Adegan Dihilangkan: IEP – Part 1

“Kill your darlings” adalah salah satu nasihat yang paling berguna dalam penulisan sekaligus yang paling sukar dilakukan. Ketika adegan, karakter, narasi, sudah dibuat dengan darah dan air mata, menghapusnya akan terasa seperti menyia-nyiakan waktu dan kerja keras kita, bahkan terasa seperti kemunduran. Terutama jika kita sudah telanjur menyukai apa yang kita kerjakan. Tapi, terkadang menghilangkan bagian tertentu adalah hal terbaik (dan perlu) yang bisa kita lakukan untuk keseluruhan cerita.

 

Ada banyak faktor yang melatari pilihan seorang penulis untuk melenyapkan sebuah adegan. Biasanya karena plot yang terjadi tidak lagi sesuai dan tidak lagi mampu mengakomodir adegan atau karakter tertentu. Dalam proses membuat novel, di separuh perjalanan biasanya saya sudah mulai memiliki “tabungan” adegan dan dialog yang tak terpakai. Selain manuskrip, biasanya ada dokumen lain yang pararel terbuka di komputer, yang saya juduli “Omitted Scenes/Cuts”. Seiring dengan perampungan manuskrip, Omitted Scenes/Cuts ini ikut bertambah gemuk. Apalagi ketika proses penyuntingan.

 

Ketika nanti manuskrip diperiksa ulang lebih teliti, bisa saja beberapa bagian yang sudah dihilangkan kembali diperlukan. Karenanya keberadaan dokumen Omitted Scenes/Cuts ini penting bagi saya. Tempat pembuangan yang sama kadang bisa menjadi semacam tempat penyimpanan, atau setidaknya, tempat kenangan.

 

Itulah yang terjadi ketika beberapa hari lalu saya iseng membuka salah satu dokumen dari folder manuskrip Supernova 6: Inteligensi Embun Pagi. Saya menemukan adegan-adegan yang sebetulnya saya sukai, tapi terpaksa saya angkat karena tidak lagi relevan dengan alur cerita yang saya pilih. Untuk alasan sentimental, lewat blog ini saya memutuskan untuk membagi beberapa deleted scenes itu dengan Anda semua.

 

Berikut ini adalah adegan tereliminasi yang menjadi favorit saya. Saya membuatnya ketika masih membuka opsi kehadiran Nicky Evans di Indonesia berbarengan dengan hadirnya Ishtar Summer. Saya sempat ingin menghadirkan ketegangan di pihak Alfa Sagala ketika dua perempuan yang dekat dengannya tiba-tiba muncul pada saat yang bersamaan.

 

Nicky Evans adalah karakter pendukung di Gelombang yang mencuri perhatian pembaca. Jelas diungkapkan bahwa Nicky menyukai Alfa. Sementara Alfa, dibayang-bayangi kenangan kehidupan lampau dan perasaannya yang kuat terhadap Ishtar, plus pengalamannya yang minim menghadapi perempuan, berada di zona abu-abu. Ketika dua perempuan itu ada secara bersamaan, saya membayangkan Alfa dipaksa mendefinisikan perasaannya. Nicky, adalah representasi cinta yang lugu, yang lebih platonik, lebih dekat ke keseharian, tidak punya konflik kepentingan. Ishtar, adalah representasi cinta yang dalam, sarat hasrat, kompleks, penuh konflik.

 

Namun, seiring perkembangan plot, saya merasa hadirnya Nicky Evans di Indonesia menimbulkan banyak simpul terbuka yang ketika nanti harus saya tutup akhirnya menjadi beban bagi jalan cerita yang sudah sedemikian padat. Saya juga merasa fokus IEP bisa berkurang ketajamannya dengan menghadirkan konflik cinta Alfa dengan karakter yang secara inheren bukanlah karakter penentu bagi plot besar IEP. Berbeda dengan Zarah dan Gio, misalnya, yang percintaan mereka memang krusial sebagai penentu jalan cerita. Nicky adalah salah satu penentu di Gelombang, tapi bukan di IEP.

 

Nevertheless, Nicky Evans is one of my favorite supporting characters. Demikian pula Sondang br. Gultom, alias Mamak. Imagining the interaction between them is a pure joy. But, sometimes, as the experts said (and they’re right!), we need to mercilessly kill our darlings.

 

. . .
 
(Adegan ini diawali dengan percakapan antara Bodhi dan Alfa, di rumah suaka)


“Aku sudah nggak bisa ngomong lagi.” Alfa memalingkan muka dari ponselnya yang berkedip-kedip menampilkan tulisan MAMAK. 

“Ya, sudah. Kita diamkan saja. Nggak usah diangkat.”

“Dia nggak bakal berhenti telepon.”

“Jadi, aku harus ngomong apa?”

“Apa saja. Aku rapat. Lagi main bola. Lagi berak. Terserah.”

Bodhi menerima panggilan itu dengan nada ragu, “Halo, eh, saya temannya. Alfa lagi… tidur.” Bodhi menjauhkan ponsel itu sedikit dari kupingnya. “Ya? Oh. Oke. Oke. Nanti saya sampaikan. Terima kasih kembali.” Bodhi menyerahkan ponsel itu kembali kepada Alfa. “Ibumu titip pesan, tolong telepon dia begitu kamu bangun. Dia cuma mau tanya, kenapa pacarmu ada dua.”

Alfa menganga. “Dua? Apa-apaan, sih….” Sambil menggerutu, Alfa menelepon balik ibunya. “Mak? Sudah bangun aku.”

“Mana pernah kau tidur jam segini? Kau pikir Mamak-mu bodoh?” balas ibunya.

“Ada apa, Mak?” 

“He, jangan mentang-mentang sukses jadi brengsek sifatmu. Kau punya pekerjaan baru, tak beri tahu kami. Kau pulang ke Jakarta, tak beri tahu kami. Kau sudah punya pacar cantik, masih juga tak puas kau. Kau pacari pula perempuan lain. Pantas kau tak mau langsung kukawinkan.”

“Pacar yang mana lagi, Mak?”

“Siapa itu si Nicky?”

Hanya ada satu Nicky dalam hidupnya. “Evans? Nicky Evans?”

“Tak tahu aku boru apa dia.”

“Itu nggak mungkin, Mak. Bisa ketemu di mana sama dia?”

“Barusan datang ke rumah! Ngobrollah dia sama si Eten. Jadi tahulah dia kalau kau ke kampung. Langsung mau nyusul kau, katanya.”

Alfa harus meyakinkan dirinya sekali lagi bahwa musibah besar ini tidak betulan terjadi. “Kayak apa mukanya, Mak? Rambut pendek? Mata biru? Pirang?”

“Ingat kau boneka plastiknya si Joice anak Amangboru-mu? Mirip itulah. Tapi, suaranya besar. Macam orang mar-sigaret.”

“Eten kasih tahu alamat kita?”

“Mana perlu di kampung kita pakai alamat? Semua tahu siapa kau! Si Eten sudah kasih alamat si Martin. Biar si Martin yang antar dia nanti.”

Lutut Alfa langsung lemas.

“Eh, Chon. Bikin dululah begini. Kulihat tadi si Eten suka sama dia. Daripada kau punya pacar dua, kasihlah satu buat abangmu. Kau sama si Miranda. Si Eten sama si Nicky. Bicaralah nanti kau sama si Nicky. Siapa tahu mau dia sama abangmu, kan? Ada miripnya sikit kau sama si Eten, kan?”

Alfa memejamkan mata. Langit seperti runtuh menimpa kepalanya. Eten tidak ada mirip-miripnya dengan dirinya, tapi bukan itu pokok permasalahannya. Ini semua seharusnya tidak terjadi. Kalimat ibunya masih berentet terdengar, Alfa tidak lagi menangkap satu kata pun. Jempolnya memencet tombol merah. Lunglai, ia terduduk.

 

. . .

 

Semoga adegan di atas bisa sedikit mengobati kangenmu kepada sosok Nicky Evans, Mamak, dan menyuburkan imajinasi kita untuk berandai-andai jika pertemuan itu terjadi. Nantikan bocoran deleted scenes berikutnya. Salam!

13 Comments

  • sondy amur pananjung

    04.08.2017 at 08:44 Balas

    aaahhhh i want more,,, hiksss….

  • Abdi

    04.08.2017 at 07:51 Balas

    Baca percakapan antar Mamak dan Alfa kok jadi inget temen-temen Batak di kampus dulu =))

  • Rani Amelia

    03.08.2017 at 23:36 Balas

    Mbak Dee ini emang jago bgt deskripsi maupun bikin skenario percakapan. Tiap kali saya baca dialognya Mamak Ichon ini selalu serasa sang Mamak ini lg ngomong langsung di telinga saya dgn suara dan logat khas mamak2 batak 😁
    keren kali kakak satu ini 👍🏻👍🏻👍🏻
    can’t wait for another deleted scene!!!

  • Siti Wardah

    03.08.2017 at 20:19 Balas

    Baru baca eh udah abis, mba dee tambah lagi ceritanya, ga bosen” kalo baca novel tentang supernova, ditunggu adegan dihilangkan selanjutnya ^^

  • Ardian

    03.08.2017 at 18:50 Balas

    I’m longing the IEP….mungkin gak mba bikin IEP beda versi…another side of IEP

  • warnengsih

    03.08.2017 at 15:35 Balas

    Duh, jadi kangen bang Ichon sama Mamak….

  • Aninditya

    03.08.2017 at 15:33 Balas

    Bagian fav percakapan mamak yg kocak pakai logat batak nya 😂

  • Ratih Puspita

    03.08.2017 at 15:00 Balas

    Membayangkan scene ini, kalo kata orang jawa..marai ngekek (bikin ngakak)

  • MuhamadRamadhan

    03.08.2017 at 14:19 Balas

    #teamnicky

  • MS Wijaya

    03.08.2017 at 13:55 Balas

    Wadawww kangen berat aku sama mamak 😍😍😍

  • Badia Tarigan Silangit

    03.08.2017 at 13:22 Balas

    Wow dialog mamak ini penuh dengan joke batak hahahaha

  • Nugroho Adi Pramono

    03.08.2017 at 13:08 Balas

    Khas Sondang br Gultom, 😀

    Masih terngiang-ngiang sambil nyengir saat baca tentang ortu “Miranda”
    “Sudah mati dia kan? Dulu katanya sakit? masak belum mati juga”. 😀

Post a Comment