas lantas kembali ke gua untuk melaporkan apa yang ia lihat kepada teman-temannya. Matanya harus kembali beradaptasi dengan kegelapan di gua.

Mendapati kawannya kesulitan melihat, para tawanan di gua pun menasihatinya agar tidak kembali ke luar karena terbukti telah merusak penglihatannya. Tawanan yang sempat bebas ini kemudian menceritakan kenyataan yang ia lihat di luar gua. Tak seorang pun bisa memahami apa yang ia ceritakan. Mereka bahkan mengancam tawanan satu itu. Memperingatkannya untuk tidak pernah membebaskan tawanan lain karena hanya akan merusak pemahaman dan penglihatan mereka. Mereka terus menontoni pertunjukan di dinding gua tanpa pernah tahu bahwa sepanjang hidup yang mereka saksikan hanyalah bayangan dari kebenaran.

“Darah dan daging ini, kenyataan tiga dimensi ini cuma proyeksi?” gumam Alfa sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Pertunjukan di saluran Bumi,” sahut Kell. “Ada banyak saluran lain. Tapi di sini salah satu yang paling seru.”

Seseorang menepuk bahu Alfa. Bodhi berdiri di sampingnya. Matanya berkaca-kaca. Tak lama, Alfa merasakan beban tubuh Bodhi di bahunya.

Di bahu Alfa, Bodhi menangis terisak-isak. “Andaikan kamu bisa lihat apa yang kulihat,” bisiknya parau.

 

. . .

 

[Percakapan antara Bodhi dan Mpret, di Elektra Pop – akhirnya diangkat karena keterangan yang mirip sudah muncul di tempat lain]

 

“Portal itu ada di mana?” tanya Bodhi.

“Mana gua taik.”

“Serius, Mpret.”

“Pokoknya kalau Liong mangap, kita nurut. Begitulah hidupku dua tahun.” Mpret lalu menyibak kerumunan penongkrong di tempat makan.

 

. . .

 

[Ini adalah versi awal adegan di pesawat saat Kell dan Alfa terbang dari New York ke Jakarta. Versi di buku saya jadikan lebih singkat dan informasinya saya tebar]

 

Kell langsung memencet tombol panggilan pramugari.

Tangan Kell tiba-tiba dicengkeram kuat-kuat. “Oh, come on. It’s just one glass, man… hei, kamu kenapa?” Kell bertanya ketika melihat mata Alfa membelalak, sebelah tangannya memegang dada, sebelahnya lagi mencengkeram tangan Kell.

Alfa seperti kehilangan kemampuan untuk bersuara. Matanya berkedip-kedip dalam keadaan melotot, napasnya tertahan.

Pramugari yang menghampiri bangku mereka langsung panik melihat pemandangan itu. “Pak, kenapa, Pak?” tanyanya kepada Alfa.

Alfa menatap pramugari itu beberapa saat dan tiba-tiba ia merasakan himpitan di dadanya melonggar. Aliran udara kembali mengalir dan Alfa mengembuskan nafas lega.

“Bapak baik-baik?” Pramugari itu bertanya lagi. “Ada yang bisa saya bantu?”

“He just needs a glass of champagne. Thank you.” Kell menyambar.

Alfa buru-buru mengangguk. Meski ragu, akhirnya pramugari itu meninggalkan mereka dan kembali dengan segelas sampanye. 

 Alfa mencicip sedikit dan langsung mengernyit. “Kayak soda rasa tuak.”

“Kamu tadi kenapa?” Kell bertanya.

“Dadaku tadi mendadak sesak. Seperti… ada yang menyedot… kuat sekali.”

“Kamu punya riwayat sakit jantung?”

“Sama sekali nggak.”

“Then I bet my ass it had something to do with Asko, or your bond.”

“Memangnya kenapa?”

“Kamu orang pertama yang masuk ke kandimu, kan? Berarti kamu juga orang pertama yang membangun jaringan telepatis dengan tempat itu dan teman-temanmu. Semakin sering kamu masuk, ikatan itu akan makin kuat. Sensasi-sensasi tubuh semacam itu adalah alarm yang harus kamu curigai.”

 Alfa terdiam lagi. Ia bisa merasakan sapuan di tulang belakangnya, seperti angin mendesir di dalam tubuh. “Kell. Ada yang tidak beres dengan Asko. Aku tidak tahu apa. Aku harus masuk lagi ke sana… kalau aku masih bisa.”

 “Kalden sudah mentransfer semua informasi peristiwa yang terjadi waktu kalian bersama. Aku tahu soal insiden sunyavima, aku tahu soal Bintang Jatuh, aku tahu konstruksi Asko semakin labil. Tapi, meski kandimu melemah, kamu masih punya kesempatan masuk.”

“Bagaimana kalian bisa yakin? Aku takut merusaknya lagi.”

“Karena…” Kell menahan sejenak jawabannya, “kami dapat informasi, ada anggotamu yang lain yang sudah berhasil masuk. Akses mereka positif. Dan, setiap akses yang positif akan menstabilkan Asko. Bisa dibilang, sebagian kerusakan akibat aksesmu yang terakhir sudah sembuh.”

“Jadi, aksesku yang terakhir itu negatif. Begitu?”

“Alfa. Tak terhitung berapa kali Sarvara menjebol masuk ke dalam kandi dan menghancurkannya sekali jadi akibat ada Peretas-Peretas yang tertipu lalu menyerahkan akses mereka. Tak terhitung berapa kali kami mencatat para Peretas yang menghancurkan kandi mereka sendiri tanpa mereka sadari. Semua itu kami sebut akses negatif.”

“I can’t help it. I don’t trust her. The Falling Star,” gumam Alfa. “Kamu tahu sesuatu tentang dia? Dr. Kalden tidak bisa kasih info apa-apa. Mungkin kamu bisa.”

Kell sejenak melemparkan pandangannya ke jendela. Tersirat keraguan dalam suaranya. “Sebagai Peretas, ada hal-hal yang memang harus kamu cari sendiri jawabannya. Tapi, cukup dengan logika pun kamu harusnya sudah paham. Tidak ada yang bisa masuk ke kandimu selain anggota gugusmu sendiri. Bintang Jatuh bukan bagian dari gugusmu. Artinya, ada yang menembuskan dia masuk ke sana.” 

“Aku juga sudah berpikir ke sana, Kell. Masalahnya, itu… itu tidak mungkin. Aku orang pertama yang masuk dan dia sudah ada di sana duluan sebelum aku.”

“Tembusnya Bintang Jatuh di Asko pasti berdasarkan perjanjian antara dia dan salah satu anggota gugusmu. Nah, kapan perjanjian itu dibuat? Dengan siapa? Untuk apa? Jawaban itu tidak ada di kami.”

 

. . .

 

Dengan membagi adegan-adegan dihilangkan ini, selain untuk kangen-kangenan dengan semesta Supernova, saya juga berharap teman-teman di luar sana yang baru memulai menulis dapat melihat bahwa proses menulis tidak selalu proses yang sekali jadi. Revisi, perbaikan, termasuk membuang adegan dan kerja keras kita berhari-hari, adalah hal biasa. Kamu bisa baca lebih lengkap tentang perjuangan draf pertama di artikel ini. Buat kamu yang ketinggalan baca adegan percakapan Mamak dengan Alfa tentang Nicky Evans bisa buka artikel sebelumnya.

 

Jangan berkecil hati dengan proses yang terasa sulit dan makan waktu. Ketika ada bagian-bagian yang terpaksa dihilangkan dari buku, pembaca boleh jadi tidak akan pernah menikmatinya, tapi kerja kerasmu akan selalu bersamamu dan tetap menjadi milikmu.

3 Comments

  • Khairil Azhar

    16.10.2017 at 19:04 Balas

    Ketika mbak Dee mengingatkan kembali para pembaca dengan merilis Kepingan Supernova, akan luar biasa sempurna apabila mbak Dee merilis “Omitted scenes from Supernova’s”.

  • Galih Setio Utomo

    22.08.2017 at 20:17 Balas

    Saya suka menulis, ya, cuma kesenangan. Pernah berpikir untuk kirim tulisan ke penerbit, malah sudah saya coba kirim. Tapi, saya berpikir kembali, “apa layak ini terbit?” Meski pun penerbit menyetujuinya. Tulisan kak Dee, buat saya berpikir lagi untuk lebih selektif menulis tentang hal. Kalau memang dianggap ndak perlu ya ndak usah dipublikasikan. Emang sih kerja keras nulis tentang hal biar gak keliatan sia. Namun, menulis bukan buat pamer. Kita yang tahu kita menulis apa. Konsep. Konsep. Konsep.

  • islia dewi yuanita

    20.08.2017 at 21:38 Balas

    tidak sabar untuk membaca Adegan yang Dihilangkan: IEP part 3

Post a Comment